Rasa yang Pernah Ada

Resep

Manusia diciptakan berbeda-beda ras dan suku bangsa agar mereka saling mengenal, bukan menindas. Manusia juga memiliki sifat dan watak yang berbeda agar saling memahami bukan mengintimidasi. Banyaknya perbedaan tersebut membuat dunia ini semakin berwarna. Alih-alih perdamaian, permusuhan lebih sering terjadi karena keberagaman ini. Dari orang-orang kulit putih yang sok suci, orang-orang tamak yang paling susah jinak, sampai perdebatan soal makan bubur yang lebih enak diaduk atau enggak.

Ngomongin cara makan bubur yang diperdebatkan, aku dan saudaraku bisa dibilang punya selera yang sama, sama-sama diaduk. Selain selera makan bubur, kami juga suka pedas, pecinta micin dan makanan gurih lainnya. Bedanya dia biasanya 'lebih gigih' untuk mendapatkannya ketimbang aku yang milih untuk 'apa adanya'. 

Tidak perlu jauh-jauh, kalau membuat mie instan saja, semua bumbu penyedap yang ada di rumah dimasukin satu-satu ke mangkuk mienya, b*n cabe dan irisan cabai rawit juga enggak ketinggalan. Telur rebusnya juga harus pas dan kuahnya enggak boleh kurang. Sementara aku, ya, cuman pakai bumbu yang sudah disediain dari sananya dan sisa irisan cabai rawit yang kadang enggak diabisin sama dia. Belum lagi kalau aku yang harus masakin indomienya. Nyerah duluan sebelum dia sempat menjelaskan harus ada apa aja di dalam mangkuk mienya.

Apalagi, akhir-akhir ini aku sering mencoba masak sendiri untuk menekan anggaran karena suka beli makanan jadi. Karena cuman coba-coba, rasanya pun rada-rada. Dan karena rasanya yang enggak bisa disebut mencapai standar rata-rata (menurut adikku itu) enggak jarang dia marah-marah. Makanannya enggak cocok di lidah dia, kurang asin lah, ngga ada rasanya lah, dan segala macam uneg-uneg ala juri-juri masterchef yang judesnya enggak ada lawan. Padahal menurutku itu sudah cukup asin, asin banget malah. Makanya, enggak jarang kita ribut cuman gara-gara masakannya enggak cocok di lidah masing-masing.

Soal selera yang berbeda tiap orang, aku pribadi belum pernah makan menu yang sama kalau lagi makan di luar bareng orang lain. Kalaupun sama, salah satu dari kita pasti ada yang ngalah atau bingung mau makan apa. Contoh paling sering adalah ketika istirahat. Aku sering banget jajan bareng temen aku yang satu ini. Aku biasanya sering ke kantin buat beli gorengan, bakso, cilok, atau makanan berbumbu lainnya. Sementara temanku belok ke koperasi buat beli wafer, biskuit, atau makanan manis lainnya. Kantin yang sering penuh menjadi alasan lain kenapa dia selalu jajan di koperasi. Pernah juga kami pergi ke kantin bareng tapi ngidam jajanan yang beda. Dia beli jajanan seribuan kalau aku beli jajanan berat seperti seblak. Alhasil, dia harus ikut nungguin biar kami bisa makan bareng.

Kembali ke cerita awal, akhirnya aku tahu perasaan ibuku ketika masakannya yang telah dimasak sepenuh hati ternyata tidak dinikmati. Bukan karena rasanya yang enggak enak, tapi karena menunya yang enggak memikat. Sakit.

Share:

Realita 17 Tahun

Kue


"Ada yang ulang tahun, nih!"

"Cie... udah 17 Tahun, ya!"

"Happy sweet seventeen!"

Bentar-bentar, emang ada apa di umur 17 tahun?

Buat sebagian orang yang merayakan ulang tahun, pasti merasa kurang kalau di umur 17 tahun ini tidak dirayakan dengan spesial. Katanya, di tahun itu adalah masa-masa transisi dari remaja menuju dewasa. Maka, tak jarang juga mereka membuat pesta meriah seperti ulang tahun yang ke 7 tahun. Ada juga yang hanya sekedar acara syukuran dan doa bersama agar remaja tanggung yang bersangkutan diberi kesehatan, rezeki, pasangan, dan jalan hidup yang lancar.

Disini aku tidak sedang membicarakan hukum merayakan ulang tahun yang memang dilarang dalam syariat Islam meski dalam bentuk apapun. Tapi membicarakan si angka 17 tahun.

Perayaan bertambahnya umur yang datang setiap tahunnya selalu jadi momen yang membahagiakan. Mereka bergembira dengan usia mereka yang semakin membesar jumlahnya. Lalu meniup lilin setelah mengaminkan harapannya. Dan lupa terhadap apa yang telah mereka lewati sebelum mencapai fase saat itu. Padahal, dibalik usia yang bertambah ada waktu kehidupan yang sudah berkurang. Artinya, entah kapan waktunya, kamu akan lebih dekat pada kematian.

Tidak bisa dipungkiri, anak kecil yang sudah paham dunia akan ingin cepat-cepat dewasa. Remaja di masanya yang masih labil selalu ingin mendapat perhatian lebih. Namun mereka tidak bisa memutar balik waktu karena menjadi dewasa tidak semenyenangkan imajinasi anak-anak.

Segala sesuatu menyimpan sisi baik dan buruk. Baiknya, di umur 17 tahun ini kamu bisa mengakses hal-hal yang sempat dilarang waktu belum cukup umur. Negara mengesahkan kamu sebagai penduduk yang terdaftar. Mereka juga menerbitkan surat izin buat yang sudah bisa mengemudi. Namun tetap dalam batasan-batasan tertentu. Karena dunia ini masih punya aturan agar bisa berjalan dengan damai.

Menjadi dewasa berarti merelakan hal-hal yang sangat kamu inginkan. Kita dituntut untuk lebih 'matang' disaat masih memerlukan asupan. Akan banyak pengorbanan yang dikerahkan dan air mata yang ditumpahkan. Semuanya hanya untuk memenuhi hasrat orang lain atas kita. Meskipun yang tua belum tentu dewasa, setidaknya dunia ini masih punya generasi setara anak-anak yang memerlukan kasih sayang orang yang lebih besar dari mereka. Dunia juga masih punya orang-orang berusia lanjut yang perlu bantuan di masa-masa mereka yang serba terbatas. Dunia ini masih berjalan.


Menjadi dewasa berarti siap berair mata


Aku yang juga masih 'mentah' diminta untuk tetap berdiri, di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam walau tanpa payung atau mantel. Itulah dunia yang realitanya tidak pernah seindah ekspetasi yang berlebihan, apalagi disamakan dengan imajinasi anak kecil.

Sebagai manusia yang sadar umurnya sedang bertambah, kita seharusnya intropeksi diri. Sudah sejauh mana kita berlari. Sudah sampai mana kita mendaki. 17 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tuntutan semakin besar, beban terus bertambah, dan segalanya akan berubah perlahan-lahan. Kita juga harus bisa mengontrol diri agar terlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang tidak mudah mendapat tekanan yang besar dari luar. Apalagi dipaksa untuk tidak mempertahankan ego sendiri. Meski kita hidup bukan untuk memuaskan makhluk lain, setidaknya kita harus paham kalau kita tetap manusia. Makhluk soisal yang butuh dan dibutuhkan makhluk lainnya.

17 tahun, sweet seventeen atau apalah namanya yang katanya masa-masa semanis susu atau lebih manis dari madu harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan membuat masa-masa indah ini menjadi suram karena patah hati yang kepanjangan, atau membuatmu terlena karena terlalu indah. Jangan sampai masa-masa ini justru membuatmu kecewa dan menyesali semua yang sudah kamu sia-siakan sendiri. Manfaatkan waktu dan jangan lupa untuk selalu bermuhasabah. Semoga hidupmu berkah.

Terimakasih.



Share:

Pelajar 2021


Belajar di Rumah

2021, virus yang memangsa manusia di seluruh dunia ini belum menunjukan tanda-tanda kepunahan. Mungkin kalau dibilang punah, dia belum sepenuhnya punah. Bisa jadi fosilnya masih mencari inang meski sudah tidak viral lagi. Tapi semoga saja itu tidak terjadi.

Dunia yang malang, ditengah kerisuhan ini harusnya ada yang bisa diambil hikmahnya. Quality time bersama keluarga misalnya, karena dengan adanya pandemi ini seluruh kegiatan yang ada di luar rumah harus dihentikan. Atau lingkungan yang semakin hari semakin bersih. Munculnya virus ini juga memunculkan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungannya.

2021, teknologi semakin canggih atau keadaan yang memaksa?

Atau mungkin aku yang ketinggalan zaman :)

Aku iseng menjalajahi website yang menyediakan banyak foto. Waktu itu aku ingin mencari gambar untuk dijadikan pelengkap di postingan blogku yang sebelumnya. Aku mulai mencari "classroom". Namun yang keluar justru orang yang duduk dengan serius di depan perangkat kerasnya. Mungkin orang-orang yang sedang duduk di kelas sudah tidak relate lagi di tahun ini.

Well, tentu ada sisi positif tanpa hal negatif. Dari semua yang negatif, sekolah di rumah menjadi salah satunya. Aku adalah siswa yang menjadi korban keganasan mata pelajaran tersulit. Karena mau bagaimanapun caranya, melihat video pelajaran tidak selalu membuatku paham. Bahkan menuntut penjelasan lagi dan lagi setiap menontonnya. Belum lagi godaan yang selalu datang tanpa mau ditunda untuk melakukannya.

                                 Daring


Ada yang satu server✋?

Jangan bangga dulu, kita ini ketinggalan!!

Kepada kamu kamu yang susah mengejar pelajaran, tarik napas. Yang dalam. Tahan sebentar, lalu buang perlahan lewat mulut, jangan lewat dubur. Ups.

Kita hanya perlu relaks. Buang kata 'tidak bisa' ini jauh-jauh. Sejauh mungkin. Sejauh yang tidak bisa kamu bayangkan akan sejauh apa. Karena kalau masih stuck dengan ini, kapan bisanya?

Selanjutnya, yang biasanya aku lakukan adalah refreshing sejenak. Sejenak ya. Bisa dengan melakukan peregangan, jalan-jalan keliling rumah, atau menonton hal-hal yang lucu. Lalu, kalau mood-nya sudah membaik, aku kembali menjajal satu-satu materi yang belum aku kuasai.

Lalu, aku biasa menelpon satu-satu teman-temanku yang sudah paham. Kalau perlu gurumu langsung. Mereka mungkin bisa lebih membantumu.

Anyway, kita mungkin bisa belajar dimana saja. Belajar di rumah mungkin bisa menjadi pengalaman baru bagi yang sudah sangat jenuh kalau setiap pagi-pagi buta berangkat ke sekolah, lalu pulang menjelang malam. Apapun kendalamu, SEMANGAT! Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran yang tidak akan pernah ada di sekolah manapun, di waktu kapanpun.
Share:

Tujuan Setelah Lulus Sekolah

Tujuan Setelah Lulus Sekolah


Jam pelajaran pertama hari itu sudah dimulai. Sang guru yang biasa kami sapa dengan sebutan ustad sudah tiba di kelas dan langsung menyampaikan materi. Pelajaran hari itu adalah Shorof, cabang dari ilmu bahasa Arab yang cukup penting. Pembelajaran berlangsung tenang dan datar. Namun, tampaknya ada hawa-hawa yang tidak beres.

Atmosfer kelas pagi itu sepertinya tidak sehangat indahnya pagi di luar sana. Sebagian warga kelas mulai suntuk. Apalagi hari ini adalah hari menjelang weekend. Entah apa yang kami lakukan selama seminggu ini hingga membuat hari ini inginnya libur saja. Beberapa ada yang masih memperhatikan sang guru. Sebagian yang lain sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun, tidak sedikit juga yang mulai tumbang.

Menyadari bahwa pelajaran tidak bisa dilanjut, sang guru akhirnya tersenyum dan bertanya tentang hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya.

"Kalian belajar untuk bekerja atau cari uang?" Tanya beliau antusias. Membuat kabut-kabut tak kasat mata yang mengudara di langit-langit kelas mengundurkan dirinya.

Aku juga ikut antusias. Ini adalah sesuatu yang kutunggu-tunggu. Beliau adalah guru favoritku. Diajarkan beliau bukan hanya sekedar memahami materi tetapi juga cara memahami hidup ini. 

Hening sejenak.

Lagi pula opsinya sama saja.

Seseorang menyahut "cari kerja Tad."

Beliau tersenyum dan bertanya lagi "buat apa kalian belajar cuman buat cari kerja?"

Menohok. Kami saling melempar pandangan bingung satu sama lain.

"Biar dapet ijazah Tad (maksudnya legalitas)," jawab seseorang.

"Ijazahnya buat dikasih ke perusahaannya Tad," tambah yang lain.

"Ijazah itu bukan syarat diterima kerja," kata beliau santai.

"Lha ustad, biasanya juga disuruh buat ngasih ijazah," protes yang lain.

 "Iya, tapi ijazah bukan syarat keterima kerja," beliau tetap menyatakan hal itu. Sementara kami tetap keukeuh kalau ijazah adalah syarat untuk lulus seleksi. Lebih tepatnya salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang diajukan perusahaan tempat melamar.

Terjadi debat hanya karena ijazah.

"Terus apa tad?" salah seorang dari kami akhirnya mengalah.

"Syaratnya 'LULUS', baru bisa diterima" jawab beliau.

Gubrak.

"Kalau kalian nggak lulus seleksi, kalian nggak akan diterima kan?" Terang beliau. "Paham?"

"Ya biar lulus harus dikasih ijazah!" Seisi kelas sewot. Heboh.

Kelulusan


 "Belajar buat cari kerja itu, salah!" Beliau menekan kata 'salah'. "Kerja ya tinggal kerja, enggak perlu sekolah. Itu yang salah dari pemikiran orang Indonesia," lanjutnya.

Kelas kembali senyap.

"Makanya, pikiran orang Indonesia enggak pernah maju. Karena pikiran mereka setelah lulus sekolah cuman satu, kerja!" Jelas beliau. "Karena itu, Indonesia dijajah. Kita udah dijajah 300 tahun lho!" Lanjutnya. Beliau kembali mengeluarkan pendapatnya, "dan sekarang, Indonesia lagi dijajah sama China."

"Tapi saya suka dijajah sama orang China," sambungnya.

Kami semua keheranan. "Kenapa ustad?"

"China adalah negara maju, jadi kita bisa ikutan maju," jawabnya.

Kami semua tertawa.

"Orang China, enggak ada yang sekolahnya tinggi-tinggi. Sudah bisa baca, bisa ngitung, mereka langsung kerja di perusahaan bapaknya, terus akhirnya punya perusahaan sendiri," jelasnya.

"Contoh lain, mereka kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Lulus dari sana mereka ngga jadi petani," tuturnya. "mereka belajar. Selesai belajar, mereka beli tanah, terus tanahnya dikerjakan orang," sambungnya lagi.

"Terus siapa yang dipekerjakan? Orang Indonesia!" terangnya.  "Nah, untuk apa kalian sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya cuman jadi pembantu?"

Semuanya diam. Mencerna apa yang beliau bicarakan.

"Masih mau cari kerja?" desaknya, lagi.

"Tapi tad." seseorang menyahut. "Kita 'kan juga butuh uang, kita juga pengen kaya,"

"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau. "Artis yang bunuh diri baru-baru ini, apa yang kurang dalam dirinya? Dia kurang cantik? Engga, dia cantik. Uangnya banyak? Jelas, 'kan dia artis. Pasangan? Dia model dan siapa pun bisa menjadi pasangannya,"
"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau.
"Lalu, apa yang membuatnya bunuh diri?" tanyanya serius. "Orang yang kaya biasanya takut dengan hartanya

Kami semua termenung. Dunia ini memang tempat segala kepalsuan tercipta. Terlihat di layar kalau dia memang cantik dan bahagia. Tapi siapa yang tahu kalau itu semua justru malah membuatnya terpuruk dan jauh dari kata senang?

Dan kita sebenarnya bukan apa-apa kalau tanpa ilmu.

"Orang yang punya sekolah ini, beliau hanya tamatan SMP. Tapi ilmunya melebihi S3. Hingga yang S2 berguru padanya," ujar beliau.

Beliau kembali mengemukakan opininya, "saya juga sebenarnya tidak setuju dengan orang yang billang 'Belajar membuka jendela dunia'."

Kami tersenyum dan menunggu penjelasannya. "Kenapa tad?"

"Iyalah, buat apa buka jendela kalau cuman ngerasain angin? Mantengin orang bawa mobil sambil berdecak sendiri  'ohh,, dia punya mobil?' ngapain??" sanggah beliau.

Seisi kelas tertawa.

"Kalian buka jendela, lihat dunia, ambil apa yang kalian butuhkan. Itu baru yang namanya belajar," urai beliau.

"Lalu ustad, tujuan kita kuliah apa dong?" celetuk seseorang.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain," jawabnya. "Kalian bodoh dalam mentasrif? Belajar sama saya!" katanya sambil menunjuk dirinya dengan nada bercanda. Membuat kami tersenyum lagi.

"Kalian belajar tuh buat ilmu! Bukan buat cari kerja! Dari ilmu itu, baru kalian bisa melalang buana keliling dunia. Syukur-syukur kalau ilmu itu bisa dibagikan secara gratis," papar beliau menutup obrolan kita hari itu.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain"

Jam pelajarannya belum selesai. Tapi setidaknya atmosfer kelas telah berubah. Bukan senang, tapi masih penasaran apa dan bagaimana masa depan kita nanti.

Penjelasan sang guru yang begitu jelas, singkat namun padat dan agak sedikit konyol mampu membuat kita terbius. Setidaknya untuk saat ini, mau dibawa kemana ilmu kita?
Share: