Perjalanan Ini...
Sengaja, liburan kali ini aku tidak ingin di rumah nenek. Bukan karena tidak menarik, tapi aku hanya ingin menghindari rute Tasikmalaya-Kuningan. Selain karena terlalu dekat, rutenya penuh dengan jalan berkelok yang memabukkan. Maka, aku memutuskan untuk pulang ke tempat asalku dan dengan senang hati menerima perjalanan panjang yang kira-kira menghabiskan kurang lebih 6 jam untuk sampai. Dengan catatan tebal: kalau jalanan lancar jaya.
Hari yang dinanti-nanti seluruh santri tiba. Apa lagi kalau bukan perpulangan? Ditambah lagi semuanya diantar bersama-sama menggunakan bis. Ditambah lagi bis dengan jurusan Tasikmalaya-Bogor yang akan aku tumpangi berangkat paling pagi. Tidak terlalu pagi karena bis kami berangkat setelah bis Tasikmalaya-Tangerang yang berangkat pukul setengah enam. Tidak terlalu pagi karena banyak tetek-bengek yang harus diurus namun kalau diurus semua bisa-bisa malah enggak jadi pulang.
"Tahu enggak? Bis kita pulangnya lewat jalur Puncak," ujar salah satu temanku yang memberitahu wejangan ini jauh sebelum hari H.
"Kata siapa?" Aku bertanya balik.
"Katanya sih gitu. Jadi kita pulangnya enggak akan lewat tol," jawabnya tidak memberi jawaban.
"Ah, masa? Puncak 'kan macet banget." Aku menimpali seadanya karena tidak yakin dengan kebenaran berita tersebut.
"Enggak tahu, tuh. Aneh memang." Dia menambahkan.
Dan perjalanan itu pun dimulai.
Setelah bekal masing-masing dibagikan dan doa sudah dibacakan, bis kami mulai meninggalkan Tasikmalaya.
Sebelum benar-benar pergi, salah satu penumpang yang juga sama-sama santri berseru datar.
"Pak, dompet saya ketinggalan," ucapnya di waktu yang tepat karena kebetulan bis sedang mangkir sebentar entah karena apa.
"Kok bisa?" Salah satu guru pembimbing di bis ini yang dia ajak bicara menghampiri.
"Tadi sih saya taruh di atas kasur, Pak," jawabnya.
"Ya sudah. Mau bagaimana lagi? Bisa tidak ditinggal saja? Liburannya 'kan cuman 2 minggu." Pak Guru memberi pertimbangan. Bisa dibilang tidak mungkin kalau kita harus balik lagi hanya karena sebuah dompet.
"Tapi ada KTP-nya, Pak."
"Ya ini sudah agak jauh."
"Saya ambil pakai grab, deh." Dia memberi pilihan lain.
"Lama tidak?"
"..."
Bis pun berjalan lagi. Meninggalkan Tasikmalaya dan dompet yang malang itu.
Aku dan temanku mulai bercengkrama, makan-makan, tenggelam dalam kegiatan masing-masing, tidur.
Bis memasuki Garut. Dan kami berhenti sebentar.
Perjalanan dilanjut lagi. Tak lama kemudian kami berhenti di rumah makan lagi. Kali ini sedikit lebih lama dan bertemu dengan bis-bis yang lain dengan tujuan yang berbeda.
Setelah itu jalan lagi.
Aku menikmati perjalanan ini.
Benar-benar menikmatinya.
Sangat menikmatinya.
Saking nikmatnya hingga perasaan curiga muncul. Kenapa bis ini belum masuk tol padahal aku menunggunya agar bisa tidur lebih nyaman?
Jangan-jangan kabar temanku itu bukan hoax.
Aku mencoba tidak ambil pusing sampai bis ini berkelana di Cianjur. Ada beberapa santri yang ternyata harus turun di daerah ini.Aku baru tahu kalau ternyata bis Tasikmalaya-Bogor ini tidak ditumpangi orang Bogor dan Depok saja, tapi ada orang Cianjur juga.
Setelah sempat kesasar dan orang-orang Cianjur itu bertemu orangtua mereka dengan selamat, giliran kami yang menunggu kesempatan itu datang. Jalanan masih belum mulus bahkan banyak yang rusak dan semakin berkelok juga menanjak.
Kira-kira pukul 12.15 dan kami masuk kawasan Puncak.
Ungkapan kalau Bogor kota hujan benar-benar aku percaya sekarang karena sesaat setelah masuk daerah Puncak, hujan turun membasahi jalan. Siang yang panas menjadi terasa dingin.
Puncak yang tenang dan landai dengan irama rintik hujan. Aku berharap agar kecepatan bis ini konstan sampai tiba di tujuan. Hingga Perutku mulai lapar.
Hingga tidur bukan pilihan bagus.
Hingga bokong sudah tidak bersahabat lagi.
Hingga cuaca dingin dan AC bis sudah membuat kami menjadi beku.
Hingga orang yang ingin menunaikan hajatnya agak sulit menunaikannya.
Kami benar-benar terjebak macet.
Masing-masing dari kami mulai merasa tidak nyaman. Bis yang terseret-seret ketika jalan ini tidak bisa kami harapkan.
Pukul 14.00 waktu Bogor dan jalanan di jalur puncak ini tidak juga menunjukan tanda-tanda akan lancar.
Kami hanya bisa mengeluh menahan lapar dan rasa 'tidak tahan' yang lain.
Pak guru yang baik hati berusaha menghibur seisi bis yang sedang patah hati ini. Galau karena tak kunjung sampai dan bingung karena orangtua banyak yang sudah menunggu di pemberhentian akhir.
Sebagai ganti dari keresahan ini, beliau mulai membagikan beberapa jokes.
"Apa bedanya jalan tol dan kamu?"
Seisi bis bersorak.
Silahkan bisa dijawab sendiri.
Kemudian bis kembali hening karena pak guru lebih memilih untuk menemani pak sopir.
Hari beranjak sore. Hujan tak kunjung reda dan jalan tak kunjung lancar.
Kami pun akhirnya berhenti sebentar di sebuah pusat oleh-oleh untuk sholat. Jam menunjukan pukul empat sore waktu Bogor. Hujan deras.
Setelah sholat dan melemaskan bokong, kami mulai melanjutkan perjalanan lagi. Seisi bis juga sudah sedikit mencair. Karena mau bagaimanapun perjalanan ini masih sangat panjang.
Akhirnya penantian panjang itu berujung manis karena jalan yang lancar dan landai siap menanti kami.
"Ya, anggap saja pertemuan kita di bis ini merupakan ajang silahturahmi. Dan segala sesuatu yang telah dilewati itu merupakan takdir yang sudah ditulis sebelum diciptakannya bumi dan langit. Dan yang sudah bosan dari tadi harap bersabar sedikit lagi karena kita akan segera tiba sebentar lagi," ujar beliau. Kami hanya bisa mangut-mangut.
Dan karena pak guru sudah membicarakan takdir, kami akhirnya bisa memaklumi semua ini dengan tenang. Karena memang, segala sesuatu di dunia ini sudah digariskan dan tidak akan melenceng seinchi pun. Bahkan segala yang kering, yang basah, yang jatuh atau yang akan tetap diam semuanya sudah dituliskan di lauh mahfudz.
Ngomongin takdir, aku jadi ingat kejadian baru-baru ini. Waktu itu akan ada acara pentas seni besar-besaran yang akan diadakan oleh angkatan kami. Kami meminta perwakilan dari setiap angkatan lain untuk menampilkan setidaknya satu penampilan. Mereka semua sangat antusias dan semangat menyiapkannya.
Salah satu angkatan akan menampilkan puisi berantai yang sudah mereka siapakan lebih dari 2 minggu. Tapi, karena ada satu dan lain hal, penampilan mereka yang sudah 90% siap tampil itu dibatalkan. Ya. Dibatalkan.
Sakit hati sudah tentu. Di awal mereka marah habis-habisan. Tapi untungnya, mereka bisa berlepas diri dari itu semua dengan mudah karena mereka percaya bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk tampil. Pahit. Tapi memang itu kenyataannya. Terkadang hidup akan menghidangkan asam-pahit duka yang harus bisa dirasakan dengan manisnya suka.
Kembali ke dalam bis yang sudah memasuki Tol Cibinong. Akhirnya penantian panjang dan melelahkan ini terjawab juga.
Satu per satu santri yang merupakan penumpang di dalam bis itu diturunkan satu per satu. Dan dengan berlalunya semua itu, secara tidak langsung aku sudah berlibur di Puncak bersama anak-anak satu sekolah.
Self Reward, First!
Salah satu teman baikku mengadu. Dia mengeluhkan betapa sulitnya ia menghafal al-qur'an. Padahal tenggat waktu untuk menyelesaikannya semakin dekat.
"Aku sama sekali enggak suka ngafalin. Kenapa kita harus ngafalin di dunia ini? Kalau bukan karena aku yang butuh, enggak akan mau aku ngafalin."
"Ngafalin itu susah. Pengen nangis terus rasanya."
"Aku benci menghafal."
Dan segala keluhan lain yang dia lontarkan. Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Dengan 'sok bijak' aku berguman, "kalau sudah mengiyakan dari awal, kenapa mengajukan diri untuk berhenti?"
Tidak, aku tidak benar-benar mengatakan itu. Aku pikir itu tidak akan membantunya. Yang saat itu kulakukan hanyalah mengusap punggungnya dan mengepalkan jari tangan yang lain dan berbisik padanya, "semangat!" dengan wajah ceria.
Satu bulan berlalu. Kabarnya sudah menyelesaikan hafalan tersebar dengan mudah, 'semudah' dia menghafalnya. Seisi kelas ramai mengucapkan selamat dan mendoakannya.
Ketika waktu istirahat tiba, aku menghampirinya.
"Selamat udah menyelesaikan hafalan buat orang yang nggak suka ngafal."
Kala itu, dia yang tertawa.
Kalimat setelah 'selamat' sebenarnya tidak bermaksud serius. Tersirat bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa untuk dilakukan. Menghafal -terutama al-qur'an- bukan soal kemampuan, tapi kemauan.
Di lain kesempatan, saat kami sedang bercakap-cakap dia menyinggung peristiwa itu.
"Kamu benar. Saat kamu mengucapkan selamat waktu itu, aku baru ingat kalau aku harusnya memberi selamat pada diriku terlebih dahulu."
Seperti halnya dia, aku yang mendengar pengakuannya juga baru menyadarinya. Aku tidak tahu kalau mengapresiasi diri sendiri itu pengaruhnya sangat besar. Selain untuk menghargai kerja keras yang kita lakukan, mengapresiasi diri juga memberikan dampak positif dan menambah energi meski saat itu tidak ada yang mau menghargai kita.
Kasus lain yang serupa tapi tak sama, adalah ketika salah satu temanku yang lain menunjukan kalau dirinya suka gaya pakaian yang abstrak. Terlihat dari celana yang tidak biasa digunakan oleh sebagian besar dari kami, caranya me-mix and match pakaian yang dia pakai, aksesoris serta benda-benda unik lain yang dimilikinya.
Kami yang pertama kali melihatnya tentu saja aneh dan tidak biasa. Namun karena kami melihatnya enjoy dan biasa saja dengan sikap aneh kami, tidak perlu debat kusir berpuluh-puluh season kami ikut-ikutan mengenal gayanya yang abstrak. Berbeda dengan orang yang sudah dinyinyir namun dia justru down. Orang-orang justru akan tambah menjatuhkannya.
Tidak mudah memang. Tapi itu kenyataannya. Semakin dipikirikan, reaksi orang akan semakin memburuk terhadap diri kita. Maka dari itu, apresiasi diri sebelum diapresiasi itu suatu keharusan.
Selain mengapresiasi, menghibur diri juga sama pentingnya.
Waktu itu terjadi kesalahpahaman yang membuat aku dan teman-temanku geram. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing masalah itu. Tapi karena faktor lingkungan yang berada di antara orang-orang yang bilang tidak suka, aku jadi ikutan tidak suka. Hingga salah satu temanku menenangkan kami semua agar mendinginkan pikiran dan melapangkan hati. Toh membicarakan orang juga tidak baik. Kami pun mengiyakan.
Hingga pada suatu hari, aku mengusulkan agar kita meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan pihak terkait. Namun kebanyakan dari teman-temanku menolak. Mereka lebih memlikih tutup telinga, tidak mau dipikirkan dan menjaga jarak dengan masalah itu. Masalahnya memang tidak 100% clear, tapi hal tersebut menutup terjadinya masalah baru. Sebenarnya solusinya sederhana. Terlalu diambil pusinglah yang membuatnya terlihat rumit.
Menghibur diri sendiri akan membuatmu lebih relaks dan lebih menghargai setiap takdir yang diberikan.
Berkaitan dengan ini, kecerdasan intrapersonal dan interpesonal sangat erat kaitannya. Bagaimana kita melihat ke dalam diri dan memandang orang lain butuh skill khusus. Setiap orang harus memiliki dua kecerdasan ini dengan porsi yang seimbang. Karena kalau berat sebelah, bisa semakin kacau.
Sekarang aku paham betul; kenapa orang-orang banyak menuarakan tentang self healing, kenapa buku-buku tentang self improvement banyak peminatnya, kenapa orang-orang terlalu sering merasa depresi hingga merasa hilang harapan dan tak jarang yang memilih mengakhiri hidupnya. Itu semua hanya satu jawabannya: Tidak perlu memperdulikan orang yang tidak memperdulikanmu.
Sebagai orang yang tidak terlalu suka konten tentang self improvement, aku sebenarnya hanya ingin berbagi cerita-cerita tadi. Orang lain memang hanya ingin pengakuan dari kita, kalau kita sebenarnya menyukai diri sendiri dan menyayangi mereka. Mulai sekarang mungkin kamu bisa mulai berlatih mencintai diri sendiri yang tidak banyak orang lain tahu tentang itu, belajar memaafkan kesalahan dan berterimakasih atas setiap hal yang menyenangkan. Ubah pola pikirmu ke arah yang lebih positif tanpa perlu merendahkan diri. Toh, derajat manusia semuanya sama di mata Allah.
Selamat merayakan dirimu dengan baru di tahun yang baru!!
The First Sun of August
How I Get A Best Night Rest
Kita sebagai manusia sangat membutuhkan istirahat. Belum lagi setelah seharian bergelut dengan seabrek pekerjaan yang enggak ada habisnya. Istirahat bisa menjadi alasan tepat untuk melepas lelah. Terutama pada malam hari. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan malam untuk manusia.
وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qashash: 73)
Sepertinya ayat di atas sudah cukup jelas. Untuk tafsir lebih lengkapnya bisa dicari di sini. Sesuai judul yang tertera, kita akan mencari tahu cara mendapatkan istirahat malam yang baik.
Manusia yang diciptakan berbeda-beda, pasti punya cara tersendiri versi mereka agar bisa istirahat dengan nyaman. Ada yang harus menyalakan lampu saat tidur, ada yang bisa tidur kapan saja asal nyenyak dan lain sebagainya tergantung kenyamanan masing-masing. Meski begitu, kita harus tetap memperhatikan do and don't-nya. Karena selain nyaman, kita juga harus bisa merasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan. Apalagi ini adalah istirahat, tidur malam, yang kurang lebih setengah dari hidup kita dihabiskan untuk ini.
Aku sebenarnya juga termasuk salah satu orang yang bisa tidur bagaimanapun keadaannya asalkan ada barang yang bisa dipeluk. Selain itu, sebelum masuk kamar aku usahakan untuk sikat gigi dan mencuci muka, tangan dan kaki. Juga tidak lupa untuk berwudhu. Karena kita tidak tahu apakah ini tidur sementara atau selamanya.
Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
Setelah urusan di kamar mandi selesai, aku beranjak ke kamar dan membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.
“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]
Beres semua, tempat tidur pun mempersilahkan kita untuk merebahkan diri di atasnya. Ritualku sebelum tidur adalah work out ringan. Hanya menggerak-gerakan kaki saja. Berikutnya baca doa. Disyariatkan untuk meruqyah diri sebelum tidur seperti membaca surat al-ikhlash, al-falaq, an-nas, dan ayat kursi. Kemudian membaca:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا
“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” [HR. Bukhari no. 6312dan Muslim no. 2711].
Setelah itu cobalah untuk menutup mata perlahan. Menghayal boleh, overthingking jangan. Tidak bisa tidur? Tidak masalah selama tidak menggunakan barang elektronik lagi. Ambillah buku yang bisa membuat mata merasa lelah. Kalau tidak bisa juga, ambillah al-quran karena ayat-ayatnya menenangkan.
Ada sedikit tambahan juga dari orangtuaku. Entah kenapa mereka selalu menggunakan heksos ketimbang kipas angin. Kalaupun menggunakan kipas angin, pasti selalu dihadapkan ke dinding. Aku tidak pernah tahu alasan pastinya sebelum akhirnya aku tahu kalau ternyata hal itu dapat menyerap cairan dalam tubuh. Sehingga tubuh akan menurun lalu kekurangan cairan bahkan dehidrasi. Kemungkinan lainnya bisa dilihat langsung di sini.
Malam tidak harus melulu dilampiaskan dengan berpikir tentang hal-hal rumit yang justru membuat kita semakin stress. Malam juga tidak harus melulu dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Malam hari adalah waktu terbaikmu.
A Lone Night
![]() |
| shout out to the pexels contributor! |
Rasa yang Pernah Ada
![]() |
Manusia diciptakan berbeda-beda ras dan suku bangsa agar mereka saling mengenal, bukan menindas. Manusia juga memiliki sifat dan watak yang berbeda agar saling memahami bukan mengintimidasi. Banyaknya perbedaan tersebut membuat dunia ini semakin berwarna. Alih-alih perdamaian, permusuhan lebih sering terjadi karena keberagaman ini. Dari orang-orang kulit putih yang sok suci, orang-orang tamak yang paling susah jinak, sampai perdebatan soal makan bubur yang lebih enak diaduk atau enggak.
Ngomongin cara makan bubur yang diperdebatkan, aku dan saudaraku bisa dibilang punya selera yang sama, sama-sama diaduk. Selain selera makan bubur, kami juga suka pedas, pecinta micin dan makanan gurih lainnya. Bedanya dia biasanya 'lebih gigih' untuk mendapatkannya ketimbang aku yang milih untuk 'apa adanya'.
Tidak perlu jauh-jauh, kalau membuat mie instan saja, semua bumbu penyedap yang ada di rumah dimasukin satu-satu ke mangkuk mienya, b*n cabe dan irisan cabai rawit juga enggak ketinggalan. Telur rebusnya juga harus pas dan kuahnya enggak boleh kurang. Sementara aku, ya, cuman pakai bumbu yang sudah disediain dari sananya dan sisa irisan cabai rawit yang kadang enggak diabisin sama dia. Belum lagi kalau aku yang harus masakin indomienya. Nyerah duluan sebelum dia sempat menjelaskan harus ada apa aja di dalam mangkuk mienya.
Apalagi, akhir-akhir ini aku sering mencoba masak sendiri untuk menekan anggaran karena suka beli makanan jadi. Karena cuman coba-coba, rasanya pun rada-rada. Dan karena rasanya yang enggak bisa disebut mencapai standar rata-rata (menurut adikku itu) enggak jarang dia marah-marah. Makanannya enggak cocok di lidah dia, kurang asin lah, ngga ada rasanya lah, dan segala macam uneg-uneg ala juri-juri masterchef yang judesnya enggak ada lawan. Padahal menurutku itu sudah cukup asin, asin banget malah. Makanya, enggak jarang kita ribut cuman gara-gara masakannya enggak cocok di lidah masing-masing.
Soal selera yang berbeda tiap orang, aku pribadi belum pernah makan menu yang sama kalau lagi makan di luar bareng orang lain. Kalaupun sama, salah satu dari kita pasti ada yang ngalah atau bingung mau makan apa. Contoh paling sering adalah ketika istirahat. Aku sering banget jajan bareng temen aku yang satu ini. Aku biasanya sering ke kantin buat beli gorengan, bakso, cilok, atau makanan berbumbu lainnya. Sementara temanku belok ke koperasi buat beli wafer, biskuit, atau makanan manis lainnya. Kantin yang sering penuh menjadi alasan lain kenapa dia selalu jajan di koperasi. Pernah juga kami pergi ke kantin bareng tapi ngidam jajanan yang beda. Dia beli jajanan seribuan kalau aku beli jajanan berat seperti seblak. Alhasil, dia harus ikut nungguin biar kami bisa makan bareng.
Kembali ke cerita awal, akhirnya aku tahu perasaan ibuku ketika masakannya yang telah dimasak sepenuh hati ternyata tidak dinikmati. Bukan karena rasanya yang enggak enak, tapi karena menunya yang enggak memikat. Sakit.
Realita 17 Tahun

Pelajar 2021

Tujuan Setelah Lulus Sekolah
"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau.
"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain"









