Negeri Mimpi

Tangga




Enggak kerasa blog ini udah jalan 1 setengah tahun. Dan setengah tahunnya justru semi-hiatus. Apa itu semi hiatus? Entahlah. Itu cuman kata halus untuk menyindir blogger yang jarang aktif sepertiku. Hehe.

Enggak kerasa juga aku akhirnya lulus SMA. Sebelum benar-benar lulus, aku diharuskan untuk menjalani masa pengadian selama 1 tahun sebagai bentuk lain mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama sekolah. Kebetulan aku menjadi bagian dari tenaga pengajar di sekolah sendiri. Sedikit menguntungkan karena aku memang belum memikirkan dan menyiapkan rencana studi lanjut setelah lulus SMA. Kerugiannya adalah aku jadi belum move on dari SMA dan ingin masuk kelas lagi. Melihat para guru semasa SMA berjalan menuju kelas mereka membuatku ingin ikut masuk kelas juga.

Berbicara tentang kelas, salah satu kelas dari sekian banyak kelas yang paling membuat ngantuk adalah ketika kamu enggak minat belajar sama sekali tapi guru kamu tetap ngajar tanpa variasi. Solusinya, kalau enggak niat belajar, ya enggak usah masuk sekolah. Tapi mabal dari kelas bukan pilihan bagus untuk siswa tingkat akhir yang harus mempertahankan reputasi agar bisa dibantu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang paling tinggi.

Berhubung kelasku sudah menyelesaikan kitab rujukan kami untuk salah satu pelajaran, kami kompak untuk menggelar kelas kosong meski sang guru sudah stand by di depan kelas. Pak guru yang pasrah melihat sebagian kecil muridnya di kelas ini tumbang hanya bisa mengajak murid yang masih duduk tegap untuk ikut berkelana di alam mimpi juga.

"Ustadz." Salah satu temanku memanggil. Pak guru mendongakan kepalanya, mencari sumber suara.

"Denger-denger kurikulum Indonesia diubah lagi ya, tadz?" Tanya temanku tersebut.

"Diubah jadi seperti apa?" Pak guru balik bertanya.

"Enggak ada sistem penjurusan gitu." Ucapkan temanku. Pak guru mangut-mangut.

"Terus gimana kalau enggak ada penjurusan?" Pak guru balik tanya.

"Kurang paham juga, sih, tadz." Temanku menyudahi topiknya. Yang lainnya saling pandang, sama-sama tidak tahu.

"Katanya siswanya bisa bebas pilih mata pelajaran," ungkap temanku yang lain.

"Kayak sentra?" Yang duduk di paling belakang bersuara.

"Bisa jadi," jawabnya.

"Jadi nanti mereka bisa masuk kelas mana aja sesuai minat."

"Terus jadwal pelajarannya gimana nanti?"

"Katanya bakal lebih susah juga materinya."

"Sekolah kita bakal kayak gitu juga, enggak, tadz?"

Dan pertanyaan-pertanyaan acak lainnya.

Karena penasaran, Pak guru pun inisiatif mencari sendiri kurikulum baru apa yang kita maksud.

Setelah melewati keheningan beberapa saat, Pak guru akhirnya menarik kesimpulan yang sayangnya aku tidak ingat apa yang beliau ucapkan. Beliau mengeluarkan opini dan pandangan beliau soal perubahan kurikulum tersebut, kemendikbud, dan pemerintah. 

"Tapi, sekolah harus mengajarkan kepada muridnya seenggaknya 3 bahasa," lanjut beliau. "Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Mandarin."

Opini tersebut harus tetap berlanjut dan berkembang mengingat sebagian besar murid di kelas memilih untuk berpangku tangan.

"Kenapa, tadz?" Murid yang duduk paling depan bertanya. Mulai antusias.

"Bahasa Inggris sudah pasti karena itu bahasa internasional. Bahasa Jepang dan Jerman, karena dari sana semua teknologi tercipta. Bahasa Mandarin, agar kita pelan-pelan tidak dijajah oleh mereka."

Penghuni sisi kelas, alias yang duduk di pinggiran, masih betah dengan tidur panjang mereka.

"Memang menurut ustadz sendiri, kurikulumnya harusnya bagaimana?" Tanya salah satu temanku yang terlihat kalem dari luar tapi sebenarnya dia tidak sekalem itu.

"Saya tidak tahu, kan saya bukan menteri pendidikan," jawab beliau. Kami tertawa.

"Kalau saya yang jadi menteri pendidikannya, saya ubah sistem belajarnya menjadi beberapa kelas." Pak guru melanjutkan opininya lagi.

Kami memasang wajah bingung, penasaran sekaligus ingin tahu.

"Jadi kalau ingin memperdalam biologi, misalnya, silahkan saja. Tapi bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia," jelas Pak Guru. Mau heran tapi beliau adalah guru kami.

"Biologi pakai bahasa Jerman, nanti Kimia pakai bahasa Jepang, Fisika pakai bahasa mandarin, biar gampang matematika pakai bahasa Inggris," lanjut Pak guru lagi.

"Kalian bebas memilih kelas mana saja, belajar apa saja, tapi syaratnya itu, bahasa pengantarnya bukan bahasa Indonesia."

"Karena kalau kelas pendalaman bahasanya dibedakan lagi, nanti belajarnya malah makin lama, dan akan jarang dipraktekan langsung."

Hening. Sebagian mencerna apa yang dikatakan Pak Guru barusan, sebagian mencari pertanyaan baru, sebagiannya lagi masih beda alam.

"Kalau ustadz jadi menteri pariwisata gimana, tadz?" Akhirnya pertanyaan acak berikutnya muncul.

"Saya bakal jadiin kuburan sebagai tempat selfie," ungkap beliau tidak kalah acak. Kami semua tertawa.

"Biar kuburannya makin ramai," lanjut beliau lagi. Kami tahu pasti kalau ziarah kubur itu tetap harus mengikuti tuntunan dan sunnah Rasul, mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengingat bahwa kematian itu nyata. Sementara, kebanyakan orang melakukan ziarah kubur bukan untuk mendoakan, melainkan minta didoakan.

"Wisata religi? Wisata religi itu tadabur alam, mengenali Allah lewat ciptaan-Nya." Lanjut beliau lagi. 

"Negeri kita ini sudah dikaruniai banyak pemandangan indah. Gunungnya, lautnya, pantainya, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan."

Seluruh kelas hening, menyimak apa yang Pak Guru sampaikan. Indonesia yang indah ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Selain yang sudah masyhur seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, 
Kepulauan Seribu, dan lain-lain, masih banyak tempat-tempat lain yang sulit dilewati dan tidak dikelola dengan baik.

"Kalau jadi menteri keuangan, tadz?" Pertanyaan berikutnya muncul lagi.

"Kalau jadi menteri keuangan, saya hapuskan pajak." Jawab beliau santai. "Kita bisa memungut 2,5% dari harta setiap orang yang mampu dan menentukan nominal uang yang harus dibayar oleh setiap warga non-muslim. Namanya bukan jizyah, karena negara ini bukan termasuk negara muslim."

"Menteri kesehatan, tadz!" Seru yang lain. Meminta pandangan Pak Guru tentang bagaimana 'seharusnya' seorang menteri kesehatan bertindak.

"Menteri kesehatan? Segala akses kesehatan harus gratis. Semua orang dapat," jelas Pak Guru langsung ke inti.

"Terus bayar dokter dan tenaga kesehatan yang lain gimana, tadz?" Seseorang yang berada di barisan tengah bertanya.

"Sekolah kesehatannya juga harus gratis," jawab Pak Guru mantap. "Saya juga akan menghentikan praktek dokter. Para dokter harus praktek di rumah sakit."

"Jangan begitu, dong, tadz," protes salah satu temanku yang punya cita-cita memiliki praktek sendiri.

"Sekolahnya kan sudah gratis, jadi dia harusnya nurut," jawab Pak Guru. "Saya tahu kalau saya keluarkan kebijakan ini, seluruh dokter di Indonesia akan mengadakan demo besar-besaran."

Kami tertawa sekaligus terkesima. Pertanyaan random yang dijawab dengan pasti itu membuat kami ingin terus mengulik lebih dalam.

"Kalau misalnya ada rakyat yang enggak setuju gimana, tadz?"  Celetuk seseorang yang duduk di shaf tengah.

"Yang tidak suka dengan kebijakan saya, saya cabut kewarnganegaraannya," sahut beliau. Kami semua tertawa.

"Buat apa dia masih tinggal di negara ini kalau menentang pemerintah? Lebih baik diasingkan, di pulau terpencil. Dia dan seluruh keluarganya. Buat negara baru sendiri." Kami hanya bisa tertawa.

"Kalau begitu, kenapa ustadz tidak mencoba untuk mencalonkan diri?" Seseorang bertanya.

Hening. Yang sempat berada di alam lain kini sudah bergabung mendengarkan obrolan kami.

"Ini cuman khayalan saya saja," sahut Pak Guru santai. Kami tertawa lagi.

"Karena negeri ini adalah Negeri Mimpi. Semua orang bebas bermimpi."

Kami semua terdiam. Indonesia memang rumah dari segala jenis mimpi yang kebanyakan bermuara di alam mimpi. Kalau bicara tentang Indonesia di masa depan pas lagi di umur yang sekarang sudah melewati masa puber dan quarter crisis, kita setidaknya akan mengatakan hal-hal yang realistis dengan sedikit imajinasi karena tahu tidak semua yang diinginkan bisa tercapai. Apalagi pas tahu situasinya lagi kayak gini; pemerintah yang kerjanya tidak terlihat 'nyata', sistem pendidikan yang selalu berubah, harga bahan pokok yang tidak masuk akal, dan segala tetek bengek yang lain. Berbeda keadaannya kalau ngomongin beginian bareng anak SD, yang jawabannya enggak jauh dari mobil terbang dan dunia serba canggih ala kartun kenamaan asal Jepang--Doraemon. Meskipun sebenarnya hal itu mungkin saja terjadi.

"Kalian harus menjadi orang yang visioner," terang beliau. Kami semua tertegun. "Saya sudah sedikit berumur. Karena ini cuman khayalan saya saja, visi saya. Saya akan serahkan semuanya kepada anak-anak muda saja, biar mereka yang melanjutkan."

Indonesia yang sudah merdeka selama 77 tahun ini telah memberikan kebebasan juga untuk seluruh warganya agar berani bermimipi, berani memilik misi, dan mewujudkan ambisi. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka pun, para pejuang tidak berhenti bermimpi untuk memerdekakan Indonesia. 

Indonesia yang merdeka membuat kita bisa merasakan hidup yang aman, damai, tenteram, dan yang paling penting, 'bebas'. Bukan berarti kita bisa bertindak semaunya, tapi bebas di sini berarti tidak dijajah, dikekang atau diintimidasi. Karena nikmat-nikmat yang tiada tara ini, kita seharusnya bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik. Kita tidak perlu merasa terintimidasi  dengan orang yang tidak paham dengan kemerdekaan versi kita, kita tidak perlu merasa dikekang dengan pikiran-pikiran rudet yang terus berputar di kepala sehingga kita tidak pernah bebas melakukan hal yang sebenarnya ingin kita lakukan. Kita juga harus membentengi diri sendiri agar tidak dijajah oleh diri kita yang lain.

'Kemerdekaan' itu sebenarnya adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran kita.

Tidak terasa jam pelajaran beliau telah selesai. Akhirnya, kami bisa 'merdeka' dari kelas yang bikin ngantuk setengah mampus. Hehe.

Dan setelah menulis ini, rasa ingin masuk kelas lagi malah semakin menggila.
Share:

Be The Happy You

glasses


Bulan Juni lalu adalah masa-masa akhir sekolah yang 'sedikit' membosankan. Bagaimana tidak? Di saat sekolah lain sudah mengadakan acara kelulusan, sekolahku justru mengadakan pelatihan bagi calon guru yang akan mengajar di sini. Dan peserta pelatihannya tentu saja kami --kelas 12-- yang belum diluluskan secara resmi oleh sekolah karena masih punya tanggungan untuk berkhidmah selama 1 tahun. Pelatihannya kurang lebih 3 minggu. Selain tata cara mengajar yang baik dan benar, para peserta pelatihan juga melakukan pelatihan kerja lapangan, belajar kitab aqidah, dan seminar menarik.

Setelah acara kelulusan yang diisi dengan pembacaan surat keputusan kelulusan dan pembagian apresiasi dilangsungkan secara khidmat, aku pulang ke rumah untuk berlibur sebelum nantinya harus menjadi pegawai magang di sekolahku sendiri. Ada banyak yang harus disiapkan. Mulai dari kesehatan fisik, kesiapan mental, dan kedewasaan yang memang sudah harus ada. Aku memang bukan bekerja di tempat asing karena ini adalah sekolahku sendiri. Tapi, nantinya akan sulit untuk berkumpul lagi bersama teman-temanku yang lain. Kami harus lebih profesional. Apalagi, ini adalah pengalaman kerja pertamaku.

Orang-orang kemudian menanyakan apa rencanaku selanjutnya. Mengingat aku sudah bukan dikatakan siswa SMA lagi. Apakah langsung bekerja atau kuliah. Aku hanya bisa menjelaskan dengan gamblang. Kalau aku sebenarnya 'belum lulus'. Orangtuaku sedikit menyangkan program wajib ini, karena satu tahun yang menurut mereka seperti 'terbuang'. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, aku akhirnya punya pengalaman kerja, dan bisa mempersiapkan diri lebih matang untuk daftar kuliah nantinya.

Alur hidup manusia kayaknya cuman lahir, lalu belajar merangkak, belajar berjalan, masuk taman kanak-kanak, masuk sekolah dasar, belajar di sekolah menengah, di terima di universitas bergengsi, bekerja di perusahaan elit dengan gaji melintir, menikah, punya anak, menikmati masa tua, lalu meninggal. Enggak ada yang 'spesial' karena standar hidup bahagia orang-orang semuanya sama, harus sama.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah sebuah ketidakberuntungan sebagian kecil orang yang justru dianggap sial. Seperti pekerjaan yang kurang masuk akal, menikah di usia yang tidak lagi muda, tidak kunjung diberi momongan, atau justru sudah punya pekerjaan tapi malah dibilang pengangguran karena kerjanya yang terlalu santai. Padahal setiap orang punya timeline masing-masing. Setiap individu punya jalan hidup masing-masing. Dan setiap kelompok tidak bisa menjudge suatu individu yang kelihatannya tidak sesuai dengan pandangan mereka dan harus setara. Enggak kebayang kalau semua orang punya timeline yang sama. Umur 23 tahun menikah, umur 25 punya anak, lalu meninggal di usia 70 tahun. Padahal takdir adalah hal yang pasti namun tersembunyi. Semua orang pasti akan menyia-nyiakan masa muda mereka dan bertaubat di usia 60 tahun. Kerusakan pasti sudah terjadi saat itu.

Kebahagiaan itu sesederhana melakukan hal yang kita suka tanpa hambatan internal seperti sakit atau tanpa hambatan eksternal seperti tidak punya uang. Kalau kita melakukan sesuatu yang kita suka pasti kita menjadi merasa senang. Masalahnya untuk melakukan yang kita suka kita harus punya modal berupa uang. Jadi bahagia itu adalah ketika kita punya uang.

Menarik. Itu juga tidak selamanya salah. Bahkan untuk buang air kecil saja kita harus mengeluarkan uang setidaknya dua ribu rupiah. Untuk membeli makan harus mengeluarkan sepuluh ribu rupiah. Untuk membeli minum harus mengeluarkan lima ribu rupiah. Begitulah gambaran umum ketika kita sedang dalam perjalanan dan bis yang ditupangi sedang singgah di sebuah rumah makan; buang air, beli pop mie dan teh javana. Terus makan sebentar biar pas di bis bisa tidur lagi.

Bukankah hidup juga sama, hanya sebuah persinggahan?

Pernah suatu hari, saudaraku yang lebih muda mengeluhkan kenyataan yang dia hadapi selama berada di perantauan. Selain jadwal padat yang membuat dia tidak bisa rebahan sesuka hati, kekurangan uang menjadi kekhawatirannya. Pengeluaran pentingnya tidak berbanding lurus dengan bekal yang biasanya dia dapatkan. Aku hanya bisa membesarkan hatinya. Sebesar apapun yang kita punya harus selalu disyukuri. Tapi dibalik kerisauanannya tentang hal itu, dia tetap merasa nyaman di tempatnya tersebut. Mungkin dia merasa kalau kebahagiaannya memang sudah menjadi prioritas yang pertama dan urusan kekurangan itu sudah menjadi urutan kesekian.

Aku pernah merasa sangat lelah. Lelah dengan lingkungan yang semakin hari semakin panas, lelah dengan orang-orang sekitar yang selalu membuat hati memanas, dan lelah dengan pikiran sendiri yang tidak boleh panas. Aku juga menemukan postingan-postingan di sosial media yang mengharuskan kita untuk lebih membahagiakan diri sendiri dari pada orang lain. Tapi aku tidak relate dengan pernyataan tersebut sampai aku sendiri merasa tidak nyaman ketika terus-terusan mengutamakan orang lain dibanding diriku sendiri. Setelah merasa lelah, aku berpikir, "sakit demi orang lain senang, sampai kapan?" Dan  beruntung ada salah satu temanku berkomentar, "Sampai kamu merasa, bahwa bahagia mereka adalah bahagiamu juga."

Ya, karena membahagiakan orang itu harus.

Aku juga pernah menemukan pernyataan yang diungkapkan oleh bang Andy, bahwa untuk bahagia kita harus mencari signifikasi dari keberadaan kita di dunia. Pernyataan itu jelas menujukan kalau kita harus menjadi 'manusia' yang sebenarnya. 'Manusia' yang bisa memanusiakan manusia.

Karena masa pengabdian satu tahun mengharuskan aku untuk merantau namun aku belum berangkat saat itu, salah satu temanku yang sudah tiba di perantauan tiba-tiba bilang "Aku nitip, ya. Nitip kebahagian di rumah."

Baik, ini berlebihan.

Bahagia sebenarnya sesederhana itu, pikiran kita saja yang terlalu mempersulit sehingga malah membuatnya runyam.

Ya, dan bahagia itu tidak datang sendiri. Dia ada saat dicari. Jadi, selamat mencari.

Share: