Tampilkan postingan dengan label Tale. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tale. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa 2025

Bunga


Kebiasaan baru yang lahir di tengah pandemic covid-19 lalu ternyata memiliki manfaat. Bekerja dari rumah sekarang mulai dinormalisasikan meskipun klien atau tempatmu bekerja bukan di luar negeri. Ada beberapa perusahaan dan start-up yang membuat jadwal khusus; di mana karyawannya dapat bekerja dari rumah di hari-hari tertentu.

Tidak hanya bekerja, belajar dalam jaringan juga tidak ketinggalan. Banyak webinar yang diselenggarakan melalui zoom hingga namanya bergeser menjadi zoominar. Kelas dan kursus online juga semakin banyak.

Kebiasaan baru ini tidak lepas dari peran teknologi. Akhir-akhir ini teknologi semakin diperbarui dan semakin canggih. Ditambah kehadiran akal imitasi yang mempemudah semua proses akademis; meneliti, membuat tugas, dan lain sebagainya.

Meski teknologi terbaru membuat belajar dalam jaringan menjadi lebih menyenangkan, tetap tidak bisa dikalahkan dengan belajar bersama di dalam kelas.

Apalagi karena situasi yang menuntut para siswa agar belajar melalui aplikasi video conference di rumah masing-masing.

Awal September 2025, gubernur beserta polisi di beberapa daerah mengeluarkan surat keputusan yang mengizinkan sekolah dan universitas melakukan kegiatan belajar mengajar di rumah masing-masing. Buntut panjang dari kerusuhan anarko membuat kantor polisi, kantor dewan, dan jalan-jalan daerah menjadi tidak aman.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Indonesia yang baru saja melewati 80 tahun kemerdekaanya ini masih dihadapi oleh krisis berkepanjangan di segala aspek. Kerusakan biota alami demi kepentingan pribadi, ekonomi tidak stabil, nepotisme, korupsi, tanah ngaggur disita, rekening ngaggur diblokir, rakyat nganggur dibiarin, dan masih banyak lagi. Masyarakat menuntut keadilan pemerintah pusat agar memenuhi janji-janji mereka ketika masa pesta demokrasi.

Pemerintah kemudian menepati janjinya. Kalimat yang waktu itu diucapkan sebagai cara mereka untuk memberantas korupsi. Yaitu, menaikan gaji pejabat.

Berita soal kenaikan gaji dan tunjanan anggota dewan terbit. Terlihat pula euphoria para penerima gaji tersebut yang menari riang gembira di ruang rapat di sebuah gedung besar di Senayan. Sangat kontras dengan aktifitas ekonomi di luar pagar gedung tersebut.

Berita kembali diwarnai dengan respon para pejabat yang tidak tahu malu itu. Sudahlah tidak bisa berhitung, mereka juga tidak bisa berbicara. Ucapan mereka terdengar tidak berpendidikan.

Masih di bulan Agustus, beberapa hari setelah perayaan kemerdekaan yang diadakan besar-besaran di Istana Negara serta perayaan kenaikan gaji, rakyat turun ke jalan. Mereka menyuarakan aspirasi agar tunjangan rumah dan kenaikan gaji anggota dewan dibatalkan.

Beberapa hari kemudian, demo buruh juga berlangsung. Aksi ini dilakukan para buruh yang menuntut kenaikan upah minimum untuk mereka.

Seingatku, demo yang berlangsung tanggal 21, 25, serta tanggal 28 Agustus. Kupikir, demo tanggal 25 Agustus hanyalah ajakan kosong yang tersebar di media sosial. Ternyata, halaman FYP memang sedang diawasi agar kegiatan demo tidak dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.

Ketiga aksi demo tadi berlangsung cukup kondusif. Mengigat mereka semua tahu, menyampaikan aspirasi sudah cukup dengan suara dan tindak nyata, tidak perlu mencari perhatian dengan melakukan aksi berbahaya dan merugikan lainnya. Karena mereka juga tahu, suara mereka akan tertutup dengan kerasnya berita berbahaya.

Namun, 28 Agustus sore, aksi demo tiba-tiba memanas. Massa bergaduh di sekitar daerah demo. Polisi tentu turun ke jalan dengan lebih berani, menghentikan aksi-aksi ‘brutal’ dengan cara yang tidak kalah brutal. Puncaknya, seorang ojek online yang bisa dibilang seangkatan denganku, yang hanya mengantarkan makanan, dilindas kendaraan taktis.

Peristiwa itu membuat kerusuhan massa menjadi lebih besar. Kantor polisi kemudian diserbu massa, menuntut keadilan dan ketegasan hukum atas nyawa seorang tak bersalah yang hilang begitu saja.

Di saat berduka dan genting itu, provokator juga ada. Menjadi yang paling brutal di antara semuanya. Mengadu domba masyarakat dan apparat. Membakar fasilitas umum. Melumpuhkan transportasi public. Menjarah rumah anggota dewan. Serta memperluas arena kerusuhan. Di beberapa daerah lain, perusuh menggrebek kantor polisi, hingga membakar gedung DPRD. Korban jiwa terus bertambah akibat kerusakan yang mereka lakukan.

Karena itu, tanggal 1 September, aku kembali belajar di rumah. Aku juga tidak boleh keluar bersama teman. Kerusuhan yang terjadi membuat parno orang tuaku. Untungnya, kampusku juga mengeluarkan kebijakan agar belajar di rumah saja.

Tidak ada yang menyenangkan dari sebuah keterpaksaan. Kerusakan dan ketidakamanan di jalan lah yang mengharuskan kami, para pelajar dan mahasiswa, yang harus berlapang dada agar tetap belajar.

Tuntutan rakyat ketika demo akhirnya dirangkum oleh beberapa influencer.

Aksi damai juga dilakukan beberapa kelompok masyarakat. Kini, keadaan berlangsung pulih. Masyarakat juga bisa bersuara melalui media sosial, serta melalui warna.

Cepat pulih, Indonesia. Mari memuat ulang untuk Indonesia yang lebih merdeka.

 

Share:

Lika-liku Memesan Makanan Dalam Jaringan

Makanan


Teknologi makin kesini jadi makin kesana, ya? Hah? Gimana tuh, maksudnya?

Di era digitalisasi alias dunia yang jadi serba canggih ini, manusia diberi banyak kemudahan lewat penemuan-penemuan terbaru dan teknologi yang lebih mutahkir. Kita lagi enggak ngomongin robot-robot aneh yang tanpa disuruh dulu mereka gerak, sih. Tapi dari yang paling simpel aja. Kalau mau makan tapi malesnya enggak bisa ditolong, pesan makanan online menjadi solusinya.  Pesannya tinggal melalui aplikasi yang bisa di unduh di ponsel masing-masing, Gojek salah satunya. Tinggal pilih menu favorit, klik, selesai. Pesanan akan sampai ke rumah. Para makhluk dari entitas kaum rebahan pasti setuju, dong. Aku salah satunya. 

Hari Minggu pagi yang cerah dan ceria, aku melakukan rutinitas harian seperti biasa. Menyapu, membuka jendela, menyiram tanaman, mencuci pakaian, dan minus belanja. Karena sejak kemarin, setiap bertanya kepada penghuni rumah tentang apa menu masakan yang ingin mereka nikmati besok (red: Hari Minggu) jawabannya selalu sederhana tapi memiliki penafsiran yang super rumit, "terserah."

Karena jawaban yang ambigu tersebut, aku memutuskan untuk melakukan apapun sesukaku, salah satunya tidak belanja. Itu menandakan juga kalau aku tidak perlu memasak.

Hari menjelang siang. Jam makan sudah di depan mata. Perut kami juga sudah mulai keroncongan. Siang hari dan perut kosong adalah kombinasi yang tepat untuk menyantap bakso dan mie ayam. Apalagi, momen makan siang bersama dengan anggota keluarga yang lengkap jarang terjadi dikarenakan ayah masih berada di kantor ketika hari biasa pada jam makan siang. Ayah langsung mengambil ponselnya dan membuka Gofood, salah satu layanan yang disediakan Gojek untuk pesan makanan online. Selain pesan makanan, kita juga bisa pesan ojek online lewat layanan Goride di aplikasi tersebut dan siap mengantarkan kita kemanapun kita mau. Praktis, 'kan?

gojek super app
sumber gambar: gojek


Setelah melalui perdebatan panjang dan scrolling tanpa ujung, akhirnya kami memutuskan untuk memesan satu posri mie ayam dan dua porsi mie bakso di salah satu rumah makan yang tersedia di aplikasi. Pesanan akan sampai dalam 20 menit.

Benar saja. Dua puluh menit kemudian pesanan kami tiba. Siang itu cukup terik. Aku sampai tidak bisa melihat wajah drivernya dengan jelas ketika mengambilnya. Yang aku tahu, aku sekarang bisa makan. 

Setelah memberikan sejumlah uang sesuai aplikasi, aku membantu menyiapkan makanan di meja. Tapi ada yang kurang. Hanya ada dua porsi bakso. Kemana mie ayamnya?

Sempat panik beberapa saat, ayahku akhirnya menghubungi Driver tadi dan menanyakan pesanan kami yang kurang. Yang kubayangkan dari percakapan lewat telepon itu, mungkin Si Driver menepuk jidatnya karena lupa. Kedua porsi mie bakso beliau gantung di motor bagian depan, karena tidak cukup dan khawatir terjatuh dalam perjalanan, beliau menaruh mie ayam di dalam bagasi motor.  Beliau langsung putar arah dan sampai di depan rumah. Kami pun menjadi lega dan mulai menyantap makan siang dengan senang.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, aplikasi Gojek juga memudahkan kita untuk berpergian dengan aman dengan pesan ojek online menggunakan layanan Goride atau Gocar.

Sekolahku yang berada di luar kota mengharuskan para siswanya agar tiba di sekolah sebelum pukul 5 sore setelah liburan panjang di kampung halaman masing-masing. Itu berarti aku harus berangkat pagi-pagi agar tiba di sana tepat waktu. Kupikir, tidak ada driver yang bersedia mengantar pukul 5 seperti saat itu. Namun ternyata pikiranku itu salah. Aku mendapatkan driver yang ramah dan sampai di terminal dengan selamat.

Selain dua pengalaman berkesan yang sudah kutulis tadi, masih ada pengalamn unik lainnya yang tidak kuingat dengan jelas agar bisa ditulis kembali. Mungkin akan kutulis di lain kesempatan. Bagaimana pun, kemudahan-kemudahan itu tidak boleh menjadikan kita pribadi yang malas (aku contohnya, hehe). Namun harus menjadikan kita semakin produktif karena waktu kita bisa lebih efisien dan efektif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut dengan bijak.

Bagaimana dengan ceritamu? 
Share:

Welcome to The Jungle!

kemah di hutan

Berkemah di Jabal Nur adalah pengalaman yang benar-benar baru dan seru. Ada banyak kegiatan yang diselenggarakan panitia untuk mengisi jam-jam menyenangkan itu dengan beragam permainan. Seperti menangkap ikan, memasak menu makan malam sendiri, bakar jagung, dan outbound. Aku juga tidak menyangka kalau tempat yang akan kami singgahi adalah hutan yang dirapihkan sedemikian rupa baru-baru ini. Lokasinya yang berada di 
 Sukasetia, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat membuat tempat itu menjadi sangat dingin. Tempatnya juga lumayan menarik. Dari ketinggian tersebut, kami bisa melihat pemandangan Kota Tasikmalaya pada malam hari yang indahnya bisa dibilang setara dengan bintang di langit. Sayangnya langit pada waktu itu sedang mendung sehingga kita hanya bisa menikmati kelap-kelip lampu jalan di bawah sana. 

Berkemah semalaman saja tidak membuat kami merasa puas, ditambah dengan jadwal pulang yang dipercepat. Meski cuman semalam, ditambah cuaca yang tidak bersahabat sejak sore, waktu ternyata tidak memberi batas pengalaman yang akan kita rasakan asalkan kita memanfaatkannya dengan baik.  Dan karena kami berkemah di tempat terbuka, maka apapun bisa dilihat dengan mudah -bagi yang bisa melihat-.

Kelompok kami yang hanya memiliki 1 pisau terpaksa memasak lebih lama. Menu yang kami buat adalah chicken and fish fillage. Banyak yang bilang itu adalah menu elit yang seharusnya tidak dimasak saat berkemah. Beruntung kami masih bisa makan malam itu meski sudah pukul 20.45 waktu Tasik.

Kami menggelar matras di depan tenda dan makan bersama di sana. Salah satu temanku makan dengan lahap meski terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Aku yang kelaparan tidak tahu kenapa dia bertingkah demikian. Dia sempat menyuruhku untuk memperbaiki posisi duduk. Tujuannya agar menghalangi pandangan dia dari hutan yang tidak jauh dari tenda kami. Aku menyarankan diri agar berganti posisi namun dia tidak mau. Kami pun melanjutkan makan malam kami sesegera mungkin karena akan ada acara bakar jagung setelah ini.

"Aku tidak bisa berhenti dzikir sejak makan," akunya ketika kami sudah bersiap-siap untuk tidur.

Kenapa dia tidak mulai dzikir sejak kita tiba di sini?

Dan di hari-hari berikutnya dia baru bercerita kalau dia menangkap sosok yang kalian pun sudah tahu pasti apa warnanya secara umum lewat di antara pepohonan yang kebetulan aku duduk memunggungi hutan itu ketika makan. Ternyata itu alasan dia makan seperti orang yang habis kena bully.

Beberapa teman-temanku juga bercerita kalau mereka mencium aroma melati dan merasakan sesuatu yang halus berhembus melewati mereka tapi bukan angin.

Ketika aku menulis ini, waktu menunjukan pukul 00.41 waktu Banjar.

Saking semangatnya untuk kemah kali ini, kami memutuskan untuk tidak tidur cepat meski badan sudah lelah. Hingga akhirnya salah seorang guru turun (karena letak komplek tenda kami ada di bawah) untuk mengingatkan kami kalau sekarang semuanya harus segera tidur. Tidak jauh setelah sang guru naik kembali ke tempat tendanya, suara babi hutang terdengar jelas. Ketika diperiksa lagi, transhback hitam besar milik tenda paling ujung sudah jatuh dan berserakan isinya.

Mungkin ada banyak kejadian lain selain itu. Tapi malam itu tidak sepanjang yang kita kira. Fajar sudah menyingsing dan kami sudah harus melakukan aktivitas yang lain. Apalagi kalau bukan masak sarapan sendiri? Bahkan setelah itu, kami harus segera membereskan tenda agar bisa langsung pulang setelah outbound.

Dua minggu berlalu dan sekarang aku sudah berada di Banjar, Jawa Barat. Dan sekarang jam menunjukan pukul 00.50 waktu Banjar.

Agenda kami setelah outing class tersebut adalah khidmah masyarakat. Kelompok kami diamanahi untuk melakukan pengabdian pada masyarakat untuk menjalin ukhuwah dan berdakwah di Banjar. Aku juga tidak mengira kalau aku akan ditempatkan di kota yang sama sekali tidak pernah kusinggahi kecuali hanya lewat.

Kami tinggal di sebuah rumah yang disewa untuk seminggu ke depan. Letaknya di Parunglesang, yang warganya rata-rata agak asing dengan cara berpakaian kami yang hitam dan pergi bergerombol. Rumahnya cukup luas untuk ukuran sebelas orang yang isinya perempuan semua. Ada 2 kamar tidur (salah satu kamarnya kami jadikan sebagai ruang ganti dan menyimpan barang-barang kami), ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi yang luas meski bak mandinya menggunakan ember besar, dan dapur yang luas. Tidak ada perabotan berarti di rumah ini kecuali satu ranjang, rice cooker,  dispenser dan kompor satu tungku. Ada juga satu set sofa di teras. Kami sudah lumayan puas. Untuk tinggal di Kota Banjar yang panas dan rumah tanpa kipas atau AC, kami memutuskan untuk tidur di bawah beralaskan karpet dan selimut.

Satu malam di sana kami lalui dengan senang hati. Malam berikutnya kami juga mengharapkan hal serupa.

Pukul sebelas kurang lima belas menit waktu Banjar. Kami sudah bersiap-siap untuk tidur. Karena kamar yang tersedia tidak cukup luas, maka sebagian orang harus tidur di ruang tengah. Aku kebetulan kedapatan tidur di kamar. Ketika aku sedang asyik menjalajah dunia internet, suara tikus yang berlarian di atap membuat kami agak kesal sesaat karena terlalu ribut. Namun tiba-tiba 2 orang temanku yang kebagian tidur di ruang tengah memasuki kamar dengan mengendap-endap. Mereka berdiam di depan pintu menawarkan diri untuk masuk kamar. Banjar yang panas dan semua orang masuk kamar membuat ruangan ini menjadi begitu pengap.

"Ada apa?" tanyaku tidak habis pikir. Kami yang di dalam kamar sudah ingin tidur dan bisa-bisanya mereka masuk dan membuat keributan yang riuh-rendah.

"Ada yang mengetuk pintu," jawab mereka setengah berbisik.

"Tikus itu," sahut teman yang sudah merebahkan tubuhnya di sebelahku.

"Bukan," bela mereka serius. "Ini dari pintu."

Rumah ini juga memiliki halaman belakang yang belum selesai dirapikan. Kami memanfaatkan lahan itu untuk menjemur pakaian. Kebetulan, pihak yayasan di Banjar sudah membuatkan jemuran pakaian dari bambu. Sisa-sisa puing bangunan juga masih berserakan di belakang rumah. Pintu belakang terletak di ruang tengah.

Mereka berdua masih duduk berdempetan di dekat pintu. Suara gaduh dari tikus itu terdengar lagi tetapi tidak segaduh tadi. Tidak lama kemudian, sisa orang yang masih di ruang tengah ikut masuk kamar.

"Ada yang ngetuk," ujar mereka juga. Kali ini ekspresi mereka lebih meyakinkan. Apalagi mereka langusung menerobos masuk kamar tanpa memperdulikan teman yang lain yang masih di mulut pintu.

Kamar jadi ramai dengan suara riuh-rendah dan mereka langsung mengambil tempat yang cukup untuk ukuran badan mereka. Sementara teman yang sudah tidur tidak ingin bangun dan pindah posisi. Terjadilah kesepakatan sepihak kalau kami harus tidur ber 11 di dalam kamar. 

Bentuk kamar itu memanjang sehingga terasa lebih sumpek. 4 orang kebagian tidur di atas ranjang. Sisanya yang lain harus seperti ikan pindang yang dijemur tidak karuan. Panas, lelah, dan mengantuk seketika hilang setelah terdengar ada yang suara ketukan dari pintu. Yang mendengarnya berteriak histeris. Benar-benar ada yang mengetuk pintu!

Aku dan salah satu temanku mencoba keluar kamar dengan keberanian yang dipaksakan. Kami berjalan mengendap-endap, khawatir seseorang yang mengetuk pintu itu berniat jahat pada kami. Aku dan dia mengecek kamar ganti, memastikan semua jendela dan pintu terkunci, juga mematikan lampu. Lalu kembali ke kamar tanpa suara kaki juga.

Aku yang masih belum mau tidur memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku menonton Youtube. Jam terus berputar hingga waktu menunjukan pukul satu kurang lima menit. Dan samar-samar kudengar pintunya diketuk lagi. Kali ini diikuti suara dari pagar.

Dengan tenang aku mencoba membereskan barang-barangku dan merebahkan tubuh. Sudah terlalu larut. Semua orang sudah lelap. Nyata atau tidak aku hanya berharap kalau dibalik pintu itu bukan manusia jahat agar tidak terus menerus berusaha mencari cara untuk membuka pintu.

Malam berikutnya, kami tetap tidur bersebelas di dalam kamar. Kali ini posisi tidurnya harus teratur sehingga bisa tidur dengan nyaman. Di ruang tengah ada ibu-ibu dari pihak yayasan yang bersedia menemani malam kami dan tidur di rumah kami malam itu.

Dan kemanapun kamu melangkah, lalu kamu menjadi orang asing dan baru di sana, ucapkanlah

Ø£َعُÙˆْذُ بِÙƒَÙ„ِÙ…َاتِ اللَّÙ‡ِ التَّامَّاتِ Ù…ِÙ†ْ Ø´َرِّ Ù…َا Ø®َÙ„َÙ‚َ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna aari kejahatan apa yang Dia ciptakan.

.
.
.
*gambar hanya ilustrasi.
Share:

Perjalanan Ini...

Bis

Sengaja, liburan kali ini aku tidak ingin di rumah nenek. Bukan karena tidak menarik, tapi aku hanya ingin menghindari rute Tasikmalaya-Kuningan. Selain karena terlalu dekat, rutenya penuh dengan jalan berkelok yang memabukkan. Maka, aku memutuskan untuk pulang ke tempat asalku dan dengan senang hati menerima perjalanan panjang yang kira-kira menghabiskan kurang lebih 6 jam untuk sampai. Dengan catatan tebal: kalau jalanan lancar jaya.

Hari yang dinanti-nanti seluruh santri tiba. Apa lagi kalau bukan perpulangan? Ditambah lagi semuanya diantar bersama-sama menggunakan bis. Ditambah lagi bis dengan jurusan Tasikmalaya-Bogor yang akan aku tumpangi berangkat paling pagi. Tidak terlalu pagi karena bis kami berangkat setelah bis Tasikmalaya-Tangerang yang berangkat pukul setengah enam. Tidak terlalu pagi karena banyak tetek-bengek yang harus diurus namun kalau diurus semua bisa-bisa malah enggak jadi pulang.

"Tahu enggak? Bis kita pulangnya lewat jalur Puncak," ujar salah satu temanku yang memberitahu wejangan ini jauh sebelum hari H.

"Kata siapa?" Aku bertanya balik.

"Katanya sih gitu. Jadi kita pulangnya enggak akan lewat tol," jawabnya tidak memberi jawaban.

"Ah, masa? Puncak 'kan macet banget." Aku menimpali seadanya karena tidak yakin dengan kebenaran berita tersebut.

"Enggak tahu, tuh. Aneh memang." Dia menambahkan.

Dan perjalanan itu pun dimulai.

Setelah bekal masing-masing dibagikan dan doa sudah dibacakan, bis kami mulai meninggalkan Tasikmalaya.

Sebelum benar-benar pergi, salah satu penumpang yang juga sama-sama santri berseru datar.

"Pak, dompet saya ketinggalan," ucapnya di waktu yang tepat karena kebetulan bis sedang mangkir sebentar entah karena apa.

"Kok bisa?" Salah satu guru pembimbing di bis ini yang dia ajak bicara menghampiri.

"Tadi sih saya taruh di atas kasur, Pak," jawabnya.

"Ya sudah. Mau bagaimana lagi? Bisa tidak ditinggal saja? Liburannya 'kan cuman 2 minggu." Pak Guru memberi pertimbangan. Bisa dibilang tidak mungkin kalau kita harus balik lagi hanya karena sebuah dompet.

"Tapi ada KTP-nya, Pak."

"Ya ini sudah agak jauh."

"Saya ambil pakai grab, deh." Dia memberi pilihan lain.

"Lama tidak?"

"..."

Bis pun berjalan lagi. Meninggalkan Tasikmalaya dan dompet yang malang itu.

Aku dan temanku mulai bercengkrama, makan-makan, tenggelam dalam kegiatan masing-masing, tidur.
Bis memasuki Garut. Dan kami berhenti sebentar.

Perjalanan dilanjut lagi. Tak lama kemudian kami berhenti di rumah makan lagi. Kali ini sedikit lebih lama dan bertemu dengan bis-bis yang lain dengan tujuan yang berbeda.

Setelah itu jalan lagi.

Aku menikmati perjalanan ini.

Benar-benar menikmatinya.

Sangat menikmatinya.

Saking nikmatnya hingga perasaan curiga muncul. Kenapa bis ini belum masuk tol padahal aku menunggunya agar bisa tidur lebih nyaman?

Jangan-jangan kabar temanku itu bukan hoax.

Aku mencoba tidak ambil pusing sampai bis ini berkelana di Cianjur. Ada beberapa santri yang ternyata harus turun di daerah ini.Aku baru tahu kalau ternyata bis Tasikmalaya-Bogor ini tidak ditumpangi orang Bogor dan Depok saja, tapi ada orang Cianjur juga.

Setelah sempat kesasar dan orang-orang Cianjur itu bertemu orangtua mereka dengan selamat, giliran kami yang menunggu kesempatan itu datang. Jalanan masih belum mulus bahkan banyak yang rusak dan semakin berkelok juga menanjak.

Kira-kira pukul 12.15 dan kami masuk kawasan Puncak.

Ungkapan kalau Bogor kota hujan benar-benar aku percaya sekarang karena sesaat setelah masuk daerah Puncak, hujan turun membasahi jalan. Siang yang panas menjadi terasa dingin.

Puncak yang tenang dan landai dengan irama rintik hujan. Aku berharap agar kecepatan bis ini konstan sampai tiba di tujuan. Hingga Perutku mulai lapar.

Hingga tidur bukan pilihan bagus.

Hingga bokong sudah tidak bersahabat lagi.

Hingga cuaca dingin dan AC bis sudah membuat kami menjadi beku.

Hingga orang yang ingin menunaikan hajatnya agak sulit menunaikannya.

Kami benar-benar terjebak macet.

Masing-masing dari kami mulai merasa tidak nyaman. Bis yang terseret-seret ketika jalan ini tidak bisa kami harapkan.

Pukul 14.00 waktu Bogor dan jalanan di jalur puncak ini tidak juga menunjukan tanda-tanda akan lancar.

Kami hanya bisa mengeluh menahan lapar dan rasa 'tidak tahan' yang lain.

Pak guru yang baik hati berusaha menghibur seisi bis yang sedang patah hati ini. Galau karena tak kunjung sampai dan bingung karena orangtua banyak yang sudah menunggu di pemberhentian akhir.

Sebagai ganti dari keresahan ini, beliau mulai membagikan beberapa jokes.

"Apa bedanya jalan tol dan kamu?"

Seisi bis bersorak.

Silahkan bisa dijawab sendiri.

Kemudian bis kembali hening karena pak guru lebih memilih untuk menemani pak sopir.

Hari beranjak sore. Hujan tak kunjung reda dan jalan tak kunjung lancar.

Kami pun akhirnya berhenti sebentar di sebuah pusat oleh-oleh untuk sholat. Jam menunjukan pukul empat sore waktu Bogor. Hujan deras.

Setelah sholat dan melemaskan bokong, kami mulai melanjutkan perjalanan lagi. Seisi bis juga sudah sedikit mencair. Karena mau bagaimanapun perjalanan ini masih sangat panjang.

Akhirnya penantian panjang itu berujung manis karena jalan yang lancar dan landai siap menanti kami.

"Ya, anggap saja pertemuan kita di bis ini merupakan ajang silahturahmi. Dan segala sesuatu yang telah dilewati itu merupakan takdir yang sudah ditulis sebelum diciptakannya bumi dan langit. Dan yang sudah bosan dari tadi harap bersabar sedikit lagi karena kita akan segera tiba sebentar lagi," ujar beliau. Kami hanya bisa mangut-mangut.

Dan karena pak guru sudah membicarakan takdir, kami akhirnya bisa memaklumi semua ini dengan tenang. Karena memang, segala sesuatu di dunia ini sudah digariskan dan tidak akan melenceng seinchi pun. Bahkan segala yang kering, yang basah, yang jatuh atau yang akan tetap diam semuanya sudah dituliskan di lauh mahfudz.

Ngomongin takdir, aku jadi ingat kejadian baru-baru ini. Waktu itu akan ada acara pentas seni besar-besaran yang akan diadakan oleh angkatan kami. Kami meminta perwakilan dari setiap angkatan lain untuk menampilkan setidaknya satu penampilan. Mereka semua sangat antusias dan semangat menyiapkannya.

Salah satu angkatan akan menampilkan puisi berantai yang sudah mereka siapakan lebih dari 2 minggu. Tapi, karena ada satu dan lain hal, penampilan mereka yang sudah 90% siap tampil itu dibatalkan. Ya. Dibatalkan.

Sakit hati sudah tentu. Di awal mereka marah habis-habisan. Tapi untungnya, mereka bisa berlepas diri dari itu semua dengan mudah karena mereka percaya bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk tampil. Pahit. Tapi memang itu kenyataannya. Terkadang hidup akan menghidangkan asam-pahit duka yang harus bisa dirasakan dengan manisnya suka.

Kembali ke dalam bis yang sudah memasuki Tol Cibinong. Akhirnya penantian panjang dan melelahkan ini terjawab juga.

Satu per satu santri yang merupakan penumpang di dalam bis itu diturunkan satu per satu. Dan dengan berlalunya semua itu, secara tidak langsung aku sudah berlibur di Puncak bersama anak-anak satu sekolah.

Share:

A Lone Night

 

Lilin
shout out to the pexels contributor!

Postingan ini hanya berisi suka duka yang aku alami ketika harus sendirian di rumah.

Sendirian di rumah bukanlah hal baru bagiku. Pertama kalinya aku ditinggal sendiri di rumah seingatku waktu kelas 1 SD di bulan Ramadan. Saat itu kedua orangtuaku ingin pergi ke Tip Top untuk berbelanja keperluan rumah tangga yang sudah menjadi rutinitas bulanan keluarga kami. Setelah belanja, biasanya kami juga menghabiskan waktu untuk bersenang-senang menikmati wahana sederhana yang berada di pasar swalayan tersebut. Si bocil ini tidak diperbolehkan untuk ikut. Alasannya sederhana, ibuku tidak mau kalau aku sampai batal puasa karena kelelahan berbelanja di swalayan. Sebagai bocah kecil yang sok kuat dan sok tahu tentu aku enggak terima. Aku merengek dan memaksa ibuku agar boleh ikut. Hasilnya tetap nihil. Aku cuman bisa pasrah karena akhirnya ditinggal juga.

Dan kejadian yang masih segar diingatan adalah ketika masih kelas 6 SD. Ibuku harus dirawat inap di rumah sakit. Karena itu, Ayahku jadi jarang pulang. Karena orangtuaku anti izin-izin club, aku tidak diperbolehkan untuk ikut menginap di rumah sakit agar masih bisa masuk sekolah.

Karena terlalu sering ditinggal sendiri, aku jadi menyukainya. Sendirian berarti tidak ada yang mengganggu. Sendirian juga berarti bebas melakukan apapun yang aku mau.

Tapi 'sendirian' kali ini berbeda. Meski tidak merasa takut, aku tetap merasa tidak nyaman.

Malam itu, sekitar pukul 19.30 WIB. Adikku melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid dan tidak langsung pulang ke rumah. Ayahku sepertinya terjebak kemacetan di jalan. Sementara ibuku juga sedang tidak berada di rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan deras. Disusul suara gemuruh petir dan kilatnya yang bersahut-sahutan.

Saat itu aku sedang asyik membaca. Tiba-tiba lampu mati. Listrik padam di tengah-tengah derasnya hujan dan aku yang dibiarkan sendiri. Aku langsung bangkit dan mencari senter. Selain itu aku juga harus mengingat-ingat di mana letak lilin yang ditaruh begitu saja.

Kepanikanku tidak berhenti sampai di situ. Setelah menemukan lilin yang tinggal setengah dari ukuran aslinya, aku tidak bisa lanjut membaca. Aku takut kalau senternya mati mendadak karena aku tidak tahu kapan terakhir kali senter ini diisi daya. Namun tidak memungkinkan juga untuk main handphone. Masalahnya, sekarang hujan deras dan banyak petir. Selain itu baterainya juga sudah mulai menipis.

Tapi karena kegabutanku yang enggak tahu harus ngapain lebih besar dari pada ketakutanku yang takut handphone-nya tiba-tiba mati, aku nekat menggunakannya lagi. Aku iseng membuat status di aplikasi chat untuk meng-update keadaan aku saat ini. Setidaknya aku tidak sendiri, toh? Dan ternyata reaksi mereka semua bermacam-macam. Ada yang prihatin, menyuruhku untuk tidur, dan ada juga malah menakut-nakuti.

Di saat-saat seperti ini biasanya aku paling tidak bisa tidur. Selain karena belum ngantuk, hawa di rumah sangat panas meskipun di luar sedang hujan. Dan kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak takut kalau ada yang menyolekku dari belakang atau menahan kakiku dari bawah. Sebagai orang yang paling tidak bisa menikmati film horor, situasi seperti ini membuatku tidak pernah berpikir tentang hal-hal mistis. Yang kutakutkan saat itu cuman satu, apa yang harus aku lakukan kalau ponselnya benar-benar mati.

Beruntung, salah satu temanku mengajakku ke rumahnya setidaknya sampai salah satu dari anggota keluargaku pulang. Mati lampu kali ini benar-benar lama. Apalagi hujan tidak kunjung reda. Aku tidak tahu harus apa kalau temanku ini tidak mengajakku karena aku benar-benar bosan di tengah kegelapan malam.

Dan tidak ada yang membuatku menulis kelamnya mati lampu itu selain kegabutanku saat ini. 
Share:

Rasa yang Pernah Ada

Resep

Manusia diciptakan berbeda-beda ras dan suku bangsa agar mereka saling mengenal, bukan menindas. Manusia juga memiliki sifat dan watak yang berbeda agar saling memahami bukan mengintimidasi. Banyaknya perbedaan tersebut membuat dunia ini semakin berwarna. Alih-alih perdamaian, permusuhan lebih sering terjadi karena keberagaman ini. Dari orang-orang kulit putih yang sok suci, orang-orang tamak yang paling susah jinak, sampai perdebatan soal makan bubur yang lebih enak diaduk atau enggak.

Ngomongin cara makan bubur yang diperdebatkan, aku dan saudaraku bisa dibilang punya selera yang sama, sama-sama diaduk. Selain selera makan bubur, kami juga suka pedas, pecinta micin dan makanan gurih lainnya. Bedanya dia biasanya 'lebih gigih' untuk mendapatkannya ketimbang aku yang milih untuk 'apa adanya'. 

Tidak perlu jauh-jauh, kalau membuat mie instan saja, semua bumbu penyedap yang ada di rumah dimasukin satu-satu ke mangkuk mienya, b*n cabe dan irisan cabai rawit juga enggak ketinggalan. Telur rebusnya juga harus pas dan kuahnya enggak boleh kurang. Sementara aku, ya, cuman pakai bumbu yang sudah disediain dari sananya dan sisa irisan cabai rawit yang kadang enggak diabisin sama dia. Belum lagi kalau aku yang harus masakin indomienya. Nyerah duluan sebelum dia sempat menjelaskan harus ada apa aja di dalam mangkuk mienya.

Apalagi, akhir-akhir ini aku sering mencoba masak sendiri untuk menekan anggaran karena suka beli makanan jadi. Karena cuman coba-coba, rasanya pun rada-rada. Dan karena rasanya yang enggak bisa disebut mencapai standar rata-rata (menurut adikku itu) enggak jarang dia marah-marah. Makanannya enggak cocok di lidah dia, kurang asin lah, ngga ada rasanya lah, dan segala macam uneg-uneg ala juri-juri masterchef yang judesnya enggak ada lawan. Padahal menurutku itu sudah cukup asin, asin banget malah. Makanya, enggak jarang kita ribut cuman gara-gara masakannya enggak cocok di lidah masing-masing.

Soal selera yang berbeda tiap orang, aku pribadi belum pernah makan menu yang sama kalau lagi makan di luar bareng orang lain. Kalaupun sama, salah satu dari kita pasti ada yang ngalah atau bingung mau makan apa. Contoh paling sering adalah ketika istirahat. Aku sering banget jajan bareng temen aku yang satu ini. Aku biasanya sering ke kantin buat beli gorengan, bakso, cilok, atau makanan berbumbu lainnya. Sementara temanku belok ke koperasi buat beli wafer, biskuit, atau makanan manis lainnya. Kantin yang sering penuh menjadi alasan lain kenapa dia selalu jajan di koperasi. Pernah juga kami pergi ke kantin bareng tapi ngidam jajanan yang beda. Dia beli jajanan seribuan kalau aku beli jajanan berat seperti seblak. Alhasil, dia harus ikut nungguin biar kami bisa makan bareng.

Kembali ke cerita awal, akhirnya aku tahu perasaan ibuku ketika masakannya yang telah dimasak sepenuh hati ternyata tidak dinikmati. Bukan karena rasanya yang enggak enak, tapi karena menunya yang enggak memikat. Sakit.

Share: