Negeri Mimpi

Tangga




Enggak kerasa blog ini udah jalan 1 setengah tahun. Dan setengah tahunnya justru semi-hiatus. Apa itu semi hiatus? Entahlah. Itu cuman kata halus untuk menyindir blogger yang jarang aktif sepertiku. Hehe.

Enggak kerasa juga aku akhirnya lulus SMA. Sebelum benar-benar lulus, aku diharuskan untuk menjalani masa pengadian selama 1 tahun sebagai bentuk lain mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama sekolah. Kebetulan aku menjadi bagian dari tenaga pengajar di sekolah sendiri. Sedikit menguntungkan karena aku memang belum memikirkan dan menyiapkan rencana studi lanjut setelah lulus SMA. Kerugiannya adalah aku jadi belum move on dari SMA dan ingin masuk kelas lagi. Melihat para guru semasa SMA berjalan menuju kelas mereka membuatku ingin ikut masuk kelas juga.

Berbicara tentang kelas, salah satu kelas dari sekian banyak kelas yang paling membuat ngantuk adalah ketika kamu enggak minat belajar sama sekali tapi guru kamu tetap ngajar tanpa variasi. Solusinya, kalau enggak niat belajar, ya enggak usah masuk sekolah. Tapi mabal dari kelas bukan pilihan bagus untuk siswa tingkat akhir yang harus mempertahankan reputasi agar bisa dibantu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang paling tinggi.

Berhubung kelasku sudah menyelesaikan kitab rujukan kami untuk salah satu pelajaran, kami kompak untuk menggelar kelas kosong meski sang guru sudah stand by di depan kelas. Pak guru yang pasrah melihat sebagian kecil muridnya di kelas ini tumbang hanya bisa mengajak murid yang masih duduk tegap untuk ikut berkelana di alam mimpi juga.

"Ustadz." Salah satu temanku memanggil. Pak guru mendongakan kepalanya, mencari sumber suara.

"Denger-denger kurikulum Indonesia diubah lagi ya, tadz?" Tanya temanku tersebut.

"Diubah jadi seperti apa?" Pak guru balik bertanya.

"Enggak ada sistem penjurusan gitu." Ucapkan temanku. Pak guru mangut-mangut.

"Terus gimana kalau enggak ada penjurusan?" Pak guru balik tanya.

"Kurang paham juga, sih, tadz." Temanku menyudahi topiknya. Yang lainnya saling pandang, sama-sama tidak tahu.

"Katanya siswanya bisa bebas pilih mata pelajaran," ungkap temanku yang lain.

"Kayak sentra?" Yang duduk di paling belakang bersuara.

"Bisa jadi," jawabnya.

"Jadi nanti mereka bisa masuk kelas mana aja sesuai minat."

"Terus jadwal pelajarannya gimana nanti?"

"Katanya bakal lebih susah juga materinya."

"Sekolah kita bakal kayak gitu juga, enggak, tadz?"

Dan pertanyaan-pertanyaan acak lainnya.

Karena penasaran, Pak guru pun inisiatif mencari sendiri kurikulum baru apa yang kita maksud.

Setelah melewati keheningan beberapa saat, Pak guru akhirnya menarik kesimpulan yang sayangnya aku tidak ingat apa yang beliau ucapkan. Beliau mengeluarkan opini dan pandangan beliau soal perubahan kurikulum tersebut, kemendikbud, dan pemerintah. 

"Tapi, sekolah harus mengajarkan kepada muridnya seenggaknya 3 bahasa," lanjut beliau. "Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Mandarin."

Opini tersebut harus tetap berlanjut dan berkembang mengingat sebagian besar murid di kelas memilih untuk berpangku tangan.

"Kenapa, tadz?" Murid yang duduk paling depan bertanya. Mulai antusias.

"Bahasa Inggris sudah pasti karena itu bahasa internasional. Bahasa Jepang dan Jerman, karena dari sana semua teknologi tercipta. Bahasa Mandarin, agar kita pelan-pelan tidak dijajah oleh mereka."

Penghuni sisi kelas, alias yang duduk di pinggiran, masih betah dengan tidur panjang mereka.

"Memang menurut ustadz sendiri, kurikulumnya harusnya bagaimana?" Tanya salah satu temanku yang terlihat kalem dari luar tapi sebenarnya dia tidak sekalem itu.

"Saya tidak tahu, kan saya bukan menteri pendidikan," jawab beliau. Kami tertawa.

"Kalau saya yang jadi menteri pendidikannya, saya ubah sistem belajarnya menjadi beberapa kelas." Pak guru melanjutkan opininya lagi.

Kami memasang wajah bingung, penasaran sekaligus ingin tahu.

"Jadi kalau ingin memperdalam biologi, misalnya, silahkan saja. Tapi bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia," jelas Pak Guru. Mau heran tapi beliau adalah guru kami.

"Biologi pakai bahasa Jerman, nanti Kimia pakai bahasa Jepang, Fisika pakai bahasa mandarin, biar gampang matematika pakai bahasa Inggris," lanjut Pak guru lagi.

"Kalian bebas memilih kelas mana saja, belajar apa saja, tapi syaratnya itu, bahasa pengantarnya bukan bahasa Indonesia."

"Karena kalau kelas pendalaman bahasanya dibedakan lagi, nanti belajarnya malah makin lama, dan akan jarang dipraktekan langsung."

Hening. Sebagian mencerna apa yang dikatakan Pak Guru barusan, sebagian mencari pertanyaan baru, sebagiannya lagi masih beda alam.

"Kalau ustadz jadi menteri pariwisata gimana, tadz?" Akhirnya pertanyaan acak berikutnya muncul.

"Saya bakal jadiin kuburan sebagai tempat selfie," ungkap beliau tidak kalah acak. Kami semua tertawa.

"Biar kuburannya makin ramai," lanjut beliau lagi. Kami tahu pasti kalau ziarah kubur itu tetap harus mengikuti tuntunan dan sunnah Rasul, mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengingat bahwa kematian itu nyata. Sementara, kebanyakan orang melakukan ziarah kubur bukan untuk mendoakan, melainkan minta didoakan.

"Wisata religi? Wisata religi itu tadabur alam, mengenali Allah lewat ciptaan-Nya." Lanjut beliau lagi. 

"Negeri kita ini sudah dikaruniai banyak pemandangan indah. Gunungnya, lautnya, pantainya, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan."

Seluruh kelas hening, menyimak apa yang Pak Guru sampaikan. Indonesia yang indah ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Selain yang sudah masyhur seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, 
Kepulauan Seribu, dan lain-lain, masih banyak tempat-tempat lain yang sulit dilewati dan tidak dikelola dengan baik.

"Kalau jadi menteri keuangan, tadz?" Pertanyaan berikutnya muncul lagi.

"Kalau jadi menteri keuangan, saya hapuskan pajak." Jawab beliau santai. "Kita bisa memungut 2,5% dari harta setiap orang yang mampu dan menentukan nominal uang yang harus dibayar oleh setiap warga non-muslim. Namanya bukan jizyah, karena negara ini bukan termasuk negara muslim."

"Menteri kesehatan, tadz!" Seru yang lain. Meminta pandangan Pak Guru tentang bagaimana 'seharusnya' seorang menteri kesehatan bertindak.

"Menteri kesehatan? Segala akses kesehatan harus gratis. Semua orang dapat," jelas Pak Guru langsung ke inti.

"Terus bayar dokter dan tenaga kesehatan yang lain gimana, tadz?" Seseorang yang berada di barisan tengah bertanya.

"Sekolah kesehatannya juga harus gratis," jawab Pak Guru mantap. "Saya juga akan menghentikan praktek dokter. Para dokter harus praktek di rumah sakit."

"Jangan begitu, dong, tadz," protes salah satu temanku yang punya cita-cita memiliki praktek sendiri.

"Sekolahnya kan sudah gratis, jadi dia harusnya nurut," jawab Pak Guru. "Saya tahu kalau saya keluarkan kebijakan ini, seluruh dokter di Indonesia akan mengadakan demo besar-besaran."

Kami tertawa sekaligus terkesima. Pertanyaan random yang dijawab dengan pasti itu membuat kami ingin terus mengulik lebih dalam.

"Kalau misalnya ada rakyat yang enggak setuju gimana, tadz?"  Celetuk seseorang yang duduk di shaf tengah.

"Yang tidak suka dengan kebijakan saya, saya cabut kewarnganegaraannya," sahut beliau. Kami semua tertawa.

"Buat apa dia masih tinggal di negara ini kalau menentang pemerintah? Lebih baik diasingkan, di pulau terpencil. Dia dan seluruh keluarganya. Buat negara baru sendiri." Kami hanya bisa tertawa.

"Kalau begitu, kenapa ustadz tidak mencoba untuk mencalonkan diri?" Seseorang bertanya.

Hening. Yang sempat berada di alam lain kini sudah bergabung mendengarkan obrolan kami.

"Ini cuman khayalan saya saja," sahut Pak Guru santai. Kami tertawa lagi.

"Karena negeri ini adalah Negeri Mimpi. Semua orang bebas bermimpi."

Kami semua terdiam. Indonesia memang rumah dari segala jenis mimpi yang kebanyakan bermuara di alam mimpi. Kalau bicara tentang Indonesia di masa depan pas lagi di umur yang sekarang sudah melewati masa puber dan quarter crisis, kita setidaknya akan mengatakan hal-hal yang realistis dengan sedikit imajinasi karena tahu tidak semua yang diinginkan bisa tercapai. Apalagi pas tahu situasinya lagi kayak gini; pemerintah yang kerjanya tidak terlihat 'nyata', sistem pendidikan yang selalu berubah, harga bahan pokok yang tidak masuk akal, dan segala tetek bengek yang lain. Berbeda keadaannya kalau ngomongin beginian bareng anak SD, yang jawabannya enggak jauh dari mobil terbang dan dunia serba canggih ala kartun kenamaan asal Jepang--Doraemon. Meskipun sebenarnya hal itu mungkin saja terjadi.

"Kalian harus menjadi orang yang visioner," terang beliau. Kami semua tertegun. "Saya sudah sedikit berumur. Karena ini cuman khayalan saya saja, visi saya. Saya akan serahkan semuanya kepada anak-anak muda saja, biar mereka yang melanjutkan."

Indonesia yang sudah merdeka selama 77 tahun ini telah memberikan kebebasan juga untuk seluruh warganya agar berani bermimipi, berani memilik misi, dan mewujudkan ambisi. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka pun, para pejuang tidak berhenti bermimpi untuk memerdekakan Indonesia. 

Indonesia yang merdeka membuat kita bisa merasakan hidup yang aman, damai, tenteram, dan yang paling penting, 'bebas'. Bukan berarti kita bisa bertindak semaunya, tapi bebas di sini berarti tidak dijajah, dikekang atau diintimidasi. Karena nikmat-nikmat yang tiada tara ini, kita seharusnya bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik. Kita tidak perlu merasa terintimidasi  dengan orang yang tidak paham dengan kemerdekaan versi kita, kita tidak perlu merasa dikekang dengan pikiran-pikiran rudet yang terus berputar di kepala sehingga kita tidak pernah bebas melakukan hal yang sebenarnya ingin kita lakukan. Kita juga harus membentengi diri sendiri agar tidak dijajah oleh diri kita yang lain.

'Kemerdekaan' itu sebenarnya adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran kita.

Tidak terasa jam pelajaran beliau telah selesai. Akhirnya, kami bisa 'merdeka' dari kelas yang bikin ngantuk setengah mampus. Hehe.

Dan setelah menulis ini, rasa ingin masuk kelas lagi malah semakin menggila.
Share:

Be The Happy You

glasses


Bulan Juni lalu adalah masa-masa akhir sekolah yang 'sedikit' membosankan. Bagaimana tidak? Di saat sekolah lain sudah mengadakan acara kelulusan, sekolahku justru mengadakan pelatihan bagi calon guru yang akan mengajar di sini. Dan peserta pelatihannya tentu saja kami --kelas 12-- yang belum diluluskan secara resmi oleh sekolah karena masih punya tanggungan untuk berkhidmah selama 1 tahun. Pelatihannya kurang lebih 3 minggu. Selain tata cara mengajar yang baik dan benar, para peserta pelatihan juga melakukan pelatihan kerja lapangan, belajar kitab aqidah, dan seminar menarik.

Setelah acara kelulusan yang diisi dengan pembacaan surat keputusan kelulusan dan pembagian apresiasi dilangsungkan secara khidmat, aku pulang ke rumah untuk berlibur sebelum nantinya harus menjadi pegawai magang di sekolahku sendiri. Ada banyak yang harus disiapkan. Mulai dari kesehatan fisik, kesiapan mental, dan kedewasaan yang memang sudah harus ada. Aku memang bukan bekerja di tempat asing karena ini adalah sekolahku sendiri. Tapi, nantinya akan sulit untuk berkumpul lagi bersama teman-temanku yang lain. Kami harus lebih profesional. Apalagi, ini adalah pengalaman kerja pertamaku.

Orang-orang kemudian menanyakan apa rencanaku selanjutnya. Mengingat aku sudah bukan dikatakan siswa SMA lagi. Apakah langsung bekerja atau kuliah. Aku hanya bisa menjelaskan dengan gamblang. Kalau aku sebenarnya 'belum lulus'. Orangtuaku sedikit menyangkan program wajib ini, karena satu tahun yang menurut mereka seperti 'terbuang'. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, aku akhirnya punya pengalaman kerja, dan bisa mempersiapkan diri lebih matang untuk daftar kuliah nantinya.

Alur hidup manusia kayaknya cuman lahir, lalu belajar merangkak, belajar berjalan, masuk taman kanak-kanak, masuk sekolah dasar, belajar di sekolah menengah, di terima di universitas bergengsi, bekerja di perusahaan elit dengan gaji melintir, menikah, punya anak, menikmati masa tua, lalu meninggal. Enggak ada yang 'spesial' karena standar hidup bahagia orang-orang semuanya sama, harus sama.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah sebuah ketidakberuntungan sebagian kecil orang yang justru dianggap sial. Seperti pekerjaan yang kurang masuk akal, menikah di usia yang tidak lagi muda, tidak kunjung diberi momongan, atau justru sudah punya pekerjaan tapi malah dibilang pengangguran karena kerjanya yang terlalu santai. Padahal setiap orang punya timeline masing-masing. Setiap individu punya jalan hidup masing-masing. Dan setiap kelompok tidak bisa menjudge suatu individu yang kelihatannya tidak sesuai dengan pandangan mereka dan harus setara. Enggak kebayang kalau semua orang punya timeline yang sama. Umur 23 tahun menikah, umur 25 punya anak, lalu meninggal di usia 70 tahun. Padahal takdir adalah hal yang pasti namun tersembunyi. Semua orang pasti akan menyia-nyiakan masa muda mereka dan bertaubat di usia 60 tahun. Kerusakan pasti sudah terjadi saat itu.

Kebahagiaan itu sesederhana melakukan hal yang kita suka tanpa hambatan internal seperti sakit atau tanpa hambatan eksternal seperti tidak punya uang. Kalau kita melakukan sesuatu yang kita suka pasti kita menjadi merasa senang. Masalahnya untuk melakukan yang kita suka kita harus punya modal berupa uang. Jadi bahagia itu adalah ketika kita punya uang.

Menarik. Itu juga tidak selamanya salah. Bahkan untuk buang air kecil saja kita harus mengeluarkan uang setidaknya dua ribu rupiah. Untuk membeli makan harus mengeluarkan sepuluh ribu rupiah. Untuk membeli minum harus mengeluarkan lima ribu rupiah. Begitulah gambaran umum ketika kita sedang dalam perjalanan dan bis yang ditupangi sedang singgah di sebuah rumah makan; buang air, beli pop mie dan teh javana. Terus makan sebentar biar pas di bis bisa tidur lagi.

Bukankah hidup juga sama, hanya sebuah persinggahan?

Pernah suatu hari, saudaraku yang lebih muda mengeluhkan kenyataan yang dia hadapi selama berada di perantauan. Selain jadwal padat yang membuat dia tidak bisa rebahan sesuka hati, kekurangan uang menjadi kekhawatirannya. Pengeluaran pentingnya tidak berbanding lurus dengan bekal yang biasanya dia dapatkan. Aku hanya bisa membesarkan hatinya. Sebesar apapun yang kita punya harus selalu disyukuri. Tapi dibalik kerisauanannya tentang hal itu, dia tetap merasa nyaman di tempatnya tersebut. Mungkin dia merasa kalau kebahagiaannya memang sudah menjadi prioritas yang pertama dan urusan kekurangan itu sudah menjadi urutan kesekian.

Aku pernah merasa sangat lelah. Lelah dengan lingkungan yang semakin hari semakin panas, lelah dengan orang-orang sekitar yang selalu membuat hati memanas, dan lelah dengan pikiran sendiri yang tidak boleh panas. Aku juga menemukan postingan-postingan di sosial media yang mengharuskan kita untuk lebih membahagiakan diri sendiri dari pada orang lain. Tapi aku tidak relate dengan pernyataan tersebut sampai aku sendiri merasa tidak nyaman ketika terus-terusan mengutamakan orang lain dibanding diriku sendiri. Setelah merasa lelah, aku berpikir, "sakit demi orang lain senang, sampai kapan?" Dan  beruntung ada salah satu temanku berkomentar, "Sampai kamu merasa, bahwa bahagia mereka adalah bahagiamu juga."

Ya, karena membahagiakan orang itu harus.

Aku juga pernah menemukan pernyataan yang diungkapkan oleh bang Andy, bahwa untuk bahagia kita harus mencari signifikasi dari keberadaan kita di dunia. Pernyataan itu jelas menujukan kalau kita harus menjadi 'manusia' yang sebenarnya. 'Manusia' yang bisa memanusiakan manusia.

Karena masa pengabdian satu tahun mengharuskan aku untuk merantau namun aku belum berangkat saat itu, salah satu temanku yang sudah tiba di perantauan tiba-tiba bilang "Aku nitip, ya. Nitip kebahagian di rumah."

Baik, ini berlebihan.

Bahagia sebenarnya sesederhana itu, pikiran kita saja yang terlalu mempersulit sehingga malah membuatnya runyam.

Ya, dan bahagia itu tidak datang sendiri. Dia ada saat dicari. Jadi, selamat mencari.

Share:

Knowing Yourself

is it you?


 Siang hari menjelang petang yang terik. Ini masih bulan Ramadhan. Kamar sepi, orang-orang lebih memilih tidur siang dari pada melakukan aktivitas lain. Berbeda dengan tiga orang yang duduk asal ini, mereka lebih memilih mengambil posisi paling pw untuk ngobrol. Entah siapa yang mengarahkan topik ini dibahas siang-siang, aku baru sadar kalau ternyata mengenal diri sendiri itu sangat penting, sepenting tidur siang yang (tidak) sengaja kami lewatkan.

"Aku kadang suka ngerasa sedih lihat pengurus sekarang. Sering banget dihujat," ungkap salah satu temanku yang berkacamata. "Aku juga punya rasa pengen ngehujat tapi langsung keinget kalau dulu aku pernah ada di posisi yang sama kayak mereka sekarang."

Sedikit informasi. Pengurus di sini adalah organisasi santri yang bertujuan membantu menjalankan visi misi pondok dengan program kerja yang dirancang oleh pengurus dan disetujui oleh atasan. Biasanya pengurus ini diamanahi kepada santri kelas 11. Santri kelas 12 tetap patuh kepada peraturan pondok meski tidak sepenuhnya mengikuti proker yang disusun pengurus.

Pembahasan ini muncul karena sebagian teman-temanku berpendapat bahwa program kerja yang sudah baik seharusnya bisa diteruskan oleh mereka ketika mereka menjabat.

"Kalau dipikir-pikir juga buat apa ngehujat mereka? Mereka juga enggak ngerugiin kita," timpal temanku yang lain.

"Meskipun salah harusnya enggak perlu dihujat. Kita harusnya bisa langsung kasih kritik." aku ikut berkomentar.

"Orang lain emang enggak tahu capeknya jadi pengurus." Temanku yang berkacamata kembali mengeluarkan suara. "Mereka tuh cuman butuh support, butuh dihargai."

"Jadi pengurus mentalnya emang harus sekuat baja, mukanya harus pakai banyak topeng," komentarku.

"Orang lain mah enggak akan berhenti menghujat kita," sahut temanku yang lain. "Kita juga enggak seharusnya dengerin, sih."

Kami setuju.

"Kadang orang juga bilang, 'aku tahu kamu. Harusnya kamu begini, bukan begitu.' Lha? Siapa dia?" Yang berkacamata bersuara lagi.

Aku dan temanku mangut-mangut.

"Harusnya dia bisa peduli sama pilihan kita. Ya, enggak? Aku mikirnya begini, 'Yaudah, ini pilihan gue. Lo ngomong gitu itu pilihan lo. Terus, enggak diambil pusing lagi," papar temanku yang memeluk guling.

"Nah, iya. Pilihan," simpul yang berkacamata. "Aku juga mikir begitu, 'ini pilihan aku. Kalau kamu enggak suka ya itu pilihan kamu," sambungnya.

"Itu yang biasanya jadi masalah. Kadang orang tanya aku. Aku lebih suka yang mana diantara dua pilihan yang bikin dia bingung. Aku ikutan bingung juga. Antara milih yang sesuai sama selera aku atau ikutin kepribadian dia," tuturku. "Jadi biasanya habis milih, aku kembalikan ke dia. Atau kalau malas mikir, langsung kujawab, 'terserah.'"

Mereka berdua setuju.

"Dulu, aku enggak sepercaya diri sekarang. Sering banget nutup-nutupin. Tapi lama kelamaan capek sendiri. Ribet. Akhirnya enggak aku tutup lagi. Ternyata biasa aja," cerita gadis yang berkacamata.

"Berarti, itu pilihan kamu," sahut temanku yang masih memeluk gulingnya. Gadis yang berkacamata setuju. "Kamu benar."

Dia kembali melanjutkan. "Kadang kasian juga ngeliat orang yang ngerasa kayak aku waktu dulu. Pengen negur, tapi enggak apa-apa deh. Itu pilihan dia."

Pilihan itu menentukan jalan hidup. Milih bahagia meski sengsara atau milih sedih padahal dia makmur. Milih terus berpura-pura atau langsung menampakan sisi asli. Itu semua tergantung pilihan orang masing-masing.

"Aku pernah lihat salah satu konten di Tik Tok. Dia ngasih tahu kalau orang yang kena penyakit mental ciri-cirinya begini dan begitu. Terus langsung banyak yang komen, 'ini aku banget.',' 'aku begini tahu.'. Enggak suka ngeliat orang-orang pada self-diagnose. Padahal belum tentu juga kalau ciri-cirinya begitu dia kena penyakit mental," ulas temanku.

Aku dan yang lain mangut-mangut.

"Terus ada juga yang komentar, misal si A komen, 'aku kayak gini.' Eh si B balas, 'self-diagnose.'. Si B tahu apa kalau si A lagi self-diagnose atau enggak."

"Kamu juga tahu apa kalau si B cuman sotoy atau sekedar ngasih tahu?" Timpalku. Temanku yang lain tertawa.

Self-diagnose adalah keadaan ketika seseorang mendiagnosis dirinya sendiri. Sangat bagus kalau memang dilakukan dengan ilmu. Tapi malah jadi bahaya kalau dilakukan dengan ke-sok-tahuan yang tinggi. Karena biasanya seseorang melakukan itu karena merasa dirinya paling tertekan, merasa paling menderita. Sehingga dia mendiagnosis dirinya sendiri menderita kelainan mental. Padahal bisa saja, penyakit mental lebih 'sakit' dari yang dia ekspektasikan.

"Sebenarnya, aku tidak suka candaan yang mengarah ke arahku."

Bercanda. Kata kerja itu yang membuat dunia ini tidak monoton dan kaku. Candaan yang dikatakan berhasil atau bisa disebut candaan yang sehat tidak hanya harus lucu, tapi juga sesuai kenyataan dan tidak menyakiti orang lain.

Maafkan aku, sob!

Siang itu cukup panas namun terasa sejuk. Dan pembicaraan ini masih berlanjut.

"Tapi aku seneng." Gadis yang berkacamata memecah keheningan. "Seneng bisa kenal sama diri sendiri."

Kami berdua setuju.

"Meski susah, itu yang bikin kita nyaman sama diri sendiri," timpal gadis yang setia dengan gulingnya.

"Iya. Dan karena itu juga kita jadi bisa lebih mudah mengenal orang lain." Gadis yang berkacamata menambahkan.

Be yourself. Slogan yang kebanyakan orang pakai akhir-akhir ini. Kata-kata motivasi yang cukup meyakinkan seseorang bahwa dia bisa baik-baik saja tanpa perlu berpura-pura di dunia yang penuh tipu daya. Yang bisa memberi semangat bahwa dia harus tetap kuat meski mentalnya sedang tidak sehat di tengah orang-orang yang sekarat.

Menjadi Diri Sendiri.

Sayangnya, aku tidak bisa mengikuti mereka hingga akhir. Ada urusan sepenting mengenal diri sendiri di lab komputer.

Di lain siang, hari di mana kami mengobservasi kegiatan belajar mengajar di sebuah PAUD ternama. Saat seluruh observer dikumpulkan untuk berdiskusi tentang hasil pengamatan mereka di sekolah yang setiap kelasnya setidaknya ada satu anak 'istimewa' di tengah anak-anak tipikal.

Sang kepala sekolah sekaligus pengelola PAUD itu berkata, "Alasan kita menyatukan mereka? Karena kami yakin mereka (anak istimewa) bisa beradaptasi dan merasa diterima. Anak tipikal juga bisa belajar dan paham kalau ternyata ada anak yang berbeda dari dirinya. Kami juga awalnya merasa tidak yakin. Tapi setelah memantaskan diri, berusaha menjadi positif, kita bisa membuat mereka positif atau paling tidak memancarkan energi positif."

"Orang yang positif bisa melihat hal positif dalam diriya, bisa melihat hal positif dalam diri orang lain nantinya. Maka kenalilah hal postif kalian."

Karena ternyata mengenal diri sendiri bukan sekedar tahu apa yang kita mau atau apa yang kita butuh. Tapi juga apa yang orang lain dapat dari kita.

Menjadi diri sendiri itu penting. Menentukan pilihan itu penting. Menghargai orang lain itu penting. Yang lebih penting lagi, bisa mengenal Sang Pencipta agar bisa menjadi pribadi yang lebih berarti dan bahagia di tempat abadi.

.

.

.

Terimakasih kepada kedua temanku atas waktu istirahatnya!

Share:

Welcome to The Jungle!

kemah di hutan

Berkemah di Jabal Nur adalah pengalaman yang benar-benar baru dan seru. Ada banyak kegiatan yang diselenggarakan panitia untuk mengisi jam-jam menyenangkan itu dengan beragam permainan. Seperti menangkap ikan, memasak menu makan malam sendiri, bakar jagung, dan outbound. Aku juga tidak menyangka kalau tempat yang akan kami singgahi adalah hutan yang dirapihkan sedemikian rupa baru-baru ini. Lokasinya yang berada di 
 Sukasetia, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat membuat tempat itu menjadi sangat dingin. Tempatnya juga lumayan menarik. Dari ketinggian tersebut, kami bisa melihat pemandangan Kota Tasikmalaya pada malam hari yang indahnya bisa dibilang setara dengan bintang di langit. Sayangnya langit pada waktu itu sedang mendung sehingga kita hanya bisa menikmati kelap-kelip lampu jalan di bawah sana. 

Berkemah semalaman saja tidak membuat kami merasa puas, ditambah dengan jadwal pulang yang dipercepat. Meski cuman semalam, ditambah cuaca yang tidak bersahabat sejak sore, waktu ternyata tidak memberi batas pengalaman yang akan kita rasakan asalkan kita memanfaatkannya dengan baik.  Dan karena kami berkemah di tempat terbuka, maka apapun bisa dilihat dengan mudah -bagi yang bisa melihat-.

Kelompok kami yang hanya memiliki 1 pisau terpaksa memasak lebih lama. Menu yang kami buat adalah chicken and fish fillage. Banyak yang bilang itu adalah menu elit yang seharusnya tidak dimasak saat berkemah. Beruntung kami masih bisa makan malam itu meski sudah pukul 20.45 waktu Tasik.

Kami menggelar matras di depan tenda dan makan bersama di sana. Salah satu temanku makan dengan lahap meski terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Aku yang kelaparan tidak tahu kenapa dia bertingkah demikian. Dia sempat menyuruhku untuk memperbaiki posisi duduk. Tujuannya agar menghalangi pandangan dia dari hutan yang tidak jauh dari tenda kami. Aku menyarankan diri agar berganti posisi namun dia tidak mau. Kami pun melanjutkan makan malam kami sesegera mungkin karena akan ada acara bakar jagung setelah ini.

"Aku tidak bisa berhenti dzikir sejak makan," akunya ketika kami sudah bersiap-siap untuk tidur.

Kenapa dia tidak mulai dzikir sejak kita tiba di sini?

Dan di hari-hari berikutnya dia baru bercerita kalau dia menangkap sosok yang kalian pun sudah tahu pasti apa warnanya secara umum lewat di antara pepohonan yang kebetulan aku duduk memunggungi hutan itu ketika makan. Ternyata itu alasan dia makan seperti orang yang habis kena bully.

Beberapa teman-temanku juga bercerita kalau mereka mencium aroma melati dan merasakan sesuatu yang halus berhembus melewati mereka tapi bukan angin.

Ketika aku menulis ini, waktu menunjukan pukul 00.41 waktu Banjar.

Saking semangatnya untuk kemah kali ini, kami memutuskan untuk tidak tidur cepat meski badan sudah lelah. Hingga akhirnya salah seorang guru turun (karena letak komplek tenda kami ada di bawah) untuk mengingatkan kami kalau sekarang semuanya harus segera tidur. Tidak jauh setelah sang guru naik kembali ke tempat tendanya, suara babi hutang terdengar jelas. Ketika diperiksa lagi, transhback hitam besar milik tenda paling ujung sudah jatuh dan berserakan isinya.

Mungkin ada banyak kejadian lain selain itu. Tapi malam itu tidak sepanjang yang kita kira. Fajar sudah menyingsing dan kami sudah harus melakukan aktivitas yang lain. Apalagi kalau bukan masak sarapan sendiri? Bahkan setelah itu, kami harus segera membereskan tenda agar bisa langsung pulang setelah outbound.

Dua minggu berlalu dan sekarang aku sudah berada di Banjar, Jawa Barat. Dan sekarang jam menunjukan pukul 00.50 waktu Banjar.

Agenda kami setelah outing class tersebut adalah khidmah masyarakat. Kelompok kami diamanahi untuk melakukan pengabdian pada masyarakat untuk menjalin ukhuwah dan berdakwah di Banjar. Aku juga tidak mengira kalau aku akan ditempatkan di kota yang sama sekali tidak pernah kusinggahi kecuali hanya lewat.

Kami tinggal di sebuah rumah yang disewa untuk seminggu ke depan. Letaknya di Parunglesang, yang warganya rata-rata agak asing dengan cara berpakaian kami yang hitam dan pergi bergerombol. Rumahnya cukup luas untuk ukuran sebelas orang yang isinya perempuan semua. Ada 2 kamar tidur (salah satu kamarnya kami jadikan sebagai ruang ganti dan menyimpan barang-barang kami), ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi yang luas meski bak mandinya menggunakan ember besar, dan dapur yang luas. Tidak ada perabotan berarti di rumah ini kecuali satu ranjang, rice cooker,  dispenser dan kompor satu tungku. Ada juga satu set sofa di teras. Kami sudah lumayan puas. Untuk tinggal di Kota Banjar yang panas dan rumah tanpa kipas atau AC, kami memutuskan untuk tidur di bawah beralaskan karpet dan selimut.

Satu malam di sana kami lalui dengan senang hati. Malam berikutnya kami juga mengharapkan hal serupa.

Pukul sebelas kurang lima belas menit waktu Banjar. Kami sudah bersiap-siap untuk tidur. Karena kamar yang tersedia tidak cukup luas, maka sebagian orang harus tidur di ruang tengah. Aku kebetulan kedapatan tidur di kamar. Ketika aku sedang asyik menjalajah dunia internet, suara tikus yang berlarian di atap membuat kami agak kesal sesaat karena terlalu ribut. Namun tiba-tiba 2 orang temanku yang kebagian tidur di ruang tengah memasuki kamar dengan mengendap-endap. Mereka berdiam di depan pintu menawarkan diri untuk masuk kamar. Banjar yang panas dan semua orang masuk kamar membuat ruangan ini menjadi begitu pengap.

"Ada apa?" tanyaku tidak habis pikir. Kami yang di dalam kamar sudah ingin tidur dan bisa-bisanya mereka masuk dan membuat keributan yang riuh-rendah.

"Ada yang mengetuk pintu," jawab mereka setengah berbisik.

"Tikus itu," sahut teman yang sudah merebahkan tubuhnya di sebelahku.

"Bukan," bela mereka serius. "Ini dari pintu."

Rumah ini juga memiliki halaman belakang yang belum selesai dirapikan. Kami memanfaatkan lahan itu untuk menjemur pakaian. Kebetulan, pihak yayasan di Banjar sudah membuatkan jemuran pakaian dari bambu. Sisa-sisa puing bangunan juga masih berserakan di belakang rumah. Pintu belakang terletak di ruang tengah.

Mereka berdua masih duduk berdempetan di dekat pintu. Suara gaduh dari tikus itu terdengar lagi tetapi tidak segaduh tadi. Tidak lama kemudian, sisa orang yang masih di ruang tengah ikut masuk kamar.

"Ada yang ngetuk," ujar mereka juga. Kali ini ekspresi mereka lebih meyakinkan. Apalagi mereka langusung menerobos masuk kamar tanpa memperdulikan teman yang lain yang masih di mulut pintu.

Kamar jadi ramai dengan suara riuh-rendah dan mereka langsung mengambil tempat yang cukup untuk ukuran badan mereka. Sementara teman yang sudah tidur tidak ingin bangun dan pindah posisi. Terjadilah kesepakatan sepihak kalau kami harus tidur ber 11 di dalam kamar. 

Bentuk kamar itu memanjang sehingga terasa lebih sumpek. 4 orang kebagian tidur di atas ranjang. Sisanya yang lain harus seperti ikan pindang yang dijemur tidak karuan. Panas, lelah, dan mengantuk seketika hilang setelah terdengar ada yang suara ketukan dari pintu. Yang mendengarnya berteriak histeris. Benar-benar ada yang mengetuk pintu!

Aku dan salah satu temanku mencoba keluar kamar dengan keberanian yang dipaksakan. Kami berjalan mengendap-endap, khawatir seseorang yang mengetuk pintu itu berniat jahat pada kami. Aku dan dia mengecek kamar ganti, memastikan semua jendela dan pintu terkunci, juga mematikan lampu. Lalu kembali ke kamar tanpa suara kaki juga.

Aku yang masih belum mau tidur memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku menonton Youtube. Jam terus berputar hingga waktu menunjukan pukul satu kurang lima menit. Dan samar-samar kudengar pintunya diketuk lagi. Kali ini diikuti suara dari pagar.

Dengan tenang aku mencoba membereskan barang-barangku dan merebahkan tubuh. Sudah terlalu larut. Semua orang sudah lelap. Nyata atau tidak aku hanya berharap kalau dibalik pintu itu bukan manusia jahat agar tidak terus menerus berusaha mencari cara untuk membuka pintu.

Malam berikutnya, kami tetap tidur bersebelas di dalam kamar. Kali ini posisi tidurnya harus teratur sehingga bisa tidur dengan nyaman. Di ruang tengah ada ibu-ibu dari pihak yayasan yang bersedia menemani malam kami dan tidur di rumah kami malam itu.

Dan kemanapun kamu melangkah, lalu kamu menjadi orang asing dan baru di sana, ucapkanlah

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna aari kejahatan apa yang Dia ciptakan.

.
.
.
*gambar hanya ilustrasi.
Share:

Perjalanan Ini...

Bis

Sengaja, liburan kali ini aku tidak ingin di rumah nenek. Bukan karena tidak menarik, tapi aku hanya ingin menghindari rute Tasikmalaya-Kuningan. Selain karena terlalu dekat, rutenya penuh dengan jalan berkelok yang memabukkan. Maka, aku memutuskan untuk pulang ke tempat asalku dan dengan senang hati menerima perjalanan panjang yang kira-kira menghabiskan kurang lebih 6 jam untuk sampai. Dengan catatan tebal: kalau jalanan lancar jaya.

Hari yang dinanti-nanti seluruh santri tiba. Apa lagi kalau bukan perpulangan? Ditambah lagi semuanya diantar bersama-sama menggunakan bis. Ditambah lagi bis dengan jurusan Tasikmalaya-Bogor yang akan aku tumpangi berangkat paling pagi. Tidak terlalu pagi karena bis kami berangkat setelah bis Tasikmalaya-Tangerang yang berangkat pukul setengah enam. Tidak terlalu pagi karena banyak tetek-bengek yang harus diurus namun kalau diurus semua bisa-bisa malah enggak jadi pulang.

"Tahu enggak? Bis kita pulangnya lewat jalur Puncak," ujar salah satu temanku yang memberitahu wejangan ini jauh sebelum hari H.

"Kata siapa?" Aku bertanya balik.

"Katanya sih gitu. Jadi kita pulangnya enggak akan lewat tol," jawabnya tidak memberi jawaban.

"Ah, masa? Puncak 'kan macet banget." Aku menimpali seadanya karena tidak yakin dengan kebenaran berita tersebut.

"Enggak tahu, tuh. Aneh memang." Dia menambahkan.

Dan perjalanan itu pun dimulai.

Setelah bekal masing-masing dibagikan dan doa sudah dibacakan, bis kami mulai meninggalkan Tasikmalaya.

Sebelum benar-benar pergi, salah satu penumpang yang juga sama-sama santri berseru datar.

"Pak, dompet saya ketinggalan," ucapnya di waktu yang tepat karena kebetulan bis sedang mangkir sebentar entah karena apa.

"Kok bisa?" Salah satu guru pembimbing di bis ini yang dia ajak bicara menghampiri.

"Tadi sih saya taruh di atas kasur, Pak," jawabnya.

"Ya sudah. Mau bagaimana lagi? Bisa tidak ditinggal saja? Liburannya 'kan cuman 2 minggu." Pak Guru memberi pertimbangan. Bisa dibilang tidak mungkin kalau kita harus balik lagi hanya karena sebuah dompet.

"Tapi ada KTP-nya, Pak."

"Ya ini sudah agak jauh."

"Saya ambil pakai grab, deh." Dia memberi pilihan lain.

"Lama tidak?"

"..."

Bis pun berjalan lagi. Meninggalkan Tasikmalaya dan dompet yang malang itu.

Aku dan temanku mulai bercengkrama, makan-makan, tenggelam dalam kegiatan masing-masing, tidur.
Bis memasuki Garut. Dan kami berhenti sebentar.

Perjalanan dilanjut lagi. Tak lama kemudian kami berhenti di rumah makan lagi. Kali ini sedikit lebih lama dan bertemu dengan bis-bis yang lain dengan tujuan yang berbeda.

Setelah itu jalan lagi.

Aku menikmati perjalanan ini.

Benar-benar menikmatinya.

Sangat menikmatinya.

Saking nikmatnya hingga perasaan curiga muncul. Kenapa bis ini belum masuk tol padahal aku menunggunya agar bisa tidur lebih nyaman?

Jangan-jangan kabar temanku itu bukan hoax.

Aku mencoba tidak ambil pusing sampai bis ini berkelana di Cianjur. Ada beberapa santri yang ternyata harus turun di daerah ini.Aku baru tahu kalau ternyata bis Tasikmalaya-Bogor ini tidak ditumpangi orang Bogor dan Depok saja, tapi ada orang Cianjur juga.

Setelah sempat kesasar dan orang-orang Cianjur itu bertemu orangtua mereka dengan selamat, giliran kami yang menunggu kesempatan itu datang. Jalanan masih belum mulus bahkan banyak yang rusak dan semakin berkelok juga menanjak.

Kira-kira pukul 12.15 dan kami masuk kawasan Puncak.

Ungkapan kalau Bogor kota hujan benar-benar aku percaya sekarang karena sesaat setelah masuk daerah Puncak, hujan turun membasahi jalan. Siang yang panas menjadi terasa dingin.

Puncak yang tenang dan landai dengan irama rintik hujan. Aku berharap agar kecepatan bis ini konstan sampai tiba di tujuan. Hingga Perutku mulai lapar.

Hingga tidur bukan pilihan bagus.

Hingga bokong sudah tidak bersahabat lagi.

Hingga cuaca dingin dan AC bis sudah membuat kami menjadi beku.

Hingga orang yang ingin menunaikan hajatnya agak sulit menunaikannya.

Kami benar-benar terjebak macet.

Masing-masing dari kami mulai merasa tidak nyaman. Bis yang terseret-seret ketika jalan ini tidak bisa kami harapkan.

Pukul 14.00 waktu Bogor dan jalanan di jalur puncak ini tidak juga menunjukan tanda-tanda akan lancar.

Kami hanya bisa mengeluh menahan lapar dan rasa 'tidak tahan' yang lain.

Pak guru yang baik hati berusaha menghibur seisi bis yang sedang patah hati ini. Galau karena tak kunjung sampai dan bingung karena orangtua banyak yang sudah menunggu di pemberhentian akhir.

Sebagai ganti dari keresahan ini, beliau mulai membagikan beberapa jokes.

"Apa bedanya jalan tol dan kamu?"

Seisi bis bersorak.

Silahkan bisa dijawab sendiri.

Kemudian bis kembali hening karena pak guru lebih memilih untuk menemani pak sopir.

Hari beranjak sore. Hujan tak kunjung reda dan jalan tak kunjung lancar.

Kami pun akhirnya berhenti sebentar di sebuah pusat oleh-oleh untuk sholat. Jam menunjukan pukul empat sore waktu Bogor. Hujan deras.

Setelah sholat dan melemaskan bokong, kami mulai melanjutkan perjalanan lagi. Seisi bis juga sudah sedikit mencair. Karena mau bagaimanapun perjalanan ini masih sangat panjang.

Akhirnya penantian panjang itu berujung manis karena jalan yang lancar dan landai siap menanti kami.

"Ya, anggap saja pertemuan kita di bis ini merupakan ajang silahturahmi. Dan segala sesuatu yang telah dilewati itu merupakan takdir yang sudah ditulis sebelum diciptakannya bumi dan langit. Dan yang sudah bosan dari tadi harap bersabar sedikit lagi karena kita akan segera tiba sebentar lagi," ujar beliau. Kami hanya bisa mangut-mangut.

Dan karena pak guru sudah membicarakan takdir, kami akhirnya bisa memaklumi semua ini dengan tenang. Karena memang, segala sesuatu di dunia ini sudah digariskan dan tidak akan melenceng seinchi pun. Bahkan segala yang kering, yang basah, yang jatuh atau yang akan tetap diam semuanya sudah dituliskan di lauh mahfudz.

Ngomongin takdir, aku jadi ingat kejadian baru-baru ini. Waktu itu akan ada acara pentas seni besar-besaran yang akan diadakan oleh angkatan kami. Kami meminta perwakilan dari setiap angkatan lain untuk menampilkan setidaknya satu penampilan. Mereka semua sangat antusias dan semangat menyiapkannya.

Salah satu angkatan akan menampilkan puisi berantai yang sudah mereka siapakan lebih dari 2 minggu. Tapi, karena ada satu dan lain hal, penampilan mereka yang sudah 90% siap tampil itu dibatalkan. Ya. Dibatalkan.

Sakit hati sudah tentu. Di awal mereka marah habis-habisan. Tapi untungnya, mereka bisa berlepas diri dari itu semua dengan mudah karena mereka percaya bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk tampil. Pahit. Tapi memang itu kenyataannya. Terkadang hidup akan menghidangkan asam-pahit duka yang harus bisa dirasakan dengan manisnya suka.

Kembali ke dalam bis yang sudah memasuki Tol Cibinong. Akhirnya penantian panjang dan melelahkan ini terjawab juga.

Satu per satu santri yang merupakan penumpang di dalam bis itu diturunkan satu per satu. Dan dengan berlalunya semua itu, secara tidak langsung aku sudah berlibur di Puncak bersama anak-anak satu sekolah.

Share:

Self Reward, First!

Self Improve, First!


 Salah satu teman baikku mengadu. Dia mengeluhkan betapa sulitnya ia menghafal al-qur'an. Padahal tenggat waktu untuk menyelesaikannya semakin dekat.

"Aku sama sekali enggak suka ngafalin. Kenapa kita harus ngafalin di dunia ini? Kalau bukan karena aku yang butuh, enggak akan mau aku ngafalin."

"Ngafalin itu susah. Pengen nangis terus rasanya."

"Aku benci menghafal."

Dan segala keluhan lain yang dia lontarkan. Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Dengan 'sok bijak' aku berguman, "kalau sudah mengiyakan dari awal, kenapa mengajukan diri untuk berhenti?"

Tidak, aku tidak benar-benar mengatakan itu. Aku pikir itu tidak akan membantunya. Yang saat itu kulakukan hanyalah mengusap punggungnya dan mengepalkan jari tangan yang lain dan berbisik padanya, "semangat!" dengan wajah ceria.

Satu bulan berlalu. Kabarnya sudah menyelesaikan hafalan tersebar dengan mudah, 'semudah' dia menghafalnya. Seisi kelas ramai mengucapkan selamat dan mendoakannya.

Ketika waktu istirahat tiba, aku menghampirinya.

"Selamat udah menyelesaikan hafalan buat orang yang nggak suka ngafal."

Kala itu, dia yang tertawa.

Kalimat setelah 'selamat' sebenarnya tidak bermaksud serius. Tersirat bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa untuk dilakukan. Menghafal -terutama al-qur'an- bukan soal kemampuan, tapi kemauan.

Di lain kesempatan, saat kami sedang bercakap-cakap dia menyinggung peristiwa itu.

"Kamu benar. Saat kamu mengucapkan selamat waktu itu, aku baru ingat kalau aku harusnya memberi selamat pada diriku terlebih dahulu."

Seperti halnya dia, aku yang mendengar pengakuannya juga baru menyadarinya. Aku tidak tahu kalau mengapresiasi diri sendiri itu pengaruhnya sangat besar. Selain untuk menghargai kerja keras yang kita lakukan, mengapresiasi diri juga memberikan dampak positif dan menambah energi meski saat itu tidak ada yang mau menghargai kita.

Kasus lain yang serupa tapi tak sama, adalah ketika salah satu temanku yang lain menunjukan kalau dirinya suka gaya pakaian yang abstrak. Terlihat dari celana yang tidak biasa digunakan oleh sebagian besar dari kami, caranya me-mix and match pakaian yang dia pakai, aksesoris serta benda-benda unik lain yang dimilikinya.

Kami yang pertama kali melihatnya tentu saja aneh dan tidak biasa. Namun karena kami melihatnya enjoy dan biasa saja dengan sikap aneh kami, tidak perlu debat kusir berpuluh-puluh season kami ikut-ikutan mengenal gayanya yang abstrak. Berbeda dengan orang yang sudah dinyinyir namun dia justru down. Orang-orang justru akan tambah menjatuhkannya.

Tidak mudah memang. Tapi itu kenyataannya. Semakin dipikirikan, reaksi orang akan semakin memburuk terhadap diri kita. Maka dari itu, apresiasi diri sebelum diapresiasi itu suatu keharusan.

Self Improve, First!

Selain mengapresiasi, menghibur diri juga sama pentingnya.

Waktu itu terjadi kesalahpahaman yang membuat aku dan teman-temanku geram. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing masalah itu. Tapi karena faktor lingkungan yang berada di antara orang-orang yang bilang tidak suka, aku jadi ikutan tidak suka. Hingga salah satu temanku menenangkan kami semua agar mendinginkan pikiran dan melapangkan hati. Toh membicarakan orang juga tidak baik. Kami pun mengiyakan.

Hingga pada suatu hari, aku mengusulkan agar kita meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan pihak terkait. Namun kebanyakan dari teman-temanku menolak. Mereka lebih memlikih tutup telinga, tidak mau dipikirkan dan menjaga jarak dengan masalah itu. Masalahnya memang tidak 100% clear, tapi hal tersebut menutup terjadinya masalah baru. Sebenarnya solusinya sederhana. Terlalu diambil pusinglah yang membuatnya terlihat rumit.

Menghibur diri sendiri akan membuatmu lebih relaks dan lebih menghargai setiap takdir yang diberikan.

Berkaitan dengan ini, kecerdasan intrapersonal dan interpesonal sangat erat kaitannya. Bagaimana kita melihat ke dalam diri dan memandang orang lain butuh skill khusus. Setiap orang harus memiliki dua kecerdasan ini dengan porsi yang seimbang. Karena kalau berat sebelah, bisa semakin kacau.

Sekarang aku paham betul; kenapa orang-orang banyak menuarakan tentang self healing, kenapa buku-buku tentang self improvement banyak peminatnya, kenapa orang-orang terlalu sering merasa depresi hingga merasa hilang harapan dan tak jarang yang memilih mengakhiri hidupnya. Itu semua hanya satu jawabannya: Tidak perlu memperdulikan orang yang tidak memperdulikanmu.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka konten tentang self improvement, aku sebenarnya hanya ingin berbagi cerita-cerita tadi. Orang lain memang hanya ingin pengakuan dari kita, kalau kita sebenarnya menyukai diri sendiri dan menyayangi mereka. Mulai sekarang mungkin kamu bisa mulai berlatih mencintai diri sendiri yang tidak banyak orang lain tahu tentang itu, belajar memaafkan kesalahan dan berterimakasih atas setiap hal yang menyenangkan. Ubah pola pikirmu ke arah yang lebih positif tanpa perlu merendahkan diri. Toh, derajat manusia semuanya sama di mata Allah.

Selamat merayakan dirimu dengan baru di tahun yang baru!!

Share:

The First Sun of August




Tidak terasa tahun 2021 berlalu begitu cepat. Di akhir pekan yang juga merupakan awal bulan ini matahari bersinar sangat terang. Senyum-senyum merekah. Banyak orang yang berharap, seperti awal bulan sebelumnya, semoga bulan ini menjadi lebih baik lagi. Corona segera menghilang tanpa bekas, dan tidak ada lagi berita duka yang datang silih berganti.

Tidak seperti bulan sebelumnya juga, aku sangat bersemangat untuk memposting artikel baru meski aku tidak tahu apa yang harus aku tulis. Minggu depan aku harus kembali bergelud dengan diri sendiri, berjuang menuntut ilmu di salah satu kota di timur Jawa Barat. Mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tidak bisa memposting satu artikel per bulannya.

Berbicara soal bulan Agustus, aku teringat salah satu orang yang lebih dicintai Allah ketimbang dia sendiri mencintainya. Allah lebih menyayanginya dibanding seluruh orang yang mengenalnya. Dan karena itu, ada banyak pertanyaan yang muncul satu per satu.

Apakah di dunia ini ada suatu benda mati atau hidup yang benar-benar milik kita? Adakah di dunia ini yang benar-benar mengatakan kalau barang ini, temuan ini, orang ini, adalah miliknya? Mungkin ada. Dia benar-benar memiliki barang itu seutuhnya. Sepenuhnya. Dia beli barang itu dengan uang hasil jerih payahnya. Tapi kemudian barang itu hilang. Dan dia sudah tidak bisa menemukannya lagi.

Ada orang pulang dengan wajah sumringah dan hati gembira karena baru saja memenangkan undian lotre. Tapi di tengah jalan orang itu bertemu dengan seorang nenek yang sakit-sakitan. Biaya rumah sakitnya setara dengan jumlah uang lotre yang dia punya. Apakah uang itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang mengatakan kalau ini temuannya. Nama hasil ciptaannya itu menggunakan nama belakangnya. Tapi setelah waktu berlalu, dia meninggal. Saat dikuburkan, temuannya diambil alih oleh rekannya. Apa barang ciptaannya itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang yang berseru kalau wanita disebelahnya adalah miliknya. Mereka berdua sudah saling mengikat janji suci sehidup semati. Siapapun yang ingin mengambilnya harus melangkahi kuburannya dulu. Tapi wanita miliknya harus terbaring kaku dan pergi mendahuluinya. Apa wanita itu tetap menjadi miliknya?

Lalu, kalau memang sesuatu itu bukan milik kita, kenapa kita harus sedih saat sesuatu itu hilang dari genggaman kita? Bukankah di bawah kita lebih membutuhkannya dari kita? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa sudah memberitahu kalau segala sesuatu akan kembali pada-Nya? Kenapa harus menyayangkannya?

Jawabannya, karena manusia terkadang melewatkan kesempatan yang ada. Kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, kesempatan untuk mengetahui lebih luas, kesempatan untuk menyanyangi orang lebih tulus, dan yang selalu terlewatkan adalah kesempatan untuk beribadah lebih giat.

Dan semoga, di bulan Agustus ini semua kesempatan baik itu dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Apalagi, hari jadi negara ini sudah hampir di depan mata. Tahun ini, negara ini bisa merdeka dari corona!!~
Share:

How I Get A Best Night Rest




Kita sebagai manusia sangat membutuhkan istirahat. Belum lagi setelah seharian bergelut dengan seabrek pekerjaan yang enggak ada habisnya. Istirahat bisa menjadi alasan tepat untuk melepas lelah. Terutama pada malam hari. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan malam untuk manusia.

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qashash: 73)

Sepertinya ayat di atas sudah cukup jelas. Untuk tafsir lebih lengkapnya bisa dicari di sini. Sesuai judul yang tertera, kita akan mencari tahu cara mendapatkan istirahat malam yang baik.

Manusia yang diciptakan berbeda-beda, pasti punya cara tersendiri versi mereka agar bisa istirahat dengan nyaman. Ada yang harus menyalakan lampu saat tidur, ada yang bisa tidur kapan saja asal nyenyak dan lain sebagainya tergantung kenyamanan masing-masing. Meski begitu, kita harus tetap memperhatikan do and don't-nya. Karena selain nyaman, kita juga harus bisa merasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan. Apalagi ini adalah istirahat, tidur malam, yang kurang lebih setengah dari hidup kita dihabiskan untuk ini.

Aku sebenarnya juga termasuk salah satu orang yang bisa tidur bagaimanapun keadaannya asalkan ada barang yang bisa dipeluk. Selain itu, sebelum masuk kamar aku usahakan untuk sikat gigi dan mencuci muka, tangan dan kaki. Juga tidak lupa untuk berwudhu. Karena kita tidak tahu apakah ini tidur sementara atau selamanya.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Setelah urusan di kamar mandi selesai, aku beranjak ke kamar dan membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.

“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]

Beres semua, tempat tidur pun mempersilahkan kita untuk merebahkan diri di atasnya. Ritualku sebelum tidur adalah work out ringan. Hanya menggerak-gerakan kaki saja. Berikutnya baca doa. Disyariatkan untuk meruqyah diri sebelum tidur seperti membaca surat al-ikhlash, al-falaq, an-nas, dan ayat kursi. Kemudian membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” [HR. Bukhari no. 6312dan Muslim no. 2711].

Setelah itu cobalah untuk menutup mata perlahan. Menghayal boleh, overthingking jangan. Tidak bisa tidur? Tidak masalah selama tidak menggunakan barang elektronik lagi. Ambillah buku yang bisa membuat mata merasa lelah. Kalau tidak bisa juga, ambillah al-quran karena ayat-ayatnya menenangkan.

Ada sedikit tambahan juga dari orangtuaku. Entah kenapa mereka selalu menggunakan heksos ketimbang kipas angin. Kalaupun menggunakan kipas angin, pasti selalu dihadapkan ke dinding. Aku tidak pernah tahu alasan pastinya sebelum akhirnya aku tahu kalau ternyata hal itu dapat menyerap cairan dalam tubuh. Sehingga tubuh akan menurun lalu kekurangan cairan bahkan dehidrasi. Kemungkinan lainnya bisa dilihat langsung di sini.

Malam tidak harus melulu dilampiaskan dengan berpikir tentang hal-hal rumit yang justru membuat kita semakin stress. Malam juga tidak harus melulu dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Malam hari adalah waktu terbaikmu.

Selamat beristirahat!

.
.
.
Referensi:

Share:

A Lone Night

 

Lilin
shout out to the pexels contributor!

Postingan ini hanya berisi suka duka yang aku alami ketika harus sendirian di rumah.

Sendirian di rumah bukanlah hal baru bagiku. Pertama kalinya aku ditinggal sendiri di rumah seingatku waktu kelas 1 SD di bulan Ramadan. Saat itu kedua orangtuaku ingin pergi ke Tip Top untuk berbelanja keperluan rumah tangga yang sudah menjadi rutinitas bulanan keluarga kami. Setelah belanja, biasanya kami juga menghabiskan waktu untuk bersenang-senang menikmati wahana sederhana yang berada di pasar swalayan tersebut. Si bocil ini tidak diperbolehkan untuk ikut. Alasannya sederhana, ibuku tidak mau kalau aku sampai batal puasa karena kelelahan berbelanja di swalayan. Sebagai bocah kecil yang sok kuat dan sok tahu tentu aku enggak terima. Aku merengek dan memaksa ibuku agar boleh ikut. Hasilnya tetap nihil. Aku cuman bisa pasrah karena akhirnya ditinggal juga.

Dan kejadian yang masih segar diingatan adalah ketika masih kelas 6 SD. Ibuku harus dirawat inap di rumah sakit. Karena itu, Ayahku jadi jarang pulang. Karena orangtuaku anti izin-izin club, aku tidak diperbolehkan untuk ikut menginap di rumah sakit agar masih bisa masuk sekolah.

Karena terlalu sering ditinggal sendiri, aku jadi menyukainya. Sendirian berarti tidak ada yang mengganggu. Sendirian juga berarti bebas melakukan apapun yang aku mau.

Tapi 'sendirian' kali ini berbeda. Meski tidak merasa takut, aku tetap merasa tidak nyaman.

Malam itu, sekitar pukul 19.30 WIB. Adikku melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid dan tidak langsung pulang ke rumah. Ayahku sepertinya terjebak kemacetan di jalan. Sementara ibuku juga sedang tidak berada di rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan deras. Disusul suara gemuruh petir dan kilatnya yang bersahut-sahutan.

Saat itu aku sedang asyik membaca. Tiba-tiba lampu mati. Listrik padam di tengah-tengah derasnya hujan dan aku yang dibiarkan sendiri. Aku langsung bangkit dan mencari senter. Selain itu aku juga harus mengingat-ingat di mana letak lilin yang ditaruh begitu saja.

Kepanikanku tidak berhenti sampai di situ. Setelah menemukan lilin yang tinggal setengah dari ukuran aslinya, aku tidak bisa lanjut membaca. Aku takut kalau senternya mati mendadak karena aku tidak tahu kapan terakhir kali senter ini diisi daya. Namun tidak memungkinkan juga untuk main handphone. Masalahnya, sekarang hujan deras dan banyak petir. Selain itu baterainya juga sudah mulai menipis.

Tapi karena kegabutanku yang enggak tahu harus ngapain lebih besar dari pada ketakutanku yang takut handphone-nya tiba-tiba mati, aku nekat menggunakannya lagi. Aku iseng membuat status di aplikasi chat untuk meng-update keadaan aku saat ini. Setidaknya aku tidak sendiri, toh? Dan ternyata reaksi mereka semua bermacam-macam. Ada yang prihatin, menyuruhku untuk tidur, dan ada juga malah menakut-nakuti.

Di saat-saat seperti ini biasanya aku paling tidak bisa tidur. Selain karena belum ngantuk, hawa di rumah sangat panas meskipun di luar sedang hujan. Dan kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak takut kalau ada yang menyolekku dari belakang atau menahan kakiku dari bawah. Sebagai orang yang paling tidak bisa menikmati film horor, situasi seperti ini membuatku tidak pernah berpikir tentang hal-hal mistis. Yang kutakutkan saat itu cuman satu, apa yang harus aku lakukan kalau ponselnya benar-benar mati.

Beruntung, salah satu temanku mengajakku ke rumahnya setidaknya sampai salah satu dari anggota keluargaku pulang. Mati lampu kali ini benar-benar lama. Apalagi hujan tidak kunjung reda. Aku tidak tahu harus apa kalau temanku ini tidak mengajakku karena aku benar-benar bosan di tengah kegelapan malam.

Dan tidak ada yang membuatku menulis kelamnya mati lampu itu selain kegabutanku saat ini. 
Share:

Rasa yang Pernah Ada

Resep

Manusia diciptakan berbeda-beda ras dan suku bangsa agar mereka saling mengenal, bukan menindas. Manusia juga memiliki sifat dan watak yang berbeda agar saling memahami bukan mengintimidasi. Banyaknya perbedaan tersebut membuat dunia ini semakin berwarna. Alih-alih perdamaian, permusuhan lebih sering terjadi karena keberagaman ini. Dari orang-orang kulit putih yang sok suci, orang-orang tamak yang paling susah jinak, sampai perdebatan soal makan bubur yang lebih enak diaduk atau enggak.

Ngomongin cara makan bubur yang diperdebatkan, aku dan saudaraku bisa dibilang punya selera yang sama, sama-sama diaduk. Selain selera makan bubur, kami juga suka pedas, pecinta micin dan makanan gurih lainnya. Bedanya dia biasanya 'lebih gigih' untuk mendapatkannya ketimbang aku yang milih untuk 'apa adanya'. 

Tidak perlu jauh-jauh, kalau membuat mie instan saja, semua bumbu penyedap yang ada di rumah dimasukin satu-satu ke mangkuk mienya, b*n cabe dan irisan cabai rawit juga enggak ketinggalan. Telur rebusnya juga harus pas dan kuahnya enggak boleh kurang. Sementara aku, ya, cuman pakai bumbu yang sudah disediain dari sananya dan sisa irisan cabai rawit yang kadang enggak diabisin sama dia. Belum lagi kalau aku yang harus masakin indomienya. Nyerah duluan sebelum dia sempat menjelaskan harus ada apa aja di dalam mangkuk mienya.

Apalagi, akhir-akhir ini aku sering mencoba masak sendiri untuk menekan anggaran karena suka beli makanan jadi. Karena cuman coba-coba, rasanya pun rada-rada. Dan karena rasanya yang enggak bisa disebut mencapai standar rata-rata (menurut adikku itu) enggak jarang dia marah-marah. Makanannya enggak cocok di lidah dia, kurang asin lah, ngga ada rasanya lah, dan segala macam uneg-uneg ala juri-juri masterchef yang judesnya enggak ada lawan. Padahal menurutku itu sudah cukup asin, asin banget malah. Makanya, enggak jarang kita ribut cuman gara-gara masakannya enggak cocok di lidah masing-masing.

Soal selera yang berbeda tiap orang, aku pribadi belum pernah makan menu yang sama kalau lagi makan di luar bareng orang lain. Kalaupun sama, salah satu dari kita pasti ada yang ngalah atau bingung mau makan apa. Contoh paling sering adalah ketika istirahat. Aku sering banget jajan bareng temen aku yang satu ini. Aku biasanya sering ke kantin buat beli gorengan, bakso, cilok, atau makanan berbumbu lainnya. Sementara temanku belok ke koperasi buat beli wafer, biskuit, atau makanan manis lainnya. Kantin yang sering penuh menjadi alasan lain kenapa dia selalu jajan di koperasi. Pernah juga kami pergi ke kantin bareng tapi ngidam jajanan yang beda. Dia beli jajanan seribuan kalau aku beli jajanan berat seperti seblak. Alhasil, dia harus ikut nungguin biar kami bisa makan bareng.

Kembali ke cerita awal, akhirnya aku tahu perasaan ibuku ketika masakannya yang telah dimasak sepenuh hati ternyata tidak dinikmati. Bukan karena rasanya yang enggak enak, tapi karena menunya yang enggak memikat. Sakit.

Share: