Self Reward, First!

Self Improve, First!


 Salah satu teman baikku mengadu. Dia mengeluhkan betapa sulitnya ia menghafal al-qur'an. Padahal tenggat waktu untuk menyelesaikannya semakin dekat.

"Aku sama sekali enggak suka ngafalin. Kenapa kita harus ngafalin di dunia ini? Kalau bukan karena aku yang butuh, enggak akan mau aku ngafalin."

"Ngafalin itu susah. Pengen nangis terus rasanya."

"Aku benci menghafal."

Dan segala keluhan lain yang dia lontarkan. Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Dengan 'sok bijak' aku berguman, "kalau sudah mengiyakan dari awal, kenapa mengajukan diri untuk berhenti?"

Tidak, aku tidak benar-benar mengatakan itu. Aku pikir itu tidak akan membantunya. Yang saat itu kulakukan hanyalah mengusap punggungnya dan mengepalkan jari tangan yang lain dan berbisik padanya, "semangat!" dengan wajah ceria.

Satu bulan berlalu. Kabarnya sudah menyelesaikan hafalan tersebar dengan mudah, 'semudah' dia menghafalnya. Seisi kelas ramai mengucapkan selamat dan mendoakannya.

Ketika waktu istirahat tiba, aku menghampirinya.

"Selamat udah menyelesaikan hafalan buat orang yang nggak suka ngafal."

Kala itu, dia yang tertawa.

Kalimat setelah 'selamat' sebenarnya tidak bermaksud serius. Tersirat bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa untuk dilakukan. Menghafal -terutama al-qur'an- bukan soal kemampuan, tapi kemauan.

Di lain kesempatan, saat kami sedang bercakap-cakap dia menyinggung peristiwa itu.

"Kamu benar. Saat kamu mengucapkan selamat waktu itu, aku baru ingat kalau aku harusnya memberi selamat pada diriku terlebih dahulu."

Seperti halnya dia, aku yang mendengar pengakuannya juga baru menyadarinya. Aku tidak tahu kalau mengapresiasi diri sendiri itu pengaruhnya sangat besar. Selain untuk menghargai kerja keras yang kita lakukan, mengapresiasi diri juga memberikan dampak positif dan menambah energi meski saat itu tidak ada yang mau menghargai kita.

Kasus lain yang serupa tapi tak sama, adalah ketika salah satu temanku yang lain menunjukan kalau dirinya suka gaya pakaian yang abstrak. Terlihat dari celana yang tidak biasa digunakan oleh sebagian besar dari kami, caranya me-mix and match pakaian yang dia pakai, aksesoris serta benda-benda unik lain yang dimilikinya.

Kami yang pertama kali melihatnya tentu saja aneh dan tidak biasa. Namun karena kami melihatnya enjoy dan biasa saja dengan sikap aneh kami, tidak perlu debat kusir berpuluh-puluh season kami ikut-ikutan mengenal gayanya yang abstrak. Berbeda dengan orang yang sudah dinyinyir namun dia justru down. Orang-orang justru akan tambah menjatuhkannya.

Tidak mudah memang. Tapi itu kenyataannya. Semakin dipikirikan, reaksi orang akan semakin memburuk terhadap diri kita. Maka dari itu, apresiasi diri sebelum diapresiasi itu suatu keharusan.

Self Improve, First!

Selain mengapresiasi, menghibur diri juga sama pentingnya.

Waktu itu terjadi kesalahpahaman yang membuat aku dan teman-temanku geram. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing masalah itu. Tapi karena faktor lingkungan yang berada di antara orang-orang yang bilang tidak suka, aku jadi ikutan tidak suka. Hingga salah satu temanku menenangkan kami semua agar mendinginkan pikiran dan melapangkan hati. Toh membicarakan orang juga tidak baik. Kami pun mengiyakan.

Hingga pada suatu hari, aku mengusulkan agar kita meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan pihak terkait. Namun kebanyakan dari teman-temanku menolak. Mereka lebih memlikih tutup telinga, tidak mau dipikirkan dan menjaga jarak dengan masalah itu. Masalahnya memang tidak 100% clear, tapi hal tersebut menutup terjadinya masalah baru. Sebenarnya solusinya sederhana. Terlalu diambil pusinglah yang membuatnya terlihat rumit.

Menghibur diri sendiri akan membuatmu lebih relaks dan lebih menghargai setiap takdir yang diberikan.

Berkaitan dengan ini, kecerdasan intrapersonal dan interpesonal sangat erat kaitannya. Bagaimana kita melihat ke dalam diri dan memandang orang lain butuh skill khusus. Setiap orang harus memiliki dua kecerdasan ini dengan porsi yang seimbang. Karena kalau berat sebelah, bisa semakin kacau.

Sekarang aku paham betul; kenapa orang-orang banyak menuarakan tentang self healing, kenapa buku-buku tentang self improvement banyak peminatnya, kenapa orang-orang terlalu sering merasa depresi hingga merasa hilang harapan dan tak jarang yang memilih mengakhiri hidupnya. Itu semua hanya satu jawabannya: Tidak perlu memperdulikan orang yang tidak memperdulikanmu.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka konten tentang self improvement, aku sebenarnya hanya ingin berbagi cerita-cerita tadi. Orang lain memang hanya ingin pengakuan dari kita, kalau kita sebenarnya menyukai diri sendiri dan menyayangi mereka. Mulai sekarang mungkin kamu bisa mulai berlatih mencintai diri sendiri yang tidak banyak orang lain tahu tentang itu, belajar memaafkan kesalahan dan berterimakasih atas setiap hal yang menyenangkan. Ubah pola pikirmu ke arah yang lebih positif tanpa perlu merendahkan diri. Toh, derajat manusia semuanya sama di mata Allah.

Selamat merayakan dirimu dengan baru di tahun yang baru!!

Share:

The First Sun of August




Tidak terasa tahun 2021 berlalu begitu cepat. Di akhir pekan yang juga merupakan awal bulan ini matahari bersinar sangat terang. Senyum-senyum merekah. Banyak orang yang berharap, seperti awal bulan sebelumnya, semoga bulan ini menjadi lebih baik lagi. Corona segera menghilang tanpa bekas, dan tidak ada lagi berita duka yang datang silih berganti.

Tidak seperti bulan sebelumnya juga, aku sangat bersemangat untuk memposting artikel baru meski aku tidak tahu apa yang harus aku tulis. Minggu depan aku harus kembali bergelud dengan diri sendiri, berjuang menuntut ilmu di salah satu kota di timur Jawa Barat. Mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tidak bisa memposting satu artikel per bulannya.

Berbicara soal bulan Agustus, aku teringat salah satu orang yang lebih dicintai Allah ketimbang dia sendiri mencintainya. Allah lebih menyayanginya dibanding seluruh orang yang mengenalnya. Dan karena itu, ada banyak pertanyaan yang muncul satu per satu.

Apakah di dunia ini ada suatu benda mati atau hidup yang benar-benar milik kita? Adakah di dunia ini yang benar-benar mengatakan kalau barang ini, temuan ini, orang ini, adalah miliknya? Mungkin ada. Dia benar-benar memiliki barang itu seutuhnya. Sepenuhnya. Dia beli barang itu dengan uang hasil jerih payahnya. Tapi kemudian barang itu hilang. Dan dia sudah tidak bisa menemukannya lagi.

Ada orang pulang dengan wajah sumringah dan hati gembira karena baru saja memenangkan undian lotre. Tapi di tengah jalan orang itu bertemu dengan seorang nenek yang sakit-sakitan. Biaya rumah sakitnya setara dengan jumlah uang lotre yang dia punya. Apakah uang itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang mengatakan kalau ini temuannya. Nama hasil ciptaannya itu menggunakan nama belakangnya. Tapi setelah waktu berlalu, dia meninggal. Saat dikuburkan, temuannya diambil alih oleh rekannya. Apa barang ciptaannya itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang yang berseru kalau wanita disebelahnya adalah miliknya. Mereka berdua sudah saling mengikat janji suci sehidup semati. Siapapun yang ingin mengambilnya harus melangkahi kuburannya dulu. Tapi wanita miliknya harus terbaring kaku dan pergi mendahuluinya. Apa wanita itu tetap menjadi miliknya?

Lalu, kalau memang sesuatu itu bukan milik kita, kenapa kita harus sedih saat sesuatu itu hilang dari genggaman kita? Bukankah di bawah kita lebih membutuhkannya dari kita? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa sudah memberitahu kalau segala sesuatu akan kembali pada-Nya? Kenapa harus menyayangkannya?

Jawabannya, karena manusia terkadang melewatkan kesempatan yang ada. Kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, kesempatan untuk mengetahui lebih luas, kesempatan untuk menyanyangi orang lebih tulus, dan yang selalu terlewatkan adalah kesempatan untuk beribadah lebih giat.

Dan semoga, di bulan Agustus ini semua kesempatan baik itu dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Apalagi, hari jadi negara ini sudah hampir di depan mata. Tahun ini, negara ini bisa merdeka dari corona!!~
Share:

How I Get A Best Night Rest




Kita sebagai manusia sangat membutuhkan istirahat. Belum lagi setelah seharian bergelut dengan seabrek pekerjaan yang enggak ada habisnya. Istirahat bisa menjadi alasan tepat untuk melepas lelah. Terutama pada malam hari. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan malam untuk manusia.

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qashash: 73)

Sepertinya ayat di atas sudah cukup jelas. Untuk tafsir lebih lengkapnya bisa dicari di sini. Sesuai judul yang tertera, kita akan mencari tahu cara mendapatkan istirahat malam yang baik.

Manusia yang diciptakan berbeda-beda, pasti punya cara tersendiri versi mereka agar bisa istirahat dengan nyaman. Ada yang harus menyalakan lampu saat tidur, ada yang bisa tidur kapan saja asal nyenyak dan lain sebagainya tergantung kenyamanan masing-masing. Meski begitu, kita harus tetap memperhatikan do and don't-nya. Karena selain nyaman, kita juga harus bisa merasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan. Apalagi ini adalah istirahat, tidur malam, yang kurang lebih setengah dari hidup kita dihabiskan untuk ini.

Aku sebenarnya juga termasuk salah satu orang yang bisa tidur bagaimanapun keadaannya asalkan ada barang yang bisa dipeluk. Selain itu, sebelum masuk kamar aku usahakan untuk sikat gigi dan mencuci muka, tangan dan kaki. Juga tidak lupa untuk berwudhu. Karena kita tidak tahu apakah ini tidur sementara atau selamanya.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Setelah urusan di kamar mandi selesai, aku beranjak ke kamar dan membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.

“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]

Beres semua, tempat tidur pun mempersilahkan kita untuk merebahkan diri di atasnya. Ritualku sebelum tidur adalah work out ringan. Hanya menggerak-gerakan kaki saja. Berikutnya baca doa. Disyariatkan untuk meruqyah diri sebelum tidur seperti membaca surat al-ikhlash, al-falaq, an-nas, dan ayat kursi. Kemudian membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” [HR. Bukhari no. 6312dan Muslim no. 2711].

Setelah itu cobalah untuk menutup mata perlahan. Menghayal boleh, overthingking jangan. Tidak bisa tidur? Tidak masalah selama tidak menggunakan barang elektronik lagi. Ambillah buku yang bisa membuat mata merasa lelah. Kalau tidak bisa juga, ambillah al-quran karena ayat-ayatnya menenangkan.

Ada sedikit tambahan juga dari orangtuaku. Entah kenapa mereka selalu menggunakan heksos ketimbang kipas angin. Kalaupun menggunakan kipas angin, pasti selalu dihadapkan ke dinding. Aku tidak pernah tahu alasan pastinya sebelum akhirnya aku tahu kalau ternyata hal itu dapat menyerap cairan dalam tubuh. Sehingga tubuh akan menurun lalu kekurangan cairan bahkan dehidrasi. Kemungkinan lainnya bisa dilihat langsung di sini.

Malam tidak harus melulu dilampiaskan dengan berpikir tentang hal-hal rumit yang justru membuat kita semakin stress. Malam juga tidak harus melulu dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Malam hari adalah waktu terbaikmu.

Selamat beristirahat!

.
.
.
Referensi:

Share:

A Lone Night

 

Lilin
shout out to the pexels contributor!

Postingan ini hanya berisi suka duka yang aku alami ketika harus sendirian di rumah.

Sendirian di rumah bukanlah hal baru bagiku. Pertama kalinya aku ditinggal sendiri di rumah seingatku waktu kelas 1 SD di bulan Ramadan. Saat itu kedua orangtuaku ingin pergi ke Tip Top untuk berbelanja keperluan rumah tangga yang sudah menjadi rutinitas bulanan keluarga kami. Setelah belanja, biasanya kami juga menghabiskan waktu untuk bersenang-senang menikmati wahana sederhana yang berada di pasar swalayan tersebut. Si bocil ini tidak diperbolehkan untuk ikut. Alasannya sederhana, ibuku tidak mau kalau aku sampai batal puasa karena kelelahan berbelanja di swalayan. Sebagai bocah kecil yang sok kuat dan sok tahu tentu aku enggak terima. Aku merengek dan memaksa ibuku agar boleh ikut. Hasilnya tetap nihil. Aku cuman bisa pasrah karena akhirnya ditinggal juga.

Dan kejadian yang masih segar diingatan adalah ketika masih kelas 6 SD. Ibuku harus dirawat inap di rumah sakit. Karena itu, Ayahku jadi jarang pulang. Karena orangtuaku anti izin-izin club, aku tidak diperbolehkan untuk ikut menginap di rumah sakit agar masih bisa masuk sekolah.

Karena terlalu sering ditinggal sendiri, aku jadi menyukainya. Sendirian berarti tidak ada yang mengganggu. Sendirian juga berarti bebas melakukan apapun yang aku mau.

Tapi 'sendirian' kali ini berbeda. Meski tidak merasa takut, aku tetap merasa tidak nyaman.

Malam itu, sekitar pukul 19.30 WIB. Adikku melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid dan tidak langsung pulang ke rumah. Ayahku sepertinya terjebak kemacetan di jalan. Sementara ibuku juga sedang tidak berada di rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan deras. Disusul suara gemuruh petir dan kilatnya yang bersahut-sahutan.

Saat itu aku sedang asyik membaca. Tiba-tiba lampu mati. Listrik padam di tengah-tengah derasnya hujan dan aku yang dibiarkan sendiri. Aku langsung bangkit dan mencari senter. Selain itu aku juga harus mengingat-ingat di mana letak lilin yang ditaruh begitu saja.

Kepanikanku tidak berhenti sampai di situ. Setelah menemukan lilin yang tinggal setengah dari ukuran aslinya, aku tidak bisa lanjut membaca. Aku takut kalau senternya mati mendadak karena aku tidak tahu kapan terakhir kali senter ini diisi daya. Namun tidak memungkinkan juga untuk main handphone. Masalahnya, sekarang hujan deras dan banyak petir. Selain itu baterainya juga sudah mulai menipis.

Tapi karena kegabutanku yang enggak tahu harus ngapain lebih besar dari pada ketakutanku yang takut handphone-nya tiba-tiba mati, aku nekat menggunakannya lagi. Aku iseng membuat status di aplikasi chat untuk meng-update keadaan aku saat ini. Setidaknya aku tidak sendiri, toh? Dan ternyata reaksi mereka semua bermacam-macam. Ada yang prihatin, menyuruhku untuk tidur, dan ada juga malah menakut-nakuti.

Di saat-saat seperti ini biasanya aku paling tidak bisa tidur. Selain karena belum ngantuk, hawa di rumah sangat panas meskipun di luar sedang hujan. Dan kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak takut kalau ada yang menyolekku dari belakang atau menahan kakiku dari bawah. Sebagai orang yang paling tidak bisa menikmati film horor, situasi seperti ini membuatku tidak pernah berpikir tentang hal-hal mistis. Yang kutakutkan saat itu cuman satu, apa yang harus aku lakukan kalau ponselnya benar-benar mati.

Beruntung, salah satu temanku mengajakku ke rumahnya setidaknya sampai salah satu dari anggota keluargaku pulang. Mati lampu kali ini benar-benar lama. Apalagi hujan tidak kunjung reda. Aku tidak tahu harus apa kalau temanku ini tidak mengajakku karena aku benar-benar bosan di tengah kegelapan malam.

Dan tidak ada yang membuatku menulis kelamnya mati lampu itu selain kegabutanku saat ini. 
Share:

Rasa yang Pernah Ada

Resep

Manusia diciptakan berbeda-beda ras dan suku bangsa agar mereka saling mengenal, bukan menindas. Manusia juga memiliki sifat dan watak yang berbeda agar saling memahami bukan mengintimidasi. Banyaknya perbedaan tersebut membuat dunia ini semakin berwarna. Alih-alih perdamaian, permusuhan lebih sering terjadi karena keberagaman ini. Dari orang-orang kulit putih yang sok suci, orang-orang tamak yang paling susah jinak, sampai perdebatan soal makan bubur yang lebih enak diaduk atau enggak.

Ngomongin cara makan bubur yang diperdebatkan, aku dan saudaraku bisa dibilang punya selera yang sama, sama-sama diaduk. Selain selera makan bubur, kami juga suka pedas, pecinta micin dan makanan gurih lainnya. Bedanya dia biasanya 'lebih gigih' untuk mendapatkannya ketimbang aku yang milih untuk 'apa adanya'. 

Tidak perlu jauh-jauh, kalau membuat mie instan saja, semua bumbu penyedap yang ada di rumah dimasukin satu-satu ke mangkuk mienya, b*n cabe dan irisan cabai rawit juga enggak ketinggalan. Telur rebusnya juga harus pas dan kuahnya enggak boleh kurang. Sementara aku, ya, cuman pakai bumbu yang sudah disediain dari sananya dan sisa irisan cabai rawit yang kadang enggak diabisin sama dia. Belum lagi kalau aku yang harus masakin indomienya. Nyerah duluan sebelum dia sempat menjelaskan harus ada apa aja di dalam mangkuk mienya.

Apalagi, akhir-akhir ini aku sering mencoba masak sendiri untuk menekan anggaran karena suka beli makanan jadi. Karena cuman coba-coba, rasanya pun rada-rada. Dan karena rasanya yang enggak bisa disebut mencapai standar rata-rata (menurut adikku itu) enggak jarang dia marah-marah. Makanannya enggak cocok di lidah dia, kurang asin lah, ngga ada rasanya lah, dan segala macam uneg-uneg ala juri-juri masterchef yang judesnya enggak ada lawan. Padahal menurutku itu sudah cukup asin, asin banget malah. Makanya, enggak jarang kita ribut cuman gara-gara masakannya enggak cocok di lidah masing-masing.

Soal selera yang berbeda tiap orang, aku pribadi belum pernah makan menu yang sama kalau lagi makan di luar bareng orang lain. Kalaupun sama, salah satu dari kita pasti ada yang ngalah atau bingung mau makan apa. Contoh paling sering adalah ketika istirahat. Aku sering banget jajan bareng temen aku yang satu ini. Aku biasanya sering ke kantin buat beli gorengan, bakso, cilok, atau makanan berbumbu lainnya. Sementara temanku belok ke koperasi buat beli wafer, biskuit, atau makanan manis lainnya. Kantin yang sering penuh menjadi alasan lain kenapa dia selalu jajan di koperasi. Pernah juga kami pergi ke kantin bareng tapi ngidam jajanan yang beda. Dia beli jajanan seribuan kalau aku beli jajanan berat seperti seblak. Alhasil, dia harus ikut nungguin biar kami bisa makan bareng.

Kembali ke cerita awal, akhirnya aku tahu perasaan ibuku ketika masakannya yang telah dimasak sepenuh hati ternyata tidak dinikmati. Bukan karena rasanya yang enggak enak, tapi karena menunya yang enggak memikat. Sakit.

Share:

Realita 17 Tahun

Kue


"Ada yang ulang tahun, nih!"

"Cie... udah 17 Tahun, ya!"

"Happy sweet seventeen!"

Bentar-bentar, emang ada apa di umur 17 tahun?

Buat sebagian orang yang merayakan ulang tahun, pasti merasa kurang kalau di umur 17 tahun ini tidak dirayakan dengan spesial. Katanya, di tahun itu adalah masa-masa transisi dari remaja menuju dewasa. Maka, tak jarang juga mereka membuat pesta meriah seperti ulang tahun yang ke 7 tahun. Ada juga yang hanya sekedar acara syukuran dan doa bersama agar remaja tanggung yang bersangkutan diberi kesehatan, rezeki, pasangan, dan jalan hidup yang lancar.

Disini aku tidak sedang membicarakan hukum merayakan ulang tahun yang memang dilarang dalam syariat Islam meski dalam bentuk apapun. Tapi membicarakan si angka 17 tahun.

Perayaan bertambahnya umur yang datang setiap tahunnya selalu jadi momen yang membahagiakan. Mereka bergembira dengan usia mereka yang semakin membesar jumlahnya. Lalu meniup lilin setelah mengaminkan harapannya. Dan lupa terhadap apa yang telah mereka lewati sebelum mencapai fase saat itu. Padahal, dibalik usia yang bertambah ada waktu kehidupan yang sudah berkurang. Artinya, entah kapan waktunya, kamu akan lebih dekat pada kematian.

Tidak bisa dipungkiri, anak kecil yang sudah paham dunia akan ingin cepat-cepat dewasa. Remaja di masanya yang masih labil selalu ingin mendapat perhatian lebih. Namun mereka tidak bisa memutar balik waktu karena menjadi dewasa tidak semenyenangkan imajinasi anak-anak.

Segala sesuatu menyimpan sisi baik dan buruk. Baiknya, di umur 17 tahun ini kamu bisa mengakses hal-hal yang sempat dilarang waktu belum cukup umur. Negara mengesahkan kamu sebagai penduduk yang terdaftar. Mereka juga menerbitkan surat izin buat yang sudah bisa mengemudi. Namun tetap dalam batasan-batasan tertentu. Karena dunia ini masih punya aturan agar bisa berjalan dengan damai.

Menjadi dewasa berarti merelakan hal-hal yang sangat kamu inginkan. Kita dituntut untuk lebih 'matang' disaat masih memerlukan asupan. Akan banyak pengorbanan yang dikerahkan dan air mata yang ditumpahkan. Semuanya hanya untuk memenuhi hasrat orang lain atas kita. Meskipun yang tua belum tentu dewasa, setidaknya dunia ini masih punya generasi setara anak-anak yang memerlukan kasih sayang orang yang lebih besar dari mereka. Dunia juga masih punya orang-orang berusia lanjut yang perlu bantuan di masa-masa mereka yang serba terbatas. Dunia ini masih berjalan.


Menjadi dewasa berarti siap berair mata


Aku yang juga masih 'mentah' diminta untuk tetap berdiri, di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam walau tanpa payung atau mantel. Itulah dunia yang realitanya tidak pernah seindah ekspetasi yang berlebihan, apalagi disamakan dengan imajinasi anak kecil.

Sebagai manusia yang sadar umurnya sedang bertambah, kita seharusnya intropeksi diri. Sudah sejauh mana kita berlari. Sudah sampai mana kita mendaki. 17 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tuntutan semakin besar, beban terus bertambah, dan segalanya akan berubah perlahan-lahan. Kita juga harus bisa mengontrol diri agar terlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang tidak mudah mendapat tekanan yang besar dari luar. Apalagi dipaksa untuk tidak mempertahankan ego sendiri. Meski kita hidup bukan untuk memuaskan makhluk lain, setidaknya kita harus paham kalau kita tetap manusia. Makhluk soisal yang butuh dan dibutuhkan makhluk lainnya.

17 tahun, sweet seventeen atau apalah namanya yang katanya masa-masa semanis susu atau lebih manis dari madu harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan membuat masa-masa indah ini menjadi suram karena patah hati yang kepanjangan, atau membuatmu terlena karena terlalu indah. Jangan sampai masa-masa ini justru membuatmu kecewa dan menyesali semua yang sudah kamu sia-siakan sendiri. Manfaatkan waktu dan jangan lupa untuk selalu bermuhasabah. Semoga hidupmu berkah.

Terimakasih.



Share:

Pelajar 2021


Belajar di Rumah

2021, virus yang memangsa manusia di seluruh dunia ini belum menunjukan tanda-tanda kepunahan. Mungkin kalau dibilang punah, dia belum sepenuhnya punah. Bisa jadi fosilnya masih mencari inang meski sudah tidak viral lagi. Tapi semoga saja itu tidak terjadi.

Dunia yang malang, ditengah kerisuhan ini harusnya ada yang bisa diambil hikmahnya. Quality time bersama keluarga misalnya, karena dengan adanya pandemi ini seluruh kegiatan yang ada di luar rumah harus dihentikan. Atau lingkungan yang semakin hari semakin bersih. Munculnya virus ini juga memunculkan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungannya.

2021, teknologi semakin canggih atau keadaan yang memaksa?

Atau mungkin aku yang ketinggalan zaman :)

Aku iseng menjalajahi website yang menyediakan banyak foto. Waktu itu aku ingin mencari gambar untuk dijadikan pelengkap di postingan blogku yang sebelumnya. Aku mulai mencari "classroom". Namun yang keluar justru orang yang duduk dengan serius di depan perangkat kerasnya. Mungkin orang-orang yang sedang duduk di kelas sudah tidak relate lagi di tahun ini.

Well, tentu ada sisi positif tanpa hal negatif. Dari semua yang negatif, sekolah di rumah menjadi salah satunya. Aku adalah siswa yang menjadi korban keganasan mata pelajaran tersulit. Karena mau bagaimanapun caranya, melihat video pelajaran tidak selalu membuatku paham. Bahkan menuntut penjelasan lagi dan lagi setiap menontonnya. Belum lagi godaan yang selalu datang tanpa mau ditunda untuk melakukannya.

                                 Daring


Ada yang satu server✋?

Jangan bangga dulu, kita ini ketinggalan!!

Kepada kamu kamu yang susah mengejar pelajaran, tarik napas. Yang dalam. Tahan sebentar, lalu buang perlahan lewat mulut, jangan lewat dubur. Ups.

Kita hanya perlu relaks. Buang kata 'tidak bisa' ini jauh-jauh. Sejauh mungkin. Sejauh yang tidak bisa kamu bayangkan akan sejauh apa. Karena kalau masih stuck dengan ini, kapan bisanya?

Selanjutnya, yang biasanya aku lakukan adalah refreshing sejenak. Sejenak ya. Bisa dengan melakukan peregangan, jalan-jalan keliling rumah, atau menonton hal-hal yang lucu. Lalu, kalau mood-nya sudah membaik, aku kembali menjajal satu-satu materi yang belum aku kuasai.

Lalu, aku biasa menelpon satu-satu teman-temanku yang sudah paham. Kalau perlu gurumu langsung. Mereka mungkin bisa lebih membantumu.

Anyway, kita mungkin bisa belajar dimana saja. Belajar di rumah mungkin bisa menjadi pengalaman baru bagi yang sudah sangat jenuh kalau setiap pagi-pagi buta berangkat ke sekolah, lalu pulang menjelang malam. Apapun kendalamu, SEMANGAT! Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran yang tidak akan pernah ada di sekolah manapun, di waktu kapanpun.
Share:

Tujuan Setelah Lulus Sekolah

Tujuan Setelah Lulus Sekolah


Jam pelajaran pertama hari itu sudah dimulai. Sang guru yang biasa kami sapa dengan sebutan ustad sudah tiba di kelas dan langsung menyampaikan materi. Pelajaran hari itu adalah Shorof, cabang dari ilmu bahasa Arab yang cukup penting. Pembelajaran berlangsung tenang dan datar. Namun, tampaknya ada hawa-hawa yang tidak beres.

Atmosfer kelas pagi itu sepertinya tidak sehangat indahnya pagi di luar sana. Sebagian warga kelas mulai suntuk. Apalagi hari ini adalah hari menjelang weekend. Entah apa yang kami lakukan selama seminggu ini hingga membuat hari ini inginnya libur saja. Beberapa ada yang masih memperhatikan sang guru. Sebagian yang lain sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun, tidak sedikit juga yang mulai tumbang.

Menyadari bahwa pelajaran tidak bisa dilanjut, sang guru akhirnya tersenyum dan bertanya tentang hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya.

"Kalian belajar untuk bekerja atau cari uang?" Tanya beliau antusias. Membuat kabut-kabut tak kasat mata yang mengudara di langit-langit kelas mengundurkan dirinya.

Aku juga ikut antusias. Ini adalah sesuatu yang kutunggu-tunggu. Beliau adalah guru favoritku. Diajarkan beliau bukan hanya sekedar memahami materi tetapi juga cara memahami hidup ini. 

Hening sejenak.

Lagi pula opsinya sama saja.

Seseorang menyahut "cari kerja Tad."

Beliau tersenyum dan bertanya lagi "buat apa kalian belajar cuman buat cari kerja?"

Menohok. Kami saling melempar pandangan bingung satu sama lain.

"Biar dapet ijazah Tad (maksudnya legalitas)," jawab seseorang.

"Ijazahnya buat dikasih ke perusahaannya Tad," tambah yang lain.

"Ijazah itu bukan syarat diterima kerja," kata beliau santai.

"Lha ustad, biasanya juga disuruh buat ngasih ijazah," protes yang lain.

 "Iya, tapi ijazah bukan syarat keterima kerja," beliau tetap menyatakan hal itu. Sementara kami tetap keukeuh kalau ijazah adalah syarat untuk lulus seleksi. Lebih tepatnya salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang diajukan perusahaan tempat melamar.

Terjadi debat hanya karena ijazah.

"Terus apa tad?" salah seorang dari kami akhirnya mengalah.

"Syaratnya 'LULUS', baru bisa diterima" jawab beliau.

Gubrak.

"Kalau kalian nggak lulus seleksi, kalian nggak akan diterima kan?" Terang beliau. "Paham?"

"Ya biar lulus harus dikasih ijazah!" Seisi kelas sewot. Heboh.

Kelulusan


 "Belajar buat cari kerja itu, salah!" Beliau menekan kata 'salah'. "Kerja ya tinggal kerja, enggak perlu sekolah. Itu yang salah dari pemikiran orang Indonesia," lanjutnya.

Kelas kembali senyap.

"Makanya, pikiran orang Indonesia enggak pernah maju. Karena pikiran mereka setelah lulus sekolah cuman satu, kerja!" Jelas beliau. "Karena itu, Indonesia dijajah. Kita udah dijajah 300 tahun lho!" Lanjutnya. Beliau kembali mengeluarkan pendapatnya, "dan sekarang, Indonesia lagi dijajah sama China."

"Tapi saya suka dijajah sama orang China," sambungnya.

Kami semua keheranan. "Kenapa ustad?"

"China adalah negara maju, jadi kita bisa ikutan maju," jawabnya.

Kami semua tertawa.

"Orang China, enggak ada yang sekolahnya tinggi-tinggi. Sudah bisa baca, bisa ngitung, mereka langsung kerja di perusahaan bapaknya, terus akhirnya punya perusahaan sendiri," jelasnya.

"Contoh lain, mereka kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Lulus dari sana mereka ngga jadi petani," tuturnya. "mereka belajar. Selesai belajar, mereka beli tanah, terus tanahnya dikerjakan orang," sambungnya lagi.

"Terus siapa yang dipekerjakan? Orang Indonesia!" terangnya.  "Nah, untuk apa kalian sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya cuman jadi pembantu?"

Semuanya diam. Mencerna apa yang beliau bicarakan.

"Masih mau cari kerja?" desaknya, lagi.

"Tapi tad." seseorang menyahut. "Kita 'kan juga butuh uang, kita juga pengen kaya,"

"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau. "Artis yang bunuh diri baru-baru ini, apa yang kurang dalam dirinya? Dia kurang cantik? Engga, dia cantik. Uangnya banyak? Jelas, 'kan dia artis. Pasangan? Dia model dan siapa pun bisa menjadi pasangannya,"
"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau.
"Lalu, apa yang membuatnya bunuh diri?" tanyanya serius. "Orang yang kaya biasanya takut dengan hartanya

Kami semua termenung. Dunia ini memang tempat segala kepalsuan tercipta. Terlihat di layar kalau dia memang cantik dan bahagia. Tapi siapa yang tahu kalau itu semua justru malah membuatnya terpuruk dan jauh dari kata senang?

Dan kita sebenarnya bukan apa-apa kalau tanpa ilmu.

"Orang yang punya sekolah ini, beliau hanya tamatan SMP. Tapi ilmunya melebihi S3. Hingga yang S2 berguru padanya," ujar beliau.

Beliau kembali mengemukakan opininya, "saya juga sebenarnya tidak setuju dengan orang yang billang 'Belajar membuka jendela dunia'."

Kami tersenyum dan menunggu penjelasannya. "Kenapa tad?"

"Iyalah, buat apa buka jendela kalau cuman ngerasain angin? Mantengin orang bawa mobil sambil berdecak sendiri  'ohh,, dia punya mobil?' ngapain??" sanggah beliau.

Seisi kelas tertawa.

"Kalian buka jendela, lihat dunia, ambil apa yang kalian butuhkan. Itu baru yang namanya belajar," urai beliau.

"Lalu ustad, tujuan kita kuliah apa dong?" celetuk seseorang.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain," jawabnya. "Kalian bodoh dalam mentasrif? Belajar sama saya!" katanya sambil menunjuk dirinya dengan nada bercanda. Membuat kami tersenyum lagi.

"Kalian belajar tuh buat ilmu! Bukan buat cari kerja! Dari ilmu itu, baru kalian bisa melalang buana keliling dunia. Syukur-syukur kalau ilmu itu bisa dibagikan secara gratis," papar beliau menutup obrolan kita hari itu.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain"

Jam pelajarannya belum selesai. Tapi setidaknya atmosfer kelas telah berubah. Bukan senang, tapi masih penasaran apa dan bagaimana masa depan kita nanti.

Penjelasan sang guru yang begitu jelas, singkat namun padat dan agak sedikit konyol mampu membuat kita terbius. Setidaknya untuk saat ini, mau dibawa kemana ilmu kita?
Share: