Tampilkan postingan dengan label Things. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Things. Tampilkan semua postingan

Negeri Mimpi

Tangga




Enggak kerasa blog ini udah jalan 1 setengah tahun. Dan setengah tahunnya justru semi-hiatus. Apa itu semi hiatus? Entahlah. Itu cuman kata halus untuk menyindir blogger yang jarang aktif sepertiku. Hehe.

Enggak kerasa juga aku akhirnya lulus SMA. Sebelum benar-benar lulus, aku diharuskan untuk menjalani masa pengadian selama 1 tahun sebagai bentuk lain mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama sekolah. Kebetulan aku menjadi bagian dari tenaga pengajar di sekolah sendiri. Sedikit menguntungkan karena aku memang belum memikirkan dan menyiapkan rencana studi lanjut setelah lulus SMA. Kerugiannya adalah aku jadi belum move on dari SMA dan ingin masuk kelas lagi. Melihat para guru semasa SMA berjalan menuju kelas mereka membuatku ingin ikut masuk kelas juga.

Berbicara tentang kelas, salah satu kelas dari sekian banyak kelas yang paling membuat ngantuk adalah ketika kamu enggak minat belajar sama sekali tapi guru kamu tetap ngajar tanpa variasi. Solusinya, kalau enggak niat belajar, ya enggak usah masuk sekolah. Tapi mabal dari kelas bukan pilihan bagus untuk siswa tingkat akhir yang harus mempertahankan reputasi agar bisa dibantu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang paling tinggi.

Berhubung kelasku sudah menyelesaikan kitab rujukan kami untuk salah satu pelajaran, kami kompak untuk menggelar kelas kosong meski sang guru sudah stand by di depan kelas. Pak guru yang pasrah melihat sebagian kecil muridnya di kelas ini tumbang hanya bisa mengajak murid yang masih duduk tegap untuk ikut berkelana di alam mimpi juga.

"Ustadz." Salah satu temanku memanggil. Pak guru mendongakan kepalanya, mencari sumber suara.

"Denger-denger kurikulum Indonesia diubah lagi ya, tadz?" Tanya temanku tersebut.

"Diubah jadi seperti apa?" Pak guru balik bertanya.

"Enggak ada sistem penjurusan gitu." Ucapkan temanku. Pak guru mangut-mangut.

"Terus gimana kalau enggak ada penjurusan?" Pak guru balik tanya.

"Kurang paham juga, sih, tadz." Temanku menyudahi topiknya. Yang lainnya saling pandang, sama-sama tidak tahu.

"Katanya siswanya bisa bebas pilih mata pelajaran," ungkap temanku yang lain.

"Kayak sentra?" Yang duduk di paling belakang bersuara.

"Bisa jadi," jawabnya.

"Jadi nanti mereka bisa masuk kelas mana aja sesuai minat."

"Terus jadwal pelajarannya gimana nanti?"

"Katanya bakal lebih susah juga materinya."

"Sekolah kita bakal kayak gitu juga, enggak, tadz?"

Dan pertanyaan-pertanyaan acak lainnya.

Karena penasaran, Pak guru pun inisiatif mencari sendiri kurikulum baru apa yang kita maksud.

Setelah melewati keheningan beberapa saat, Pak guru akhirnya menarik kesimpulan yang sayangnya aku tidak ingat apa yang beliau ucapkan. Beliau mengeluarkan opini dan pandangan beliau soal perubahan kurikulum tersebut, kemendikbud, dan pemerintah. 

"Tapi, sekolah harus mengajarkan kepada muridnya seenggaknya 3 bahasa," lanjut beliau. "Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Mandarin."

Opini tersebut harus tetap berlanjut dan berkembang mengingat sebagian besar murid di kelas memilih untuk berpangku tangan.

"Kenapa, tadz?" Murid yang duduk paling depan bertanya. Mulai antusias.

"Bahasa Inggris sudah pasti karena itu bahasa internasional. Bahasa Jepang dan Jerman, karena dari sana semua teknologi tercipta. Bahasa Mandarin, agar kita pelan-pelan tidak dijajah oleh mereka."

Penghuni sisi kelas, alias yang duduk di pinggiran, masih betah dengan tidur panjang mereka.

"Memang menurut ustadz sendiri, kurikulumnya harusnya bagaimana?" Tanya salah satu temanku yang terlihat kalem dari luar tapi sebenarnya dia tidak sekalem itu.

"Saya tidak tahu, kan saya bukan menteri pendidikan," jawab beliau. Kami tertawa.

"Kalau saya yang jadi menteri pendidikannya, saya ubah sistem belajarnya menjadi beberapa kelas." Pak guru melanjutkan opininya lagi.

Kami memasang wajah bingung, penasaran sekaligus ingin tahu.

"Jadi kalau ingin memperdalam biologi, misalnya, silahkan saja. Tapi bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia," jelas Pak Guru. Mau heran tapi beliau adalah guru kami.

"Biologi pakai bahasa Jerman, nanti Kimia pakai bahasa Jepang, Fisika pakai bahasa mandarin, biar gampang matematika pakai bahasa Inggris," lanjut Pak guru lagi.

"Kalian bebas memilih kelas mana saja, belajar apa saja, tapi syaratnya itu, bahasa pengantarnya bukan bahasa Indonesia."

"Karena kalau kelas pendalaman bahasanya dibedakan lagi, nanti belajarnya malah makin lama, dan akan jarang dipraktekan langsung."

Hening. Sebagian mencerna apa yang dikatakan Pak Guru barusan, sebagian mencari pertanyaan baru, sebagiannya lagi masih beda alam.

"Kalau ustadz jadi menteri pariwisata gimana, tadz?" Akhirnya pertanyaan acak berikutnya muncul.

"Saya bakal jadiin kuburan sebagai tempat selfie," ungkap beliau tidak kalah acak. Kami semua tertawa.

"Biar kuburannya makin ramai," lanjut beliau lagi. Kami tahu pasti kalau ziarah kubur itu tetap harus mengikuti tuntunan dan sunnah Rasul, mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengingat bahwa kematian itu nyata. Sementara, kebanyakan orang melakukan ziarah kubur bukan untuk mendoakan, melainkan minta didoakan.

"Wisata religi? Wisata religi itu tadabur alam, mengenali Allah lewat ciptaan-Nya." Lanjut beliau lagi. 

"Negeri kita ini sudah dikaruniai banyak pemandangan indah. Gunungnya, lautnya, pantainya, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan."

Seluruh kelas hening, menyimak apa yang Pak Guru sampaikan. Indonesia yang indah ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Selain yang sudah masyhur seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, 
Kepulauan Seribu, dan lain-lain, masih banyak tempat-tempat lain yang sulit dilewati dan tidak dikelola dengan baik.

"Kalau jadi menteri keuangan, tadz?" Pertanyaan berikutnya muncul lagi.

"Kalau jadi menteri keuangan, saya hapuskan pajak." Jawab beliau santai. "Kita bisa memungut 2,5% dari harta setiap orang yang mampu dan menentukan nominal uang yang harus dibayar oleh setiap warga non-muslim. Namanya bukan jizyah, karena negara ini bukan termasuk negara muslim."

"Menteri kesehatan, tadz!" Seru yang lain. Meminta pandangan Pak Guru tentang bagaimana 'seharusnya' seorang menteri kesehatan bertindak.

"Menteri kesehatan? Segala akses kesehatan harus gratis. Semua orang dapat," jelas Pak Guru langsung ke inti.

"Terus bayar dokter dan tenaga kesehatan yang lain gimana, tadz?" Seseorang yang berada di barisan tengah bertanya.

"Sekolah kesehatannya juga harus gratis," jawab Pak Guru mantap. "Saya juga akan menghentikan praktek dokter. Para dokter harus praktek di rumah sakit."

"Jangan begitu, dong, tadz," protes salah satu temanku yang punya cita-cita memiliki praktek sendiri.

"Sekolahnya kan sudah gratis, jadi dia harusnya nurut," jawab Pak Guru. "Saya tahu kalau saya keluarkan kebijakan ini, seluruh dokter di Indonesia akan mengadakan demo besar-besaran."

Kami tertawa sekaligus terkesima. Pertanyaan random yang dijawab dengan pasti itu membuat kami ingin terus mengulik lebih dalam.

"Kalau misalnya ada rakyat yang enggak setuju gimana, tadz?"  Celetuk seseorang yang duduk di shaf tengah.

"Yang tidak suka dengan kebijakan saya, saya cabut kewarnganegaraannya," sahut beliau. Kami semua tertawa.

"Buat apa dia masih tinggal di negara ini kalau menentang pemerintah? Lebih baik diasingkan, di pulau terpencil. Dia dan seluruh keluarganya. Buat negara baru sendiri." Kami hanya bisa tertawa.

"Kalau begitu, kenapa ustadz tidak mencoba untuk mencalonkan diri?" Seseorang bertanya.

Hening. Yang sempat berada di alam lain kini sudah bergabung mendengarkan obrolan kami.

"Ini cuman khayalan saya saja," sahut Pak Guru santai. Kami tertawa lagi.

"Karena negeri ini adalah Negeri Mimpi. Semua orang bebas bermimpi."

Kami semua terdiam. Indonesia memang rumah dari segala jenis mimpi yang kebanyakan bermuara di alam mimpi. Kalau bicara tentang Indonesia di masa depan pas lagi di umur yang sekarang sudah melewati masa puber dan quarter crisis, kita setidaknya akan mengatakan hal-hal yang realistis dengan sedikit imajinasi karena tahu tidak semua yang diinginkan bisa tercapai. Apalagi pas tahu situasinya lagi kayak gini; pemerintah yang kerjanya tidak terlihat 'nyata', sistem pendidikan yang selalu berubah, harga bahan pokok yang tidak masuk akal, dan segala tetek bengek yang lain. Berbeda keadaannya kalau ngomongin beginian bareng anak SD, yang jawabannya enggak jauh dari mobil terbang dan dunia serba canggih ala kartun kenamaan asal Jepang--Doraemon. Meskipun sebenarnya hal itu mungkin saja terjadi.

"Kalian harus menjadi orang yang visioner," terang beliau. Kami semua tertegun. "Saya sudah sedikit berumur. Karena ini cuman khayalan saya saja, visi saya. Saya akan serahkan semuanya kepada anak-anak muda saja, biar mereka yang melanjutkan."

Indonesia yang sudah merdeka selama 77 tahun ini telah memberikan kebebasan juga untuk seluruh warganya agar berani bermimipi, berani memilik misi, dan mewujudkan ambisi. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka pun, para pejuang tidak berhenti bermimpi untuk memerdekakan Indonesia. 

Indonesia yang merdeka membuat kita bisa merasakan hidup yang aman, damai, tenteram, dan yang paling penting, 'bebas'. Bukan berarti kita bisa bertindak semaunya, tapi bebas di sini berarti tidak dijajah, dikekang atau diintimidasi. Karena nikmat-nikmat yang tiada tara ini, kita seharusnya bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik. Kita tidak perlu merasa terintimidasi  dengan orang yang tidak paham dengan kemerdekaan versi kita, kita tidak perlu merasa dikekang dengan pikiran-pikiran rudet yang terus berputar di kepala sehingga kita tidak pernah bebas melakukan hal yang sebenarnya ingin kita lakukan. Kita juga harus membentengi diri sendiri agar tidak dijajah oleh diri kita yang lain.

'Kemerdekaan' itu sebenarnya adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran kita.

Tidak terasa jam pelajaran beliau telah selesai. Akhirnya, kami bisa 'merdeka' dari kelas yang bikin ngantuk setengah mampus. Hehe.

Dan setelah menulis ini, rasa ingin masuk kelas lagi malah semakin menggila.
Share:

Self Reward, First!

Self Improve, First!


 Salah satu teman baikku mengadu. Dia mengeluhkan betapa sulitnya ia menghafal al-qur'an. Padahal tenggat waktu untuk menyelesaikannya semakin dekat.

"Aku sama sekali enggak suka ngafalin. Kenapa kita harus ngafalin di dunia ini? Kalau bukan karena aku yang butuh, enggak akan mau aku ngafalin."

"Ngafalin itu susah. Pengen nangis terus rasanya."

"Aku benci menghafal."

Dan segala keluhan lain yang dia lontarkan. Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Dengan 'sok bijak' aku berguman, "kalau sudah mengiyakan dari awal, kenapa mengajukan diri untuk berhenti?"

Tidak, aku tidak benar-benar mengatakan itu. Aku pikir itu tidak akan membantunya. Yang saat itu kulakukan hanyalah mengusap punggungnya dan mengepalkan jari tangan yang lain dan berbisik padanya, "semangat!" dengan wajah ceria.

Satu bulan berlalu. Kabarnya sudah menyelesaikan hafalan tersebar dengan mudah, 'semudah' dia menghafalnya. Seisi kelas ramai mengucapkan selamat dan mendoakannya.

Ketika waktu istirahat tiba, aku menghampirinya.

"Selamat udah menyelesaikan hafalan buat orang yang nggak suka ngafal."

Kala itu, dia yang tertawa.

Kalimat setelah 'selamat' sebenarnya tidak bermaksud serius. Tersirat bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa untuk dilakukan. Menghafal -terutama al-qur'an- bukan soal kemampuan, tapi kemauan.

Di lain kesempatan, saat kami sedang bercakap-cakap dia menyinggung peristiwa itu.

"Kamu benar. Saat kamu mengucapkan selamat waktu itu, aku baru ingat kalau aku harusnya memberi selamat pada diriku terlebih dahulu."

Seperti halnya dia, aku yang mendengar pengakuannya juga baru menyadarinya. Aku tidak tahu kalau mengapresiasi diri sendiri itu pengaruhnya sangat besar. Selain untuk menghargai kerja keras yang kita lakukan, mengapresiasi diri juga memberikan dampak positif dan menambah energi meski saat itu tidak ada yang mau menghargai kita.

Kasus lain yang serupa tapi tak sama, adalah ketika salah satu temanku yang lain menunjukan kalau dirinya suka gaya pakaian yang abstrak. Terlihat dari celana yang tidak biasa digunakan oleh sebagian besar dari kami, caranya me-mix and match pakaian yang dia pakai, aksesoris serta benda-benda unik lain yang dimilikinya.

Kami yang pertama kali melihatnya tentu saja aneh dan tidak biasa. Namun karena kami melihatnya enjoy dan biasa saja dengan sikap aneh kami, tidak perlu debat kusir berpuluh-puluh season kami ikut-ikutan mengenal gayanya yang abstrak. Berbeda dengan orang yang sudah dinyinyir namun dia justru down. Orang-orang justru akan tambah menjatuhkannya.

Tidak mudah memang. Tapi itu kenyataannya. Semakin dipikirikan, reaksi orang akan semakin memburuk terhadap diri kita. Maka dari itu, apresiasi diri sebelum diapresiasi itu suatu keharusan.

Self Improve, First!

Selain mengapresiasi, menghibur diri juga sama pentingnya.

Waktu itu terjadi kesalahpahaman yang membuat aku dan teman-temanku geram. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing masalah itu. Tapi karena faktor lingkungan yang berada di antara orang-orang yang bilang tidak suka, aku jadi ikutan tidak suka. Hingga salah satu temanku menenangkan kami semua agar mendinginkan pikiran dan melapangkan hati. Toh membicarakan orang juga tidak baik. Kami pun mengiyakan.

Hingga pada suatu hari, aku mengusulkan agar kita meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan pihak terkait. Namun kebanyakan dari teman-temanku menolak. Mereka lebih memlikih tutup telinga, tidak mau dipikirkan dan menjaga jarak dengan masalah itu. Masalahnya memang tidak 100% clear, tapi hal tersebut menutup terjadinya masalah baru. Sebenarnya solusinya sederhana. Terlalu diambil pusinglah yang membuatnya terlihat rumit.

Menghibur diri sendiri akan membuatmu lebih relaks dan lebih menghargai setiap takdir yang diberikan.

Berkaitan dengan ini, kecerdasan intrapersonal dan interpesonal sangat erat kaitannya. Bagaimana kita melihat ke dalam diri dan memandang orang lain butuh skill khusus. Setiap orang harus memiliki dua kecerdasan ini dengan porsi yang seimbang. Karena kalau berat sebelah, bisa semakin kacau.

Sekarang aku paham betul; kenapa orang-orang banyak menuarakan tentang self healing, kenapa buku-buku tentang self improvement banyak peminatnya, kenapa orang-orang terlalu sering merasa depresi hingga merasa hilang harapan dan tak jarang yang memilih mengakhiri hidupnya. Itu semua hanya satu jawabannya: Tidak perlu memperdulikan orang yang tidak memperdulikanmu.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka konten tentang self improvement, aku sebenarnya hanya ingin berbagi cerita-cerita tadi. Orang lain memang hanya ingin pengakuan dari kita, kalau kita sebenarnya menyukai diri sendiri dan menyayangi mereka. Mulai sekarang mungkin kamu bisa mulai berlatih mencintai diri sendiri yang tidak banyak orang lain tahu tentang itu, belajar memaafkan kesalahan dan berterimakasih atas setiap hal yang menyenangkan. Ubah pola pikirmu ke arah yang lebih positif tanpa perlu merendahkan diri. Toh, derajat manusia semuanya sama di mata Allah.

Selamat merayakan dirimu dengan baru di tahun yang baru!!

Share:

Tujuan Setelah Lulus Sekolah

Tujuan Setelah Lulus Sekolah


Jam pelajaran pertama hari itu sudah dimulai. Sang guru yang biasa kami sapa dengan sebutan ustad sudah tiba di kelas dan langsung menyampaikan materi. Pelajaran hari itu adalah Shorof, cabang dari ilmu bahasa Arab yang cukup penting. Pembelajaran berlangsung tenang dan datar. Namun, tampaknya ada hawa-hawa yang tidak beres.

Atmosfer kelas pagi itu sepertinya tidak sehangat indahnya pagi di luar sana. Sebagian warga kelas mulai suntuk. Apalagi hari ini adalah hari menjelang weekend. Entah apa yang kami lakukan selama seminggu ini hingga membuat hari ini inginnya libur saja. Beberapa ada yang masih memperhatikan sang guru. Sebagian yang lain sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun, tidak sedikit juga yang mulai tumbang.

Menyadari bahwa pelajaran tidak bisa dilanjut, sang guru akhirnya tersenyum dan bertanya tentang hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya.

"Kalian belajar untuk bekerja atau cari uang?" Tanya beliau antusias. Membuat kabut-kabut tak kasat mata yang mengudara di langit-langit kelas mengundurkan dirinya.

Aku juga ikut antusias. Ini adalah sesuatu yang kutunggu-tunggu. Beliau adalah guru favoritku. Diajarkan beliau bukan hanya sekedar memahami materi tetapi juga cara memahami hidup ini. 

Hening sejenak.

Lagi pula opsinya sama saja.

Seseorang menyahut "cari kerja Tad."

Beliau tersenyum dan bertanya lagi "buat apa kalian belajar cuman buat cari kerja?"

Menohok. Kami saling melempar pandangan bingung satu sama lain.

"Biar dapet ijazah Tad (maksudnya legalitas)," jawab seseorang.

"Ijazahnya buat dikasih ke perusahaannya Tad," tambah yang lain.

"Ijazah itu bukan syarat diterima kerja," kata beliau santai.

"Lha ustad, biasanya juga disuruh buat ngasih ijazah," protes yang lain.

 "Iya, tapi ijazah bukan syarat keterima kerja," beliau tetap menyatakan hal itu. Sementara kami tetap keukeuh kalau ijazah adalah syarat untuk lulus seleksi. Lebih tepatnya salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang diajukan perusahaan tempat melamar.

Terjadi debat hanya karena ijazah.

"Terus apa tad?" salah seorang dari kami akhirnya mengalah.

"Syaratnya 'LULUS', baru bisa diterima" jawab beliau.

Gubrak.

"Kalau kalian nggak lulus seleksi, kalian nggak akan diterima kan?" Terang beliau. "Paham?"

"Ya biar lulus harus dikasih ijazah!" Seisi kelas sewot. Heboh.

Kelulusan


 "Belajar buat cari kerja itu, salah!" Beliau menekan kata 'salah'. "Kerja ya tinggal kerja, enggak perlu sekolah. Itu yang salah dari pemikiran orang Indonesia," lanjutnya.

Kelas kembali senyap.

"Makanya, pikiran orang Indonesia enggak pernah maju. Karena pikiran mereka setelah lulus sekolah cuman satu, kerja!" Jelas beliau. "Karena itu, Indonesia dijajah. Kita udah dijajah 300 tahun lho!" Lanjutnya. Beliau kembali mengeluarkan pendapatnya, "dan sekarang, Indonesia lagi dijajah sama China."

"Tapi saya suka dijajah sama orang China," sambungnya.

Kami semua keheranan. "Kenapa ustad?"

"China adalah negara maju, jadi kita bisa ikutan maju," jawabnya.

Kami semua tertawa.

"Orang China, enggak ada yang sekolahnya tinggi-tinggi. Sudah bisa baca, bisa ngitung, mereka langsung kerja di perusahaan bapaknya, terus akhirnya punya perusahaan sendiri," jelasnya.

"Contoh lain, mereka kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Lulus dari sana mereka ngga jadi petani," tuturnya. "mereka belajar. Selesai belajar, mereka beli tanah, terus tanahnya dikerjakan orang," sambungnya lagi.

"Terus siapa yang dipekerjakan? Orang Indonesia!" terangnya.  "Nah, untuk apa kalian sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya cuman jadi pembantu?"

Semuanya diam. Mencerna apa yang beliau bicarakan.

"Masih mau cari kerja?" desaknya, lagi.

"Tapi tad." seseorang menyahut. "Kita 'kan juga butuh uang, kita juga pengen kaya,"

"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau. "Artis yang bunuh diri baru-baru ini, apa yang kurang dalam dirinya? Dia kurang cantik? Engga, dia cantik. Uangnya banyak? Jelas, 'kan dia artis. Pasangan? Dia model dan siapa pun bisa menjadi pasangannya,"
"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau.
"Lalu, apa yang membuatnya bunuh diri?" tanyanya serius. "Orang yang kaya biasanya takut dengan hartanya

Kami semua termenung. Dunia ini memang tempat segala kepalsuan tercipta. Terlihat di layar kalau dia memang cantik dan bahagia. Tapi siapa yang tahu kalau itu semua justru malah membuatnya terpuruk dan jauh dari kata senang?

Dan kita sebenarnya bukan apa-apa kalau tanpa ilmu.

"Orang yang punya sekolah ini, beliau hanya tamatan SMP. Tapi ilmunya melebihi S3. Hingga yang S2 berguru padanya," ujar beliau.

Beliau kembali mengemukakan opininya, "saya juga sebenarnya tidak setuju dengan orang yang billang 'Belajar membuka jendela dunia'."

Kami tersenyum dan menunggu penjelasannya. "Kenapa tad?"

"Iyalah, buat apa buka jendela kalau cuman ngerasain angin? Mantengin orang bawa mobil sambil berdecak sendiri  'ohh,, dia punya mobil?' ngapain??" sanggah beliau.

Seisi kelas tertawa.

"Kalian buka jendela, lihat dunia, ambil apa yang kalian butuhkan. Itu baru yang namanya belajar," urai beliau.

"Lalu ustad, tujuan kita kuliah apa dong?" celetuk seseorang.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain," jawabnya. "Kalian bodoh dalam mentasrif? Belajar sama saya!" katanya sambil menunjuk dirinya dengan nada bercanda. Membuat kami tersenyum lagi.

"Kalian belajar tuh buat ilmu! Bukan buat cari kerja! Dari ilmu itu, baru kalian bisa melalang buana keliling dunia. Syukur-syukur kalau ilmu itu bisa dibagikan secara gratis," papar beliau menutup obrolan kita hari itu.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain"

Jam pelajarannya belum selesai. Tapi setidaknya atmosfer kelas telah berubah. Bukan senang, tapi masih penasaran apa dan bagaimana masa depan kita nanti.

Penjelasan sang guru yang begitu jelas, singkat namun padat dan agak sedikit konyol mampu membuat kita terbius. Setidaknya untuk saat ini, mau dibawa kemana ilmu kita?
Share: