Saat ada rekomendasi untuk menulis dan membaca di Substack, aku ingat betul kalau aku berusaha menahan diri agar tidak mendaftarkan akun di sana. Keputusan ini dirasa pantas karena aku jarang menulis di media-media yang sudah aku daftarkan sebelumnya. Aku tidak ingin mengikuti tren semata.
Tapi ternyata, dunia digital memang bergerak sangat cepat.
Platform itu sepertinya berisi ide-ide baru yang belum
pernah aku temukan bahkan di Medium atau X. Aku masih bisa daftar sebagai
pembaca. Terkadang, kita tidak perlu unjuk gigi agar diterima society. Menjadi
pendengar tidak membuatmu dicap tidak ada.
Masalahnya, kalau sudah baca banyak tulisan, pengennya
ikutan nulis juga, ga, sih?
Oke, permasalahan ini akan aku pikirkan nanti. Aku mau menjadi
pembaca aktif dulu di sana.
Sebagai orang yang bisa dibilang suka menulis, aku mencoba
menulis di berbagai tempat bila sempat. Namaku sudah ada di beberapa platform
menulis sebagai contributor. Di antaranya menggunakan identitas asli. Setengahnya
lagi menggunakan nama pena.
Nama pena membuatku merasa aman saat menumpahkan segala
resah pada awalnya. Aku bisa leluasa mengeksplor gaya apapun tadinya. Makin ke sini,
aku merasa krisis identitas.
Sepertinya bukan namanya yang salah. Dari awal memang aku
yang salah.
Menjadi orang yang berbeda ternyata melelahkan. Menjadi orang
yang bukan diri sendiri ternyata memberatkan.
Atau justru, selama ini aku memang belum hidup sebagai diri
sendiri?
Terlalu bergantung pada opini orang. Terlalu takut pada
tatapan orang. Terlalu memikirkan omongan orang.
Terlalu takut untuk berdiri. Terlalu malu untuk membuka mata
dan hati.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan tukang ojek daring satu
itu.
Dia merasakan ‘aura’ yang tertahan dalam air wajahku. Kurang
bersinar. Kurang terpancar. Aku mengelak. Aku piker raut wajah itu terlukis
karena aku kurang tidur akhir- akhir itu.
Jangan kaitkan aura di sini dengan hal-hal mistis, ya. Ekspresiku
memang tidak terbuka saat itu. Tapi enggak bisa dikatakan judes atau jutek
juga.
Beliau menebak bahwa kalau aku menyembunyikan banyak hal. Sehingga
untuk berekspresi yang dasar saja kurang lepas.
Beliau menyarankanku untuk berterima kasih kepada diri
sendiri. Kepada Zat yang telah menciptakan itu sudah pasti. Kepada raga sendiri
juga harus setiap hari. Karena dengannya, ruh kita jadi punya rumah. Dengannya,
ruh kita bisa bergerak leluasa.
Ternyata, beliau juga belajar psikologi. Pantas saja caranya
menganalisa seperti psikolog asli.
Aku harus lebih terbuka dan bebas. Namun sebelum itu, aku
harus kenalan dengan diri sendiri dulu. Harus cinta sama diri sendiri dulu. Harus
bisa melepas belenggu tak kasat mata yang terus-menerus menahanku.
Takut itu wajar. Yang enggak wajar adalah menjadikan
ketakutan itu sebagai tameng perlindungan. Semua manusia ini berada di atas
jalan. Dengan tempat asal yang berbeda. Dengan tujuan yang berbeda. Tapi di
jalanan itu isinya sama. Pengendara ugal-ugalan. Tanggulan. Jalan berlubang. Dan
kita harus berani menghadapi resiko-resiko itu.
Aku merasa malu sampai aku sadar bahwa aku tidak bisa
menyangkalnya. Semua ‘tuduhan’ yang dia sebutkan benar adanya.
Ternyata, aku belum menjadi orang yang bukan diri sendiri.
Setelah banyaknya tulisan agar aku bisa menggali
kepribadianku yang lain. Menjadi yang asli saja aku masih labil.
Aku jadi teringat sebuah kutipan Arab yang dibacakan guruku saat beliau membuka status Whatsapp mutualan beliau.
اترك أبواب حياتك مفتوحةليدخل من يدخل، و يخرج من يخرج
لا تتعلق بداخل، ولا تحزن على مغادر
فلن يبقى معـك إلا الله
Biarkan pintu-pintu kehidupanmu terbuka. Agar yang mau masuk bisa masuk, dan yang mau keluar bisa keluar. Jangan bergantung dengan yang masuk. Dan jangan sedih dengan orang yang keluar. Karena tidak ada yang tersisa bersamamu kecuali Allah.

0 comments:
Posting Komentar