Tampilkan postingan dengan label Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Talk. Tampilkan semua postingan

Menjadi Orang yang Bukan Diri Sendiri

Saat ada rekomendasi untuk menulis dan membaca di Substack, aku ingat betul kalau aku berusaha menahan diri agar tidak mendaftarkan akun di sana. Keputusan ini dirasa pantas karena aku jarang menulis di media-media yang sudah aku daftarkan sebelumnya. Aku tidak ingin mengikuti tren semata.

Tapi ternyata, dunia digital memang bergerak sangat cepat.

Platform itu sepertinya berisi ide-ide baru yang belum pernah aku temukan bahkan di Medium atau X. Aku masih bisa daftar sebagai pembaca. Terkadang, kita tidak perlu unjuk gigi agar diterima society. Menjadi pendengar tidak membuatmu dicap tidak ada.

Masalahnya, kalau sudah baca banyak tulisan, pengennya ikutan nulis juga, ga, sih?

Oke, permasalahan ini akan aku pikirkan nanti. Aku mau menjadi pembaca aktif dulu di sana.

Sebagai orang yang bisa dibilang suka menulis, aku mencoba menulis di berbagai tempat bila sempat. Namaku sudah ada di beberapa platform menulis sebagai contributor. Di antaranya menggunakan identitas asli. Setengahnya lagi menggunakan nama pena.

Nama pena membuatku merasa aman saat menumpahkan segala resah pada awalnya. Aku bisa leluasa mengeksplor gaya apapun tadinya. Makin ke sini, aku merasa krisis identitas.

Sepertinya bukan namanya yang salah. Dari awal memang aku yang salah.

Menjadi orang yang berbeda ternyata melelahkan. Menjadi orang yang bukan diri sendiri ternyata memberatkan.

Atau justru, selama ini aku memang belum hidup sebagai diri sendiri?

Terlalu bergantung pada opini orang. Terlalu takut pada tatapan orang. Terlalu memikirkan omongan orang.

Terlalu takut untuk berdiri. Terlalu malu untuk membuka mata dan hati.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan tukang ojek daring satu itu.

Dia merasakan ‘aura’ yang tertahan dalam air wajahku. Kurang bersinar. Kurang terpancar. Aku mengelak. Aku piker raut wajah itu terlukis karena aku kurang tidur akhir- akhir itu.

Jangan kaitkan aura di sini dengan hal-hal mistis, ya. Ekspresiku memang tidak terbuka saat itu. Tapi enggak bisa dikatakan judes atau jutek juga.

Beliau menebak bahwa kalau aku menyembunyikan banyak hal. Sehingga untuk berekspresi yang dasar saja kurang lepas.

Beliau menyarankanku untuk berterima kasih kepada diri sendiri. Kepada Zat yang telah menciptakan itu sudah pasti. Kepada raga sendiri juga harus setiap hari. Karena dengannya, ruh kita jadi punya rumah. Dengannya, ruh kita bisa bergerak leluasa.

Ternyata, beliau juga belajar psikologi. Pantas saja caranya menganalisa seperti psikolog asli.

Aku harus lebih terbuka dan bebas. Namun sebelum itu, aku harus kenalan dengan diri sendiri dulu. Harus cinta sama diri sendiri dulu. Harus bisa melepas belenggu tak kasat mata yang terus-menerus menahanku.

عليك بالنفس


Takut itu wajar. Yang enggak wajar adalah menjadikan ketakutan itu sebagai tameng perlindungan. Semua manusia ini berada di atas jalan. Dengan tempat asal yang berbeda. Dengan tujuan yang berbeda. Tapi di jalanan itu isinya sama. Pengendara ugal-ugalan. Tanggulan. Jalan berlubang. Dan kita harus berani menghadapi resiko-resiko itu.

Aku merasa malu sampai aku sadar bahwa aku tidak bisa menyangkalnya. Semua ‘tuduhan’ yang dia sebutkan benar adanya.

Ternyata, aku belum menjadi orang yang bukan diri sendiri.

Setelah banyaknya tulisan agar aku bisa menggali kepribadianku yang lain. Menjadi yang asli saja aku masih labil.

Aku jadi teringat sebuah kutipan Arab yang dibacakan guruku saat beliau membuka status Whatsapp mutualan beliau.

اترك أبواب حياتك مفتوحة

ليدخل من يدخل، و يخرج من يخرج

لا تتعلق بداخل، ولا تحزن على مغادر

فلن يبقى معـك إلا الله

Biarkan pintu-pintu kehidupanmu terbuka. Agar yang mau masuk bisa masuk, dan yang mau keluar bisa keluar. Jangan bergantung dengan yang masuk. Dan jangan sedih dengan orang yang keluar. Karena tidak ada yang tersisa bersamamu kecuali Allah.

Kamu juga harus mencintai diri sendiri. dan jadilah diri sendiri yang asli.
Share:

Satu Dekade itu Tidak Lama

bintang

 

10 tahun itu sangat cepat. Tapi bagaimana kalau ternyata tidak secepat itu?

Aku berpikir bahwa 10 tahun itu berlalu sekejap mata. Kenyataannya, tidak secepat itu. Jika kita melihat jejak digital kita sendiri, 10 tahun yang lalu, oh, ternyata, kita sudah melalui banyak hal.

Segalanya berubah dalam rentan waktu 10 tahun. Kupikir unggahan 5 sampai 8 tahun yang lalu sudah terlalu lawas. Ternyata masih ada unggahan 10 tahun lalu. Rasa risih dan malu akan langsung terlintas melihat unggahan yang saat itu diunggah tanpa ragu. Tapi, itu 10 tahun yang lalu.

Semua hal berkembang dalam 10 tahun. Perlahan-lahan. Udara, lingkungan, sejarah, teknologi, tata kota, sistem pendidikan, sistem ekonomi, tren, dan lain-lain.

Yang tidak berubah hanya pemerintah.

Seseorang akan mengalami banyak perubahan dalam satu dekade. Fisiknya akan menguat. Otaknya akan berkembang. Pikirannya akan semakin matang. Dalam dekade yang lain seseorang juga akan mengalami penurunan. Yang prosesnya juga perlahan-lahan.

Semuanya berjalan perlahan. Hingga tak terasa usia 20 tahun telah sempurna terlewati. Sesaat kemudian kehidupan sebagai orang berkepala tiga harus berjalan. Begitu seterusnya. Tahun demi tahun berjalan secepat kedipan mata.

Kemudian datanglah pikiran absurd.

Kenapa aku merasa masih di tempat yang sama?

Aku tidak merasa berubah dalam 10 tahun. Aku tidak merasa tumbuh dalam 10 tahun terakhir. Orang-orang di sekitarku tumbuh dan membangun hal baru. Berprestasi, membangun rumah tangga, membangun jaringan. Aku, masih harus dipaksa membangunkan diriku dari tempat tidur.

Hey. tidakkah kamu berpikir kalau kamu juga sudah melwati banyak hal? Lihatlah tubuhmu yang semakin bugar. Lihatlah pemikiranmu yang semakin berkembang. Tidakkah kamu tahu, dirimu yang berusia 10 tahun tidak akan memiliki pemikiran yang sama dengan dirimu di usia 20 tahun.

10 tahun yang lalu, orang-orang itu juga sedang merapikan tempat tidur mereka. Dan lihatlah mereka juga sudah mulai menata hidup mereka. 

Oke, tidak adil rasanya untuk membandingkan pencapaian orang dengan dirimu. Aneh juga kalau harus membandingkan dirimu saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Bagaimana kalu sekarang kita merenung lagi. Berpikir tentang bagaimana kita 5 tahun yang akan datang? Membuat rencana agar dekade berikutnya juga dapat menghasilkan sesuatu yang membuat anak cucumu ikut senang?
Share:

Hal yang Seharusnya Tidak Disia-siakan


Jam Pasir


Kebanyakan orang merasa stress dan mengeluhkan pekerjaannya yang padat, menumpuk dan tidak ada habisnya. Namun, tidak sedikit juga orang yang merasa stress dan menganggap dirinya tidak berguna karena tidak ada pekerjaan yang bisa dia lakukan.

Begitulah kira-kira keadaanku dan keadaan temanku saat kita sedang sama-sama beradu nasib.

***

Aku dan temanku adalah lulusan SMA yang kelulusannya sudah disahkan negara namun belum diresmikan oleh yayasan tempat kami belajar sebelum mengabdikan diri setidaknya selama satu tahun untuk membagikan ilmu yang telah dipelajari. Program itu bersifat wajib dan menjadi syarat mendapatkan ijazah pondok.

Secara tidak langsung, aku dan temanku adalah pegawai magang di lembaga tersebut. Kami ditempatkan di divisi yang berbeda. Temanku menjadi guru di sekolah dasar sementara aku menjadi pembimbing di asrama.

Ditempatkan di divisi yang tidak sama tentu memiliki jobdesc yang berbeda pula. Layaknya pengajar sekolah dasar pada umumnya, temanku harus sudah bersiap di pagi hari dan melakukan briefing. Setelah itu menjadi asisten wali kelas dari bel masuk hingga para siswa pulang. Berbeda dengan temanku yang jadwal kerjanya sama dengan anak sekolah, jam kerjaku justru tidak menentu. Aku juga harus tetap siaga jika penghuni asrama sakit atau membutuhkan sesuatu yang mendesak. Meski begitu, ketika anak-anak sekolah aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Dengan kata lain, pekerjaanku ini memungkinkanku mempunyai waktu luang lebih banyak dibanding temanku.

Aku bersyukur masih diberi waktu lebih di luar pekerjaanku untuk mengeksplor minat dan bakatku. Aku juga bisa lebih leluasa melakukan beberapa kegiatan wajib seperti mencuci baju atau merapikan ruangan. Namun kenyataanya, hal itu justru membuatku buntung ketimbang untung. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik bisa menjadi bom waktu yang dapat membunuh sewaktu-waktu, baik dalam waktu dekat atau waktu yang akan datang. 

Rasa bosan yang hampir membunuh itu akhirnya dimanfaatkan sebagian teman-temanku -yang memiliki nasib yang sama- untuk berjualan. Kami juga mengadakan program untuk mengulang pelajaran. Beberapa juga mengisinya untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi.

***

"Enak, ya, kalian bisa keluar kapanpun kalian mau," celetukku saat berkunjung ke kamar temanku yang memang dikhususkan untuk pengajar di sekolah dasar. Kebetulan kamarnya sedang sepi karena ini adalah weekend. Dan sebagian orang memilih menghabiskan waktu liburnya di luar sekolah.

Temanku menyahut. "Enggak usah iri. Kamu lebih santai. Aku senggang malem sama hari Minggu aja."

"Kamu harus bersyukur karena kamu masih bisa nyempetin (waktu) buat belajar," lanjutnya.

Kami akhirnya saling membandingkan dan berbagi kesan selama bekerja di bagian masing-masing. Mengetahui betapa kesusahannya dia mencari waktu yang tepat untuk bisa belajar lagi di tengah keinginannya melepas stress di siang hari adalah salah satu tamparan bagiku yang lebih banyak ngeluhnya daripada progress-nya. Aku dan temanku memiliki cita-cita yang sama ketika selesai magang nanti; kuliah. Tapi aku malah membuang kesempatan untuk mempersiapkannya.

Aku terdiam dan menyadari bahwa waktu terlalu cepat berlalu jika hanya diisi dengan scrolling, swiping dan sleeping. Waktu tidak akan pernah menunggu dan tidak mau tahu jika ternyata kita telat atau tidak mau mengerjakan sesuatu.

Terbakar

Semua orang diberi waktu yang sama dalam satu hari. 24 jam yang sama. Hanya saja pemanfaatannya yang berbeda. Waktu sangat berharga bagi orang yang tidak ingin dibuat menunggu. Waktu sangat mahal bagi orang yang tidak suka membual.

Imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah mengatakan,

"Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatkan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu."

"Waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu." -Imam Syafi'i

Bermalas-malasan memang menyenangkan, dan akan sangat menyenangkan jika lebih baik tidak mengerjakan apa-apa. Di sisi lain banyak orang yang berjuang menuntut ilmu atau menjahit baju, orang yang futur dan menyia-nyiakan waktu akan mendapatkan banyak kenyamanan dan ketenangan. Tapi jangan bermimpi kalau kesenangan itu akan berada dalam keabadian.

Share:

Negeri Mimpi

Tangga




Enggak kerasa blog ini udah jalan 1 setengah tahun. Dan setengah tahunnya justru semi-hiatus. Apa itu semi hiatus? Entahlah. Itu cuman kata halus untuk menyindir blogger yang jarang aktif sepertiku. Hehe.

Enggak kerasa juga aku akhirnya lulus SMA. Sebelum benar-benar lulus, aku diharuskan untuk menjalani masa pengadian selama 1 tahun sebagai bentuk lain mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama sekolah. Kebetulan aku menjadi bagian dari tenaga pengajar di sekolah sendiri. Sedikit menguntungkan karena aku memang belum memikirkan dan menyiapkan rencana studi lanjut setelah lulus SMA. Kerugiannya adalah aku jadi belum move on dari SMA dan ingin masuk kelas lagi. Melihat para guru semasa SMA berjalan menuju kelas mereka membuatku ingin ikut masuk kelas juga.

Berbicara tentang kelas, salah satu kelas dari sekian banyak kelas yang paling membuat ngantuk adalah ketika kamu enggak minat belajar sama sekali tapi guru kamu tetap ngajar tanpa variasi. Solusinya, kalau enggak niat belajar, ya enggak usah masuk sekolah. Tapi mabal dari kelas bukan pilihan bagus untuk siswa tingkat akhir yang harus mempertahankan reputasi agar bisa dibantu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang paling tinggi.

Berhubung kelasku sudah menyelesaikan kitab rujukan kami untuk salah satu pelajaran, kami kompak untuk menggelar kelas kosong meski sang guru sudah stand by di depan kelas. Pak guru yang pasrah melihat sebagian kecil muridnya di kelas ini tumbang hanya bisa mengajak murid yang masih duduk tegap untuk ikut berkelana di alam mimpi juga.

"Ustadz." Salah satu temanku memanggil. Pak guru mendongakan kepalanya, mencari sumber suara.

"Denger-denger kurikulum Indonesia diubah lagi ya, tadz?" Tanya temanku tersebut.

"Diubah jadi seperti apa?" Pak guru balik bertanya.

"Enggak ada sistem penjurusan gitu." Ucapkan temanku. Pak guru mangut-mangut.

"Terus gimana kalau enggak ada penjurusan?" Pak guru balik tanya.

"Kurang paham juga, sih, tadz." Temanku menyudahi topiknya. Yang lainnya saling pandang, sama-sama tidak tahu.

"Katanya siswanya bisa bebas pilih mata pelajaran," ungkap temanku yang lain.

"Kayak sentra?" Yang duduk di paling belakang bersuara.

"Bisa jadi," jawabnya.

"Jadi nanti mereka bisa masuk kelas mana aja sesuai minat."

"Terus jadwal pelajarannya gimana nanti?"

"Katanya bakal lebih susah juga materinya."

"Sekolah kita bakal kayak gitu juga, enggak, tadz?"

Dan pertanyaan-pertanyaan acak lainnya.

Karena penasaran, Pak guru pun inisiatif mencari sendiri kurikulum baru apa yang kita maksud.

Setelah melewati keheningan beberapa saat, Pak guru akhirnya menarik kesimpulan yang sayangnya aku tidak ingat apa yang beliau ucapkan. Beliau mengeluarkan opini dan pandangan beliau soal perubahan kurikulum tersebut, kemendikbud, dan pemerintah. 

"Tapi, sekolah harus mengajarkan kepada muridnya seenggaknya 3 bahasa," lanjut beliau. "Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Mandarin."

Opini tersebut harus tetap berlanjut dan berkembang mengingat sebagian besar murid di kelas memilih untuk berpangku tangan.

"Kenapa, tadz?" Murid yang duduk paling depan bertanya. Mulai antusias.

"Bahasa Inggris sudah pasti karena itu bahasa internasional. Bahasa Jepang dan Jerman, karena dari sana semua teknologi tercipta. Bahasa Mandarin, agar kita pelan-pelan tidak dijajah oleh mereka."

Penghuni sisi kelas, alias yang duduk di pinggiran, masih betah dengan tidur panjang mereka.

"Memang menurut ustadz sendiri, kurikulumnya harusnya bagaimana?" Tanya salah satu temanku yang terlihat kalem dari luar tapi sebenarnya dia tidak sekalem itu.

"Saya tidak tahu, kan saya bukan menteri pendidikan," jawab beliau. Kami tertawa.

"Kalau saya yang jadi menteri pendidikannya, saya ubah sistem belajarnya menjadi beberapa kelas." Pak guru melanjutkan opininya lagi.

Kami memasang wajah bingung, penasaran sekaligus ingin tahu.

"Jadi kalau ingin memperdalam biologi, misalnya, silahkan saja. Tapi bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia," jelas Pak Guru. Mau heran tapi beliau adalah guru kami.

"Biologi pakai bahasa Jerman, nanti Kimia pakai bahasa Jepang, Fisika pakai bahasa mandarin, biar gampang matematika pakai bahasa Inggris," lanjut Pak guru lagi.

"Kalian bebas memilih kelas mana saja, belajar apa saja, tapi syaratnya itu, bahasa pengantarnya bukan bahasa Indonesia."

"Karena kalau kelas pendalaman bahasanya dibedakan lagi, nanti belajarnya malah makin lama, dan akan jarang dipraktekan langsung."

Hening. Sebagian mencerna apa yang dikatakan Pak Guru barusan, sebagian mencari pertanyaan baru, sebagiannya lagi masih beda alam.

"Kalau ustadz jadi menteri pariwisata gimana, tadz?" Akhirnya pertanyaan acak berikutnya muncul.

"Saya bakal jadiin kuburan sebagai tempat selfie," ungkap beliau tidak kalah acak. Kami semua tertawa.

"Biar kuburannya makin ramai," lanjut beliau lagi. Kami tahu pasti kalau ziarah kubur itu tetap harus mengikuti tuntunan dan sunnah Rasul, mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengingat bahwa kematian itu nyata. Sementara, kebanyakan orang melakukan ziarah kubur bukan untuk mendoakan, melainkan minta didoakan.

"Wisata religi? Wisata religi itu tadabur alam, mengenali Allah lewat ciptaan-Nya." Lanjut beliau lagi. 

"Negeri kita ini sudah dikaruniai banyak pemandangan indah. Gunungnya, lautnya, pantainya, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan."

Seluruh kelas hening, menyimak apa yang Pak Guru sampaikan. Indonesia yang indah ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Selain yang sudah masyhur seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, 
Kepulauan Seribu, dan lain-lain, masih banyak tempat-tempat lain yang sulit dilewati dan tidak dikelola dengan baik.

"Kalau jadi menteri keuangan, tadz?" Pertanyaan berikutnya muncul lagi.

"Kalau jadi menteri keuangan, saya hapuskan pajak." Jawab beliau santai. "Kita bisa memungut 2,5% dari harta setiap orang yang mampu dan menentukan nominal uang yang harus dibayar oleh setiap warga non-muslim. Namanya bukan jizyah, karena negara ini bukan termasuk negara muslim."

"Menteri kesehatan, tadz!" Seru yang lain. Meminta pandangan Pak Guru tentang bagaimana 'seharusnya' seorang menteri kesehatan bertindak.

"Menteri kesehatan? Segala akses kesehatan harus gratis. Semua orang dapat," jelas Pak Guru langsung ke inti.

"Terus bayar dokter dan tenaga kesehatan yang lain gimana, tadz?" Seseorang yang berada di barisan tengah bertanya.

"Sekolah kesehatannya juga harus gratis," jawab Pak Guru mantap. "Saya juga akan menghentikan praktek dokter. Para dokter harus praktek di rumah sakit."

"Jangan begitu, dong, tadz," protes salah satu temanku yang punya cita-cita memiliki praktek sendiri.

"Sekolahnya kan sudah gratis, jadi dia harusnya nurut," jawab Pak Guru. "Saya tahu kalau saya keluarkan kebijakan ini, seluruh dokter di Indonesia akan mengadakan demo besar-besaran."

Kami tertawa sekaligus terkesima. Pertanyaan random yang dijawab dengan pasti itu membuat kami ingin terus mengulik lebih dalam.

"Kalau misalnya ada rakyat yang enggak setuju gimana, tadz?"  Celetuk seseorang yang duduk di shaf tengah.

"Yang tidak suka dengan kebijakan saya, saya cabut kewarnganegaraannya," sahut beliau. Kami semua tertawa.

"Buat apa dia masih tinggal di negara ini kalau menentang pemerintah? Lebih baik diasingkan, di pulau terpencil. Dia dan seluruh keluarganya. Buat negara baru sendiri." Kami hanya bisa tertawa.

"Kalau begitu, kenapa ustadz tidak mencoba untuk mencalonkan diri?" Seseorang bertanya.

Hening. Yang sempat berada di alam lain kini sudah bergabung mendengarkan obrolan kami.

"Ini cuman khayalan saya saja," sahut Pak Guru santai. Kami tertawa lagi.

"Karena negeri ini adalah Negeri Mimpi. Semua orang bebas bermimpi."

Kami semua terdiam. Indonesia memang rumah dari segala jenis mimpi yang kebanyakan bermuara di alam mimpi. Kalau bicara tentang Indonesia di masa depan pas lagi di umur yang sekarang sudah melewati masa puber dan quarter crisis, kita setidaknya akan mengatakan hal-hal yang realistis dengan sedikit imajinasi karena tahu tidak semua yang diinginkan bisa tercapai. Apalagi pas tahu situasinya lagi kayak gini; pemerintah yang kerjanya tidak terlihat 'nyata', sistem pendidikan yang selalu berubah, harga bahan pokok yang tidak masuk akal, dan segala tetek bengek yang lain. Berbeda keadaannya kalau ngomongin beginian bareng anak SD, yang jawabannya enggak jauh dari mobil terbang dan dunia serba canggih ala kartun kenamaan asal Jepang--Doraemon. Meskipun sebenarnya hal itu mungkin saja terjadi.

"Kalian harus menjadi orang yang visioner," terang beliau. Kami semua tertegun. "Saya sudah sedikit berumur. Karena ini cuman khayalan saya saja, visi saya. Saya akan serahkan semuanya kepada anak-anak muda saja, biar mereka yang melanjutkan."

Indonesia yang sudah merdeka selama 77 tahun ini telah memberikan kebebasan juga untuk seluruh warganya agar berani bermimipi, berani memilik misi, dan mewujudkan ambisi. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka pun, para pejuang tidak berhenti bermimpi untuk memerdekakan Indonesia. 

Indonesia yang merdeka membuat kita bisa merasakan hidup yang aman, damai, tenteram, dan yang paling penting, 'bebas'. Bukan berarti kita bisa bertindak semaunya, tapi bebas di sini berarti tidak dijajah, dikekang atau diintimidasi. Karena nikmat-nikmat yang tiada tara ini, kita seharusnya bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik. Kita tidak perlu merasa terintimidasi  dengan orang yang tidak paham dengan kemerdekaan versi kita, kita tidak perlu merasa dikekang dengan pikiran-pikiran rudet yang terus berputar di kepala sehingga kita tidak pernah bebas melakukan hal yang sebenarnya ingin kita lakukan. Kita juga harus membentengi diri sendiri agar tidak dijajah oleh diri kita yang lain.

'Kemerdekaan' itu sebenarnya adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran kita.

Tidak terasa jam pelajaran beliau telah selesai. Akhirnya, kami bisa 'merdeka' dari kelas yang bikin ngantuk setengah mampus. Hehe.

Dan setelah menulis ini, rasa ingin masuk kelas lagi malah semakin menggila.
Share:

Be The Happy You

glasses


Bulan Juni lalu adalah masa-masa akhir sekolah yang 'sedikit' membosankan. Bagaimana tidak? Di saat sekolah lain sudah mengadakan acara kelulusan, sekolahku justru mengadakan pelatihan bagi calon guru yang akan mengajar di sini. Dan peserta pelatihannya tentu saja kami --kelas 12-- yang belum diluluskan secara resmi oleh sekolah karena masih punya tanggungan untuk berkhidmah selama 1 tahun. Pelatihannya kurang lebih 3 minggu. Selain tata cara mengajar yang baik dan benar, para peserta pelatihan juga melakukan pelatihan kerja lapangan, belajar kitab aqidah, dan seminar menarik.

Setelah acara kelulusan yang diisi dengan pembacaan surat keputusan kelulusan dan pembagian apresiasi dilangsungkan secara khidmat, aku pulang ke rumah untuk berlibur sebelum nantinya harus menjadi pegawai magang di sekolahku sendiri. Ada banyak yang harus disiapkan. Mulai dari kesehatan fisik, kesiapan mental, dan kedewasaan yang memang sudah harus ada. Aku memang bukan bekerja di tempat asing karena ini adalah sekolahku sendiri. Tapi, nantinya akan sulit untuk berkumpul lagi bersama teman-temanku yang lain. Kami harus lebih profesional. Apalagi, ini adalah pengalaman kerja pertamaku.

Orang-orang kemudian menanyakan apa rencanaku selanjutnya. Mengingat aku sudah bukan dikatakan siswa SMA lagi. Apakah langsung bekerja atau kuliah. Aku hanya bisa menjelaskan dengan gamblang. Kalau aku sebenarnya 'belum lulus'. Orangtuaku sedikit menyangkan program wajib ini, karena satu tahun yang menurut mereka seperti 'terbuang'. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, aku akhirnya punya pengalaman kerja, dan bisa mempersiapkan diri lebih matang untuk daftar kuliah nantinya.

Alur hidup manusia kayaknya cuman lahir, lalu belajar merangkak, belajar berjalan, masuk taman kanak-kanak, masuk sekolah dasar, belajar di sekolah menengah, di terima di universitas bergengsi, bekerja di perusahaan elit dengan gaji melintir, menikah, punya anak, menikmati masa tua, lalu meninggal. Enggak ada yang 'spesial' karena standar hidup bahagia orang-orang semuanya sama, harus sama.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah sebuah ketidakberuntungan sebagian kecil orang yang justru dianggap sial. Seperti pekerjaan yang kurang masuk akal, menikah di usia yang tidak lagi muda, tidak kunjung diberi momongan, atau justru sudah punya pekerjaan tapi malah dibilang pengangguran karena kerjanya yang terlalu santai. Padahal setiap orang punya timeline masing-masing. Setiap individu punya jalan hidup masing-masing. Dan setiap kelompok tidak bisa menjudge suatu individu yang kelihatannya tidak sesuai dengan pandangan mereka dan harus setara. Enggak kebayang kalau semua orang punya timeline yang sama. Umur 23 tahun menikah, umur 25 punya anak, lalu meninggal di usia 70 tahun. Padahal takdir adalah hal yang pasti namun tersembunyi. Semua orang pasti akan menyia-nyiakan masa muda mereka dan bertaubat di usia 60 tahun. Kerusakan pasti sudah terjadi saat itu.

Kebahagiaan itu sesederhana melakukan hal yang kita suka tanpa hambatan internal seperti sakit atau tanpa hambatan eksternal seperti tidak punya uang. Kalau kita melakukan sesuatu yang kita suka pasti kita menjadi merasa senang. Masalahnya untuk melakukan yang kita suka kita harus punya modal berupa uang. Jadi bahagia itu adalah ketika kita punya uang.

Menarik. Itu juga tidak selamanya salah. Bahkan untuk buang air kecil saja kita harus mengeluarkan uang setidaknya dua ribu rupiah. Untuk membeli makan harus mengeluarkan sepuluh ribu rupiah. Untuk membeli minum harus mengeluarkan lima ribu rupiah. Begitulah gambaran umum ketika kita sedang dalam perjalanan dan bis yang ditupangi sedang singgah di sebuah rumah makan; buang air, beli pop mie dan teh javana. Terus makan sebentar biar pas di bis bisa tidur lagi.

Bukankah hidup juga sama, hanya sebuah persinggahan?

Pernah suatu hari, saudaraku yang lebih muda mengeluhkan kenyataan yang dia hadapi selama berada di perantauan. Selain jadwal padat yang membuat dia tidak bisa rebahan sesuka hati, kekurangan uang menjadi kekhawatirannya. Pengeluaran pentingnya tidak berbanding lurus dengan bekal yang biasanya dia dapatkan. Aku hanya bisa membesarkan hatinya. Sebesar apapun yang kita punya harus selalu disyukuri. Tapi dibalik kerisauanannya tentang hal itu, dia tetap merasa nyaman di tempatnya tersebut. Mungkin dia merasa kalau kebahagiaannya memang sudah menjadi prioritas yang pertama dan urusan kekurangan itu sudah menjadi urutan kesekian.

Aku pernah merasa sangat lelah. Lelah dengan lingkungan yang semakin hari semakin panas, lelah dengan orang-orang sekitar yang selalu membuat hati memanas, dan lelah dengan pikiran sendiri yang tidak boleh panas. Aku juga menemukan postingan-postingan di sosial media yang mengharuskan kita untuk lebih membahagiakan diri sendiri dari pada orang lain. Tapi aku tidak relate dengan pernyataan tersebut sampai aku sendiri merasa tidak nyaman ketika terus-terusan mengutamakan orang lain dibanding diriku sendiri. Setelah merasa lelah, aku berpikir, "sakit demi orang lain senang, sampai kapan?" Dan  beruntung ada salah satu temanku berkomentar, "Sampai kamu merasa, bahwa bahagia mereka adalah bahagiamu juga."

Ya, karena membahagiakan orang itu harus.

Aku juga pernah menemukan pernyataan yang diungkapkan oleh bang Andy, bahwa untuk bahagia kita harus mencari signifikasi dari keberadaan kita di dunia. Pernyataan itu jelas menujukan kalau kita harus menjadi 'manusia' yang sebenarnya. 'Manusia' yang bisa memanusiakan manusia.

Karena masa pengabdian satu tahun mengharuskan aku untuk merantau namun aku belum berangkat saat itu, salah satu temanku yang sudah tiba di perantauan tiba-tiba bilang "Aku nitip, ya. Nitip kebahagian di rumah."

Baik, ini berlebihan.

Bahagia sebenarnya sesederhana itu, pikiran kita saja yang terlalu mempersulit sehingga malah membuatnya runyam.

Ya, dan bahagia itu tidak datang sendiri. Dia ada saat dicari. Jadi, selamat mencari.

Share:

Knowing Yourself

is it you?


 Siang hari menjelang petang yang terik. Ini masih bulan Ramadhan. Kamar sepi, orang-orang lebih memilih tidur siang dari pada melakukan aktivitas lain. Berbeda dengan tiga orang yang duduk asal ini, mereka lebih memilih mengambil posisi paling pw untuk ngobrol. Entah siapa yang mengarahkan topik ini dibahas siang-siang, aku baru sadar kalau ternyata mengenal diri sendiri itu sangat penting, sepenting tidur siang yang (tidak) sengaja kami lewatkan.

"Aku kadang suka ngerasa sedih lihat pengurus sekarang. Sering banget dihujat," ungkap salah satu temanku yang berkacamata. "Aku juga punya rasa pengen ngehujat tapi langsung keinget kalau dulu aku pernah ada di posisi yang sama kayak mereka sekarang."

Sedikit informasi. Pengurus di sini adalah organisasi santri yang bertujuan membantu menjalankan visi misi pondok dengan program kerja yang dirancang oleh pengurus dan disetujui oleh atasan. Biasanya pengurus ini diamanahi kepada santri kelas 11. Santri kelas 12 tetap patuh kepada peraturan pondok meski tidak sepenuhnya mengikuti proker yang disusun pengurus.

Pembahasan ini muncul karena sebagian teman-temanku berpendapat bahwa program kerja yang sudah baik seharusnya bisa diteruskan oleh mereka ketika mereka menjabat.

"Kalau dipikir-pikir juga buat apa ngehujat mereka? Mereka juga enggak ngerugiin kita," timpal temanku yang lain.

"Meskipun salah harusnya enggak perlu dihujat. Kita harusnya bisa langsung kasih kritik." aku ikut berkomentar.

"Orang lain emang enggak tahu capeknya jadi pengurus." Temanku yang berkacamata kembali mengeluarkan suara. "Mereka tuh cuman butuh support, butuh dihargai."

"Jadi pengurus mentalnya emang harus sekuat baja, mukanya harus pakai banyak topeng," komentarku.

"Orang lain mah enggak akan berhenti menghujat kita," sahut temanku yang lain. "Kita juga enggak seharusnya dengerin, sih."

Kami setuju.

"Kadang orang juga bilang, 'aku tahu kamu. Harusnya kamu begini, bukan begitu.' Lha? Siapa dia?" Yang berkacamata bersuara lagi.

Aku dan temanku mangut-mangut.

"Harusnya dia bisa peduli sama pilihan kita. Ya, enggak? Aku mikirnya begini, 'Yaudah, ini pilihan gue. Lo ngomong gitu itu pilihan lo. Terus, enggak diambil pusing lagi," papar temanku yang memeluk guling.

"Nah, iya. Pilihan," simpul yang berkacamata. "Aku juga mikir begitu, 'ini pilihan aku. Kalau kamu enggak suka ya itu pilihan kamu," sambungnya.

"Itu yang biasanya jadi masalah. Kadang orang tanya aku. Aku lebih suka yang mana diantara dua pilihan yang bikin dia bingung. Aku ikutan bingung juga. Antara milih yang sesuai sama selera aku atau ikutin kepribadian dia," tuturku. "Jadi biasanya habis milih, aku kembalikan ke dia. Atau kalau malas mikir, langsung kujawab, 'terserah.'"

Mereka berdua setuju.

"Dulu, aku enggak sepercaya diri sekarang. Sering banget nutup-nutupin. Tapi lama kelamaan capek sendiri. Ribet. Akhirnya enggak aku tutup lagi. Ternyata biasa aja," cerita gadis yang berkacamata.

"Berarti, itu pilihan kamu," sahut temanku yang masih memeluk gulingnya. Gadis yang berkacamata setuju. "Kamu benar."

Dia kembali melanjutkan. "Kadang kasian juga ngeliat orang yang ngerasa kayak aku waktu dulu. Pengen negur, tapi enggak apa-apa deh. Itu pilihan dia."

Pilihan itu menentukan jalan hidup. Milih bahagia meski sengsara atau milih sedih padahal dia makmur. Milih terus berpura-pura atau langsung menampakan sisi asli. Itu semua tergantung pilihan orang masing-masing.

"Aku pernah lihat salah satu konten di Tik Tok. Dia ngasih tahu kalau orang yang kena penyakit mental ciri-cirinya begini dan begitu. Terus langsung banyak yang komen, 'ini aku banget.',' 'aku begini tahu.'. Enggak suka ngeliat orang-orang pada self-diagnose. Padahal belum tentu juga kalau ciri-cirinya begitu dia kena penyakit mental," ulas temanku.

Aku dan yang lain mangut-mangut.

"Terus ada juga yang komentar, misal si A komen, 'aku kayak gini.' Eh si B balas, 'self-diagnose.'. Si B tahu apa kalau si A lagi self-diagnose atau enggak."

"Kamu juga tahu apa kalau si B cuman sotoy atau sekedar ngasih tahu?" Timpalku. Temanku yang lain tertawa.

Self-diagnose adalah keadaan ketika seseorang mendiagnosis dirinya sendiri. Sangat bagus kalau memang dilakukan dengan ilmu. Tapi malah jadi bahaya kalau dilakukan dengan ke-sok-tahuan yang tinggi. Karena biasanya seseorang melakukan itu karena merasa dirinya paling tertekan, merasa paling menderita. Sehingga dia mendiagnosis dirinya sendiri menderita kelainan mental. Padahal bisa saja, penyakit mental lebih 'sakit' dari yang dia ekspektasikan.

"Sebenarnya, aku tidak suka candaan yang mengarah ke arahku."

Bercanda. Kata kerja itu yang membuat dunia ini tidak monoton dan kaku. Candaan yang dikatakan berhasil atau bisa disebut candaan yang sehat tidak hanya harus lucu, tapi juga sesuai kenyataan dan tidak menyakiti orang lain.

Maafkan aku, sob!

Siang itu cukup panas namun terasa sejuk. Dan pembicaraan ini masih berlanjut.

"Tapi aku seneng." Gadis yang berkacamata memecah keheningan. "Seneng bisa kenal sama diri sendiri."

Kami berdua setuju.

"Meski susah, itu yang bikin kita nyaman sama diri sendiri," timpal gadis yang setia dengan gulingnya.

"Iya. Dan karena itu juga kita jadi bisa lebih mudah mengenal orang lain." Gadis yang berkacamata menambahkan.

Be yourself. Slogan yang kebanyakan orang pakai akhir-akhir ini. Kata-kata motivasi yang cukup meyakinkan seseorang bahwa dia bisa baik-baik saja tanpa perlu berpura-pura di dunia yang penuh tipu daya. Yang bisa memberi semangat bahwa dia harus tetap kuat meski mentalnya sedang tidak sehat di tengah orang-orang yang sekarat.

Menjadi Diri Sendiri.

Sayangnya, aku tidak bisa mengikuti mereka hingga akhir. Ada urusan sepenting mengenal diri sendiri di lab komputer.

Di lain siang, hari di mana kami mengobservasi kegiatan belajar mengajar di sebuah PAUD ternama. Saat seluruh observer dikumpulkan untuk berdiskusi tentang hasil pengamatan mereka di sekolah yang setiap kelasnya setidaknya ada satu anak 'istimewa' di tengah anak-anak tipikal.

Sang kepala sekolah sekaligus pengelola PAUD itu berkata, "Alasan kita menyatukan mereka? Karena kami yakin mereka (anak istimewa) bisa beradaptasi dan merasa diterima. Anak tipikal juga bisa belajar dan paham kalau ternyata ada anak yang berbeda dari dirinya. Kami juga awalnya merasa tidak yakin. Tapi setelah memantaskan diri, berusaha menjadi positif, kita bisa membuat mereka positif atau paling tidak memancarkan energi positif."

"Orang yang positif bisa melihat hal positif dalam diriya, bisa melihat hal positif dalam diri orang lain nantinya. Maka kenalilah hal postif kalian."

Karena ternyata mengenal diri sendiri bukan sekedar tahu apa yang kita mau atau apa yang kita butuh. Tapi juga apa yang orang lain dapat dari kita.

Menjadi diri sendiri itu penting. Menentukan pilihan itu penting. Menghargai orang lain itu penting. Yang lebih penting lagi, bisa mengenal Sang Pencipta agar bisa menjadi pribadi yang lebih berarti dan bahagia di tempat abadi.

.

.

.

Terimakasih kepada kedua temanku atas waktu istirahatnya!

Share:

Self Reward, First!

Self Improve, First!


 Salah satu teman baikku mengadu. Dia mengeluhkan betapa sulitnya ia menghafal al-qur'an. Padahal tenggat waktu untuk menyelesaikannya semakin dekat.

"Aku sama sekali enggak suka ngafalin. Kenapa kita harus ngafalin di dunia ini? Kalau bukan karena aku yang butuh, enggak akan mau aku ngafalin."

"Ngafalin itu susah. Pengen nangis terus rasanya."

"Aku benci menghafal."

Dan segala keluhan lain yang dia lontarkan. Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Dengan 'sok bijak' aku berguman, "kalau sudah mengiyakan dari awal, kenapa mengajukan diri untuk berhenti?"

Tidak, aku tidak benar-benar mengatakan itu. Aku pikir itu tidak akan membantunya. Yang saat itu kulakukan hanyalah mengusap punggungnya dan mengepalkan jari tangan yang lain dan berbisik padanya, "semangat!" dengan wajah ceria.

Satu bulan berlalu. Kabarnya sudah menyelesaikan hafalan tersebar dengan mudah, 'semudah' dia menghafalnya. Seisi kelas ramai mengucapkan selamat dan mendoakannya.

Ketika waktu istirahat tiba, aku menghampirinya.

"Selamat udah menyelesaikan hafalan buat orang yang nggak suka ngafal."

Kala itu, dia yang tertawa.

Kalimat setelah 'selamat' sebenarnya tidak bermaksud serius. Tersirat bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa untuk dilakukan. Menghafal -terutama al-qur'an- bukan soal kemampuan, tapi kemauan.

Di lain kesempatan, saat kami sedang bercakap-cakap dia menyinggung peristiwa itu.

"Kamu benar. Saat kamu mengucapkan selamat waktu itu, aku baru ingat kalau aku harusnya memberi selamat pada diriku terlebih dahulu."

Seperti halnya dia, aku yang mendengar pengakuannya juga baru menyadarinya. Aku tidak tahu kalau mengapresiasi diri sendiri itu pengaruhnya sangat besar. Selain untuk menghargai kerja keras yang kita lakukan, mengapresiasi diri juga memberikan dampak positif dan menambah energi meski saat itu tidak ada yang mau menghargai kita.

Kasus lain yang serupa tapi tak sama, adalah ketika salah satu temanku yang lain menunjukan kalau dirinya suka gaya pakaian yang abstrak. Terlihat dari celana yang tidak biasa digunakan oleh sebagian besar dari kami, caranya me-mix and match pakaian yang dia pakai, aksesoris serta benda-benda unik lain yang dimilikinya.

Kami yang pertama kali melihatnya tentu saja aneh dan tidak biasa. Namun karena kami melihatnya enjoy dan biasa saja dengan sikap aneh kami, tidak perlu debat kusir berpuluh-puluh season kami ikut-ikutan mengenal gayanya yang abstrak. Berbeda dengan orang yang sudah dinyinyir namun dia justru down. Orang-orang justru akan tambah menjatuhkannya.

Tidak mudah memang. Tapi itu kenyataannya. Semakin dipikirikan, reaksi orang akan semakin memburuk terhadap diri kita. Maka dari itu, apresiasi diri sebelum diapresiasi itu suatu keharusan.

Self Improve, First!

Selain mengapresiasi, menghibur diri juga sama pentingnya.

Waktu itu terjadi kesalahpahaman yang membuat aku dan teman-temanku geram. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing masalah itu. Tapi karena faktor lingkungan yang berada di antara orang-orang yang bilang tidak suka, aku jadi ikutan tidak suka. Hingga salah satu temanku menenangkan kami semua agar mendinginkan pikiran dan melapangkan hati. Toh membicarakan orang juga tidak baik. Kami pun mengiyakan.

Hingga pada suatu hari, aku mengusulkan agar kita meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan pihak terkait. Namun kebanyakan dari teman-temanku menolak. Mereka lebih memlikih tutup telinga, tidak mau dipikirkan dan menjaga jarak dengan masalah itu. Masalahnya memang tidak 100% clear, tapi hal tersebut menutup terjadinya masalah baru. Sebenarnya solusinya sederhana. Terlalu diambil pusinglah yang membuatnya terlihat rumit.

Menghibur diri sendiri akan membuatmu lebih relaks dan lebih menghargai setiap takdir yang diberikan.

Berkaitan dengan ini, kecerdasan intrapersonal dan interpesonal sangat erat kaitannya. Bagaimana kita melihat ke dalam diri dan memandang orang lain butuh skill khusus. Setiap orang harus memiliki dua kecerdasan ini dengan porsi yang seimbang. Karena kalau berat sebelah, bisa semakin kacau.

Sekarang aku paham betul; kenapa orang-orang banyak menuarakan tentang self healing, kenapa buku-buku tentang self improvement banyak peminatnya, kenapa orang-orang terlalu sering merasa depresi hingga merasa hilang harapan dan tak jarang yang memilih mengakhiri hidupnya. Itu semua hanya satu jawabannya: Tidak perlu memperdulikan orang yang tidak memperdulikanmu.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka konten tentang self improvement, aku sebenarnya hanya ingin berbagi cerita-cerita tadi. Orang lain memang hanya ingin pengakuan dari kita, kalau kita sebenarnya menyukai diri sendiri dan menyayangi mereka. Mulai sekarang mungkin kamu bisa mulai berlatih mencintai diri sendiri yang tidak banyak orang lain tahu tentang itu, belajar memaafkan kesalahan dan berterimakasih atas setiap hal yang menyenangkan. Ubah pola pikirmu ke arah yang lebih positif tanpa perlu merendahkan diri. Toh, derajat manusia semuanya sama di mata Allah.

Selamat merayakan dirimu dengan baru di tahun yang baru!!

Share:

The First Sun of August




Tidak terasa tahun 2021 berlalu begitu cepat. Di akhir pekan yang juga merupakan awal bulan ini matahari bersinar sangat terang. Senyum-senyum merekah. Banyak orang yang berharap, seperti awal bulan sebelumnya, semoga bulan ini menjadi lebih baik lagi. Corona segera menghilang tanpa bekas, dan tidak ada lagi berita duka yang datang silih berganti.

Tidak seperti bulan sebelumnya juga, aku sangat bersemangat untuk memposting artikel baru meski aku tidak tahu apa yang harus aku tulis. Minggu depan aku harus kembali bergelud dengan diri sendiri, berjuang menuntut ilmu di salah satu kota di timur Jawa Barat. Mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tidak bisa memposting satu artikel per bulannya.

Berbicara soal bulan Agustus, aku teringat salah satu orang yang lebih dicintai Allah ketimbang dia sendiri mencintainya. Allah lebih menyayanginya dibanding seluruh orang yang mengenalnya. Dan karena itu, ada banyak pertanyaan yang muncul satu per satu.

Apakah di dunia ini ada suatu benda mati atau hidup yang benar-benar milik kita? Adakah di dunia ini yang benar-benar mengatakan kalau barang ini, temuan ini, orang ini, adalah miliknya? Mungkin ada. Dia benar-benar memiliki barang itu seutuhnya. Sepenuhnya. Dia beli barang itu dengan uang hasil jerih payahnya. Tapi kemudian barang itu hilang. Dan dia sudah tidak bisa menemukannya lagi.

Ada orang pulang dengan wajah sumringah dan hati gembira karena baru saja memenangkan undian lotre. Tapi di tengah jalan orang itu bertemu dengan seorang nenek yang sakit-sakitan. Biaya rumah sakitnya setara dengan jumlah uang lotre yang dia punya. Apakah uang itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang mengatakan kalau ini temuannya. Nama hasil ciptaannya itu menggunakan nama belakangnya. Tapi setelah waktu berlalu, dia meninggal. Saat dikuburkan, temuannya diambil alih oleh rekannya. Apa barang ciptaannya itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang yang berseru kalau wanita disebelahnya adalah miliknya. Mereka berdua sudah saling mengikat janji suci sehidup semati. Siapapun yang ingin mengambilnya harus melangkahi kuburannya dulu. Tapi wanita miliknya harus terbaring kaku dan pergi mendahuluinya. Apa wanita itu tetap menjadi miliknya?

Lalu, kalau memang sesuatu itu bukan milik kita, kenapa kita harus sedih saat sesuatu itu hilang dari genggaman kita? Bukankah di bawah kita lebih membutuhkannya dari kita? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa sudah memberitahu kalau segala sesuatu akan kembali pada-Nya? Kenapa harus menyayangkannya?

Jawabannya, karena manusia terkadang melewatkan kesempatan yang ada. Kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, kesempatan untuk mengetahui lebih luas, kesempatan untuk menyanyangi orang lebih tulus, dan yang selalu terlewatkan adalah kesempatan untuk beribadah lebih giat.

Dan semoga, di bulan Agustus ini semua kesempatan baik itu dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Apalagi, hari jadi negara ini sudah hampir di depan mata. Tahun ini, negara ini bisa merdeka dari corona!!~
Share:

How I Get A Best Night Rest




Kita sebagai manusia sangat membutuhkan istirahat. Belum lagi setelah seharian bergelut dengan seabrek pekerjaan yang enggak ada habisnya. Istirahat bisa menjadi alasan tepat untuk melepas lelah. Terutama pada malam hari. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan malam untuk manusia.

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qashash: 73)

Sepertinya ayat di atas sudah cukup jelas. Untuk tafsir lebih lengkapnya bisa dicari di sini. Sesuai judul yang tertera, kita akan mencari tahu cara mendapatkan istirahat malam yang baik.

Manusia yang diciptakan berbeda-beda, pasti punya cara tersendiri versi mereka agar bisa istirahat dengan nyaman. Ada yang harus menyalakan lampu saat tidur, ada yang bisa tidur kapan saja asal nyenyak dan lain sebagainya tergantung kenyamanan masing-masing. Meski begitu, kita harus tetap memperhatikan do and don't-nya. Karena selain nyaman, kita juga harus bisa merasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan. Apalagi ini adalah istirahat, tidur malam, yang kurang lebih setengah dari hidup kita dihabiskan untuk ini.

Aku sebenarnya juga termasuk salah satu orang yang bisa tidur bagaimanapun keadaannya asalkan ada barang yang bisa dipeluk. Selain itu, sebelum masuk kamar aku usahakan untuk sikat gigi dan mencuci muka, tangan dan kaki. Juga tidak lupa untuk berwudhu. Karena kita tidak tahu apakah ini tidur sementara atau selamanya.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Setelah urusan di kamar mandi selesai, aku beranjak ke kamar dan membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.

“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]

Beres semua, tempat tidur pun mempersilahkan kita untuk merebahkan diri di atasnya. Ritualku sebelum tidur adalah work out ringan. Hanya menggerak-gerakan kaki saja. Berikutnya baca doa. Disyariatkan untuk meruqyah diri sebelum tidur seperti membaca surat al-ikhlash, al-falaq, an-nas, dan ayat kursi. Kemudian membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” [HR. Bukhari no. 6312dan Muslim no. 2711].

Setelah itu cobalah untuk menutup mata perlahan. Menghayal boleh, overthingking jangan. Tidak bisa tidur? Tidak masalah selama tidak menggunakan barang elektronik lagi. Ambillah buku yang bisa membuat mata merasa lelah. Kalau tidak bisa juga, ambillah al-quran karena ayat-ayatnya menenangkan.

Ada sedikit tambahan juga dari orangtuaku. Entah kenapa mereka selalu menggunakan heksos ketimbang kipas angin. Kalaupun menggunakan kipas angin, pasti selalu dihadapkan ke dinding. Aku tidak pernah tahu alasan pastinya sebelum akhirnya aku tahu kalau ternyata hal itu dapat menyerap cairan dalam tubuh. Sehingga tubuh akan menurun lalu kekurangan cairan bahkan dehidrasi. Kemungkinan lainnya bisa dilihat langsung di sini.

Malam tidak harus melulu dilampiaskan dengan berpikir tentang hal-hal rumit yang justru membuat kita semakin stress. Malam juga tidak harus melulu dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Malam hari adalah waktu terbaikmu.

Selamat beristirahat!

.
.
.
Referensi:

Share:

Realita 17 Tahun

Kue


"Ada yang ulang tahun, nih!"

"Cie... udah 17 Tahun, ya!"

"Happy sweet seventeen!"

Bentar-bentar, emang ada apa di umur 17 tahun?

Buat sebagian orang yang merayakan ulang tahun, pasti merasa kurang kalau di umur 17 tahun ini tidak dirayakan dengan spesial. Katanya, di tahun itu adalah masa-masa transisi dari remaja menuju dewasa. Maka, tak jarang juga mereka membuat pesta meriah seperti ulang tahun yang ke 7 tahun. Ada juga yang hanya sekedar acara syukuran dan doa bersama agar remaja tanggung yang bersangkutan diberi kesehatan, rezeki, pasangan, dan jalan hidup yang lancar.

Disini aku tidak sedang membicarakan hukum merayakan ulang tahun yang memang dilarang dalam syariat Islam meski dalam bentuk apapun. Tapi membicarakan si angka 17 tahun.

Perayaan bertambahnya umur yang datang setiap tahunnya selalu jadi momen yang membahagiakan. Mereka bergembira dengan usia mereka yang semakin membesar jumlahnya. Lalu meniup lilin setelah mengaminkan harapannya. Dan lupa terhadap apa yang telah mereka lewati sebelum mencapai fase saat itu. Padahal, dibalik usia yang bertambah ada waktu kehidupan yang sudah berkurang. Artinya, entah kapan waktunya, kamu akan lebih dekat pada kematian.

Tidak bisa dipungkiri, anak kecil yang sudah paham dunia akan ingin cepat-cepat dewasa. Remaja di masanya yang masih labil selalu ingin mendapat perhatian lebih. Namun mereka tidak bisa memutar balik waktu karena menjadi dewasa tidak semenyenangkan imajinasi anak-anak.

Segala sesuatu menyimpan sisi baik dan buruk. Baiknya, di umur 17 tahun ini kamu bisa mengakses hal-hal yang sempat dilarang waktu belum cukup umur. Negara mengesahkan kamu sebagai penduduk yang terdaftar. Mereka juga menerbitkan surat izin buat yang sudah bisa mengemudi. Namun tetap dalam batasan-batasan tertentu. Karena dunia ini masih punya aturan agar bisa berjalan dengan damai.

Menjadi dewasa berarti merelakan hal-hal yang sangat kamu inginkan. Kita dituntut untuk lebih 'matang' disaat masih memerlukan asupan. Akan banyak pengorbanan yang dikerahkan dan air mata yang ditumpahkan. Semuanya hanya untuk memenuhi hasrat orang lain atas kita. Meskipun yang tua belum tentu dewasa, setidaknya dunia ini masih punya generasi setara anak-anak yang memerlukan kasih sayang orang yang lebih besar dari mereka. Dunia juga masih punya orang-orang berusia lanjut yang perlu bantuan di masa-masa mereka yang serba terbatas. Dunia ini masih berjalan.


Menjadi dewasa berarti siap berair mata


Aku yang juga masih 'mentah' diminta untuk tetap berdiri, di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam walau tanpa payung atau mantel. Itulah dunia yang realitanya tidak pernah seindah ekspetasi yang berlebihan, apalagi disamakan dengan imajinasi anak kecil.

Sebagai manusia yang sadar umurnya sedang bertambah, kita seharusnya intropeksi diri. Sudah sejauh mana kita berlari. Sudah sampai mana kita mendaki. 17 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tuntutan semakin besar, beban terus bertambah, dan segalanya akan berubah perlahan-lahan. Kita juga harus bisa mengontrol diri agar terlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang tidak mudah mendapat tekanan yang besar dari luar. Apalagi dipaksa untuk tidak mempertahankan ego sendiri. Meski kita hidup bukan untuk memuaskan makhluk lain, setidaknya kita harus paham kalau kita tetap manusia. Makhluk soisal yang butuh dan dibutuhkan makhluk lainnya.

17 tahun, sweet seventeen atau apalah namanya yang katanya masa-masa semanis susu atau lebih manis dari madu harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan membuat masa-masa indah ini menjadi suram karena patah hati yang kepanjangan, atau membuatmu terlena karena terlalu indah. Jangan sampai masa-masa ini justru membuatmu kecewa dan menyesali semua yang sudah kamu sia-siakan sendiri. Manfaatkan waktu dan jangan lupa untuk selalu bermuhasabah. Semoga hidupmu berkah.

Terimakasih.



Share:

Pelajar 2021


Belajar di Rumah

2021, virus yang memangsa manusia di seluruh dunia ini belum menunjukan tanda-tanda kepunahan. Mungkin kalau dibilang punah, dia belum sepenuhnya punah. Bisa jadi fosilnya masih mencari inang meski sudah tidak viral lagi. Tapi semoga saja itu tidak terjadi.

Dunia yang malang, ditengah kerisuhan ini harusnya ada yang bisa diambil hikmahnya. Quality time bersama keluarga misalnya, karena dengan adanya pandemi ini seluruh kegiatan yang ada di luar rumah harus dihentikan. Atau lingkungan yang semakin hari semakin bersih. Munculnya virus ini juga memunculkan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungannya.

2021, teknologi semakin canggih atau keadaan yang memaksa?

Atau mungkin aku yang ketinggalan zaman :)

Aku iseng menjalajahi website yang menyediakan banyak foto. Waktu itu aku ingin mencari gambar untuk dijadikan pelengkap di postingan blogku yang sebelumnya. Aku mulai mencari "classroom". Namun yang keluar justru orang yang duduk dengan serius di depan perangkat kerasnya. Mungkin orang-orang yang sedang duduk di kelas sudah tidak relate lagi di tahun ini.

Well, tentu ada sisi positif tanpa hal negatif. Dari semua yang negatif, sekolah di rumah menjadi salah satunya. Aku adalah siswa yang menjadi korban keganasan mata pelajaran tersulit. Karena mau bagaimanapun caranya, melihat video pelajaran tidak selalu membuatku paham. Bahkan menuntut penjelasan lagi dan lagi setiap menontonnya. Belum lagi godaan yang selalu datang tanpa mau ditunda untuk melakukannya.

                                 Daring


Ada yang satu server✋?

Jangan bangga dulu, kita ini ketinggalan!!

Kepada kamu kamu yang susah mengejar pelajaran, tarik napas. Yang dalam. Tahan sebentar, lalu buang perlahan lewat mulut, jangan lewat dubur. Ups.

Kita hanya perlu relaks. Buang kata 'tidak bisa' ini jauh-jauh. Sejauh mungkin. Sejauh yang tidak bisa kamu bayangkan akan sejauh apa. Karena kalau masih stuck dengan ini, kapan bisanya?

Selanjutnya, yang biasanya aku lakukan adalah refreshing sejenak. Sejenak ya. Bisa dengan melakukan peregangan, jalan-jalan keliling rumah, atau menonton hal-hal yang lucu. Lalu, kalau mood-nya sudah membaik, aku kembali menjajal satu-satu materi yang belum aku kuasai.

Lalu, aku biasa menelpon satu-satu teman-temanku yang sudah paham. Kalau perlu gurumu langsung. Mereka mungkin bisa lebih membantumu.

Anyway, kita mungkin bisa belajar dimana saja. Belajar di rumah mungkin bisa menjadi pengalaman baru bagi yang sudah sangat jenuh kalau setiap pagi-pagi buta berangkat ke sekolah, lalu pulang menjelang malam. Apapun kendalamu, SEMANGAT! Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran yang tidak akan pernah ada di sekolah manapun, di waktu kapanpun.
Share: