Welcome to The Jungle!

kemah di hutan

Berkemah di Jabal Nur adalah pengalaman yang benar-benar baru dan seru. Ada banyak kegiatan yang diselenggarakan panitia untuk mengisi jam-jam menyenangkan itu dengan beragam permainan. Seperti menangkap ikan, memasak menu makan malam sendiri, bakar jagung, dan outbound. Aku juga tidak menyangka kalau tempat yang akan kami singgahi adalah hutan yang dirapihkan sedemikian rupa baru-baru ini. Lokasinya yang berada di 
 Sukasetia, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat membuat tempat itu menjadi sangat dingin. Tempatnya juga lumayan menarik. Dari ketinggian tersebut, kami bisa melihat pemandangan Kota Tasikmalaya pada malam hari yang indahnya bisa dibilang setara dengan bintang di langit. Sayangnya langit pada waktu itu sedang mendung sehingga kita hanya bisa menikmati kelap-kelip lampu jalan di bawah sana. 

Berkemah semalaman saja tidak membuat kami merasa puas, ditambah dengan jadwal pulang yang dipercepat. Meski cuman semalam, ditambah cuaca yang tidak bersahabat sejak sore, waktu ternyata tidak memberi batas pengalaman yang akan kita rasakan asalkan kita memanfaatkannya dengan baik.  Dan karena kami berkemah di tempat terbuka, maka apapun bisa dilihat dengan mudah -bagi yang bisa melihat-.

Kelompok kami yang hanya memiliki 1 pisau terpaksa memasak lebih lama. Menu yang kami buat adalah chicken and fish fillage. Banyak yang bilang itu adalah menu elit yang seharusnya tidak dimasak saat berkemah. Beruntung kami masih bisa makan malam itu meski sudah pukul 20.45 waktu Tasik.

Kami menggelar matras di depan tenda dan makan bersama di sana. Salah satu temanku makan dengan lahap meski terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Aku yang kelaparan tidak tahu kenapa dia bertingkah demikian. Dia sempat menyuruhku untuk memperbaiki posisi duduk. Tujuannya agar menghalangi pandangan dia dari hutan yang tidak jauh dari tenda kami. Aku menyarankan diri agar berganti posisi namun dia tidak mau. Kami pun melanjutkan makan malam kami sesegera mungkin karena akan ada acara bakar jagung setelah ini.

"Aku tidak bisa berhenti dzikir sejak makan," akunya ketika kami sudah bersiap-siap untuk tidur.

Kenapa dia tidak mulai dzikir sejak kita tiba di sini?

Dan di hari-hari berikutnya dia baru bercerita kalau dia menangkap sosok yang kalian pun sudah tahu pasti apa warnanya secara umum lewat di antara pepohonan yang kebetulan aku duduk memunggungi hutan itu ketika makan. Ternyata itu alasan dia makan seperti orang yang habis kena bully.

Beberapa teman-temanku juga bercerita kalau mereka mencium aroma melati dan merasakan sesuatu yang halus berhembus melewati mereka tapi bukan angin.

Ketika aku menulis ini, waktu menunjukan pukul 00.41 waktu Banjar.

Saking semangatnya untuk kemah kali ini, kami memutuskan untuk tidak tidur cepat meski badan sudah lelah. Hingga akhirnya salah seorang guru turun (karena letak komplek tenda kami ada di bawah) untuk mengingatkan kami kalau sekarang semuanya harus segera tidur. Tidak jauh setelah sang guru naik kembali ke tempat tendanya, suara babi hutang terdengar jelas. Ketika diperiksa lagi, transhback hitam besar milik tenda paling ujung sudah jatuh dan berserakan isinya.

Mungkin ada banyak kejadian lain selain itu. Tapi malam itu tidak sepanjang yang kita kira. Fajar sudah menyingsing dan kami sudah harus melakukan aktivitas yang lain. Apalagi kalau bukan masak sarapan sendiri? Bahkan setelah itu, kami harus segera membereskan tenda agar bisa langsung pulang setelah outbound.

Dua minggu berlalu dan sekarang aku sudah berada di Banjar, Jawa Barat. Dan sekarang jam menunjukan pukul 00.50 waktu Banjar.

Agenda kami setelah outing class tersebut adalah khidmah masyarakat. Kelompok kami diamanahi untuk melakukan pengabdian pada masyarakat untuk menjalin ukhuwah dan berdakwah di Banjar. Aku juga tidak mengira kalau aku akan ditempatkan di kota yang sama sekali tidak pernah kusinggahi kecuali hanya lewat.

Kami tinggal di sebuah rumah yang disewa untuk seminggu ke depan. Letaknya di Parunglesang, yang warganya rata-rata agak asing dengan cara berpakaian kami yang hitam dan pergi bergerombol. Rumahnya cukup luas untuk ukuran sebelas orang yang isinya perempuan semua. Ada 2 kamar tidur (salah satu kamarnya kami jadikan sebagai ruang ganti dan menyimpan barang-barang kami), ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi yang luas meski bak mandinya menggunakan ember besar, dan dapur yang luas. Tidak ada perabotan berarti di rumah ini kecuali satu ranjang, rice cooker,  dispenser dan kompor satu tungku. Ada juga satu set sofa di teras. Kami sudah lumayan puas. Untuk tinggal di Kota Banjar yang panas dan rumah tanpa kipas atau AC, kami memutuskan untuk tidur di bawah beralaskan karpet dan selimut.

Satu malam di sana kami lalui dengan senang hati. Malam berikutnya kami juga mengharapkan hal serupa.

Pukul sebelas kurang lima belas menit waktu Banjar. Kami sudah bersiap-siap untuk tidur. Karena kamar yang tersedia tidak cukup luas, maka sebagian orang harus tidur di ruang tengah. Aku kebetulan kedapatan tidur di kamar. Ketika aku sedang asyik menjalajah dunia internet, suara tikus yang berlarian di atap membuat kami agak kesal sesaat karena terlalu ribut. Namun tiba-tiba 2 orang temanku yang kebagian tidur di ruang tengah memasuki kamar dengan mengendap-endap. Mereka berdiam di depan pintu menawarkan diri untuk masuk kamar. Banjar yang panas dan semua orang masuk kamar membuat ruangan ini menjadi begitu pengap.

"Ada apa?" tanyaku tidak habis pikir. Kami yang di dalam kamar sudah ingin tidur dan bisa-bisanya mereka masuk dan membuat keributan yang riuh-rendah.

"Ada yang mengetuk pintu," jawab mereka setengah berbisik.

"Tikus itu," sahut teman yang sudah merebahkan tubuhnya di sebelahku.

"Bukan," bela mereka serius. "Ini dari pintu."

Rumah ini juga memiliki halaman belakang yang belum selesai dirapikan. Kami memanfaatkan lahan itu untuk menjemur pakaian. Kebetulan, pihak yayasan di Banjar sudah membuatkan jemuran pakaian dari bambu. Sisa-sisa puing bangunan juga masih berserakan di belakang rumah. Pintu belakang terletak di ruang tengah.

Mereka berdua masih duduk berdempetan di dekat pintu. Suara gaduh dari tikus itu terdengar lagi tetapi tidak segaduh tadi. Tidak lama kemudian, sisa orang yang masih di ruang tengah ikut masuk kamar.

"Ada yang ngetuk," ujar mereka juga. Kali ini ekspresi mereka lebih meyakinkan. Apalagi mereka langusung menerobos masuk kamar tanpa memperdulikan teman yang lain yang masih di mulut pintu.

Kamar jadi ramai dengan suara riuh-rendah dan mereka langsung mengambil tempat yang cukup untuk ukuran badan mereka. Sementara teman yang sudah tidur tidak ingin bangun dan pindah posisi. Terjadilah kesepakatan sepihak kalau kami harus tidur ber 11 di dalam kamar. 

Bentuk kamar itu memanjang sehingga terasa lebih sumpek. 4 orang kebagian tidur di atas ranjang. Sisanya yang lain harus seperti ikan pindang yang dijemur tidak karuan. Panas, lelah, dan mengantuk seketika hilang setelah terdengar ada yang suara ketukan dari pintu. Yang mendengarnya berteriak histeris. Benar-benar ada yang mengetuk pintu!

Aku dan salah satu temanku mencoba keluar kamar dengan keberanian yang dipaksakan. Kami berjalan mengendap-endap, khawatir seseorang yang mengetuk pintu itu berniat jahat pada kami. Aku dan dia mengecek kamar ganti, memastikan semua jendela dan pintu terkunci, juga mematikan lampu. Lalu kembali ke kamar tanpa suara kaki juga.

Aku yang masih belum mau tidur memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku menonton Youtube. Jam terus berputar hingga waktu menunjukan pukul satu kurang lima menit. Dan samar-samar kudengar pintunya diketuk lagi. Kali ini diikuti suara dari pagar.

Dengan tenang aku mencoba membereskan barang-barangku dan merebahkan tubuh. Sudah terlalu larut. Semua orang sudah lelap. Nyata atau tidak aku hanya berharap kalau dibalik pintu itu bukan manusia jahat agar tidak terus menerus berusaha mencari cara untuk membuka pintu.

Malam berikutnya, kami tetap tidur bersebelas di dalam kamar. Kali ini posisi tidurnya harus teratur sehingga bisa tidur dengan nyaman. Di ruang tengah ada ibu-ibu dari pihak yayasan yang bersedia menemani malam kami dan tidur di rumah kami malam itu.

Dan kemanapun kamu melangkah, lalu kamu menjadi orang asing dan baru di sana, ucapkanlah

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna aari kejahatan apa yang Dia ciptakan.

.
.
.
*gambar hanya ilustrasi.
Share:

Perjalanan Ini...

Bis

Sengaja, liburan kali ini aku tidak ingin di rumah nenek. Bukan karena tidak menarik, tapi aku hanya ingin menghindari rute Tasikmalaya-Kuningan. Selain karena terlalu dekat, rutenya penuh dengan jalan berkelok yang memabukkan. Maka, aku memutuskan untuk pulang ke tempat asalku dan dengan senang hati menerima perjalanan panjang yang kira-kira menghabiskan kurang lebih 6 jam untuk sampai. Dengan catatan tebal: kalau jalanan lancar jaya.

Hari yang dinanti-nanti seluruh santri tiba. Apa lagi kalau bukan perpulangan? Ditambah lagi semuanya diantar bersama-sama menggunakan bis. Ditambah lagi bis dengan jurusan Tasikmalaya-Bogor yang akan aku tumpangi berangkat paling pagi. Tidak terlalu pagi karena bis kami berangkat setelah bis Tasikmalaya-Tangerang yang berangkat pukul setengah enam. Tidak terlalu pagi karena banyak tetek-bengek yang harus diurus namun kalau diurus semua bisa-bisa malah enggak jadi pulang.

"Tahu enggak? Bis kita pulangnya lewat jalur Puncak," ujar salah satu temanku yang memberitahu wejangan ini jauh sebelum hari H.

"Kata siapa?" Aku bertanya balik.

"Katanya sih gitu. Jadi kita pulangnya enggak akan lewat tol," jawabnya tidak memberi jawaban.

"Ah, masa? Puncak 'kan macet banget." Aku menimpali seadanya karena tidak yakin dengan kebenaran berita tersebut.

"Enggak tahu, tuh. Aneh memang." Dia menambahkan.

Dan perjalanan itu pun dimulai.

Setelah bekal masing-masing dibagikan dan doa sudah dibacakan, bis kami mulai meninggalkan Tasikmalaya.

Sebelum benar-benar pergi, salah satu penumpang yang juga sama-sama santri berseru datar.

"Pak, dompet saya ketinggalan," ucapnya di waktu yang tepat karena kebetulan bis sedang mangkir sebentar entah karena apa.

"Kok bisa?" Salah satu guru pembimbing di bis ini yang dia ajak bicara menghampiri.

"Tadi sih saya taruh di atas kasur, Pak," jawabnya.

"Ya sudah. Mau bagaimana lagi? Bisa tidak ditinggal saja? Liburannya 'kan cuman 2 minggu." Pak Guru memberi pertimbangan. Bisa dibilang tidak mungkin kalau kita harus balik lagi hanya karena sebuah dompet.

"Tapi ada KTP-nya, Pak."

"Ya ini sudah agak jauh."

"Saya ambil pakai grab, deh." Dia memberi pilihan lain.

"Lama tidak?"

"..."

Bis pun berjalan lagi. Meninggalkan Tasikmalaya dan dompet yang malang itu.

Aku dan temanku mulai bercengkrama, makan-makan, tenggelam dalam kegiatan masing-masing, tidur.
Bis memasuki Garut. Dan kami berhenti sebentar.

Perjalanan dilanjut lagi. Tak lama kemudian kami berhenti di rumah makan lagi. Kali ini sedikit lebih lama dan bertemu dengan bis-bis yang lain dengan tujuan yang berbeda.

Setelah itu jalan lagi.

Aku menikmati perjalanan ini.

Benar-benar menikmatinya.

Sangat menikmatinya.

Saking nikmatnya hingga perasaan curiga muncul. Kenapa bis ini belum masuk tol padahal aku menunggunya agar bisa tidur lebih nyaman?

Jangan-jangan kabar temanku itu bukan hoax.

Aku mencoba tidak ambil pusing sampai bis ini berkelana di Cianjur. Ada beberapa santri yang ternyata harus turun di daerah ini.Aku baru tahu kalau ternyata bis Tasikmalaya-Bogor ini tidak ditumpangi orang Bogor dan Depok saja, tapi ada orang Cianjur juga.

Setelah sempat kesasar dan orang-orang Cianjur itu bertemu orangtua mereka dengan selamat, giliran kami yang menunggu kesempatan itu datang. Jalanan masih belum mulus bahkan banyak yang rusak dan semakin berkelok juga menanjak.

Kira-kira pukul 12.15 dan kami masuk kawasan Puncak.

Ungkapan kalau Bogor kota hujan benar-benar aku percaya sekarang karena sesaat setelah masuk daerah Puncak, hujan turun membasahi jalan. Siang yang panas menjadi terasa dingin.

Puncak yang tenang dan landai dengan irama rintik hujan. Aku berharap agar kecepatan bis ini konstan sampai tiba di tujuan. Hingga Perutku mulai lapar.

Hingga tidur bukan pilihan bagus.

Hingga bokong sudah tidak bersahabat lagi.

Hingga cuaca dingin dan AC bis sudah membuat kami menjadi beku.

Hingga orang yang ingin menunaikan hajatnya agak sulit menunaikannya.

Kami benar-benar terjebak macet.

Masing-masing dari kami mulai merasa tidak nyaman. Bis yang terseret-seret ketika jalan ini tidak bisa kami harapkan.

Pukul 14.00 waktu Bogor dan jalanan di jalur puncak ini tidak juga menunjukan tanda-tanda akan lancar.

Kami hanya bisa mengeluh menahan lapar dan rasa 'tidak tahan' yang lain.

Pak guru yang baik hati berusaha menghibur seisi bis yang sedang patah hati ini. Galau karena tak kunjung sampai dan bingung karena orangtua banyak yang sudah menunggu di pemberhentian akhir.

Sebagai ganti dari keresahan ini, beliau mulai membagikan beberapa jokes.

"Apa bedanya jalan tol dan kamu?"

Seisi bis bersorak.

Silahkan bisa dijawab sendiri.

Kemudian bis kembali hening karena pak guru lebih memilih untuk menemani pak sopir.

Hari beranjak sore. Hujan tak kunjung reda dan jalan tak kunjung lancar.

Kami pun akhirnya berhenti sebentar di sebuah pusat oleh-oleh untuk sholat. Jam menunjukan pukul empat sore waktu Bogor. Hujan deras.

Setelah sholat dan melemaskan bokong, kami mulai melanjutkan perjalanan lagi. Seisi bis juga sudah sedikit mencair. Karena mau bagaimanapun perjalanan ini masih sangat panjang.

Akhirnya penantian panjang itu berujung manis karena jalan yang lancar dan landai siap menanti kami.

"Ya, anggap saja pertemuan kita di bis ini merupakan ajang silahturahmi. Dan segala sesuatu yang telah dilewati itu merupakan takdir yang sudah ditulis sebelum diciptakannya bumi dan langit. Dan yang sudah bosan dari tadi harap bersabar sedikit lagi karena kita akan segera tiba sebentar lagi," ujar beliau. Kami hanya bisa mangut-mangut.

Dan karena pak guru sudah membicarakan takdir, kami akhirnya bisa memaklumi semua ini dengan tenang. Karena memang, segala sesuatu di dunia ini sudah digariskan dan tidak akan melenceng seinchi pun. Bahkan segala yang kering, yang basah, yang jatuh atau yang akan tetap diam semuanya sudah dituliskan di lauh mahfudz.

Ngomongin takdir, aku jadi ingat kejadian baru-baru ini. Waktu itu akan ada acara pentas seni besar-besaran yang akan diadakan oleh angkatan kami. Kami meminta perwakilan dari setiap angkatan lain untuk menampilkan setidaknya satu penampilan. Mereka semua sangat antusias dan semangat menyiapkannya.

Salah satu angkatan akan menampilkan puisi berantai yang sudah mereka siapakan lebih dari 2 minggu. Tapi, karena ada satu dan lain hal, penampilan mereka yang sudah 90% siap tampil itu dibatalkan. Ya. Dibatalkan.

Sakit hati sudah tentu. Di awal mereka marah habis-habisan. Tapi untungnya, mereka bisa berlepas diri dari itu semua dengan mudah karena mereka percaya bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk tampil. Pahit. Tapi memang itu kenyataannya. Terkadang hidup akan menghidangkan asam-pahit duka yang harus bisa dirasakan dengan manisnya suka.

Kembali ke dalam bis yang sudah memasuki Tol Cibinong. Akhirnya penantian panjang dan melelahkan ini terjawab juga.

Satu per satu santri yang merupakan penumpang di dalam bis itu diturunkan satu per satu. Dan dengan berlalunya semua itu, secara tidak langsung aku sudah berlibur di Puncak bersama anak-anak satu sekolah.

Share:

Self Reward, First!

Self Improve, First!


 Salah satu teman baikku mengadu. Dia mengeluhkan betapa sulitnya ia menghafal al-qur'an. Padahal tenggat waktu untuk menyelesaikannya semakin dekat.

"Aku sama sekali enggak suka ngafalin. Kenapa kita harus ngafalin di dunia ini? Kalau bukan karena aku yang butuh, enggak akan mau aku ngafalin."

"Ngafalin itu susah. Pengen nangis terus rasanya."

"Aku benci menghafal."

Dan segala keluhan lain yang dia lontarkan. Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Dengan 'sok bijak' aku berguman, "kalau sudah mengiyakan dari awal, kenapa mengajukan diri untuk berhenti?"

Tidak, aku tidak benar-benar mengatakan itu. Aku pikir itu tidak akan membantunya. Yang saat itu kulakukan hanyalah mengusap punggungnya dan mengepalkan jari tangan yang lain dan berbisik padanya, "semangat!" dengan wajah ceria.

Satu bulan berlalu. Kabarnya sudah menyelesaikan hafalan tersebar dengan mudah, 'semudah' dia menghafalnya. Seisi kelas ramai mengucapkan selamat dan mendoakannya.

Ketika waktu istirahat tiba, aku menghampirinya.

"Selamat udah menyelesaikan hafalan buat orang yang nggak suka ngafal."

Kala itu, dia yang tertawa.

Kalimat setelah 'selamat' sebenarnya tidak bermaksud serius. Tersirat bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa untuk dilakukan. Menghafal -terutama al-qur'an- bukan soal kemampuan, tapi kemauan.

Di lain kesempatan, saat kami sedang bercakap-cakap dia menyinggung peristiwa itu.

"Kamu benar. Saat kamu mengucapkan selamat waktu itu, aku baru ingat kalau aku harusnya memberi selamat pada diriku terlebih dahulu."

Seperti halnya dia, aku yang mendengar pengakuannya juga baru menyadarinya. Aku tidak tahu kalau mengapresiasi diri sendiri itu pengaruhnya sangat besar. Selain untuk menghargai kerja keras yang kita lakukan, mengapresiasi diri juga memberikan dampak positif dan menambah energi meski saat itu tidak ada yang mau menghargai kita.

Kasus lain yang serupa tapi tak sama, adalah ketika salah satu temanku yang lain menunjukan kalau dirinya suka gaya pakaian yang abstrak. Terlihat dari celana yang tidak biasa digunakan oleh sebagian besar dari kami, caranya me-mix and match pakaian yang dia pakai, aksesoris serta benda-benda unik lain yang dimilikinya.

Kami yang pertama kali melihatnya tentu saja aneh dan tidak biasa. Namun karena kami melihatnya enjoy dan biasa saja dengan sikap aneh kami, tidak perlu debat kusir berpuluh-puluh season kami ikut-ikutan mengenal gayanya yang abstrak. Berbeda dengan orang yang sudah dinyinyir namun dia justru down. Orang-orang justru akan tambah menjatuhkannya.

Tidak mudah memang. Tapi itu kenyataannya. Semakin dipikirikan, reaksi orang akan semakin memburuk terhadap diri kita. Maka dari itu, apresiasi diri sebelum diapresiasi itu suatu keharusan.

Self Improve, First!

Selain mengapresiasi, menghibur diri juga sama pentingnya.

Waktu itu terjadi kesalahpahaman yang membuat aku dan teman-temanku geram. Aku sebenarnya tidak mau ambil pusing masalah itu. Tapi karena faktor lingkungan yang berada di antara orang-orang yang bilang tidak suka, aku jadi ikutan tidak suka. Hingga salah satu temanku menenangkan kami semua agar mendinginkan pikiran dan melapangkan hati. Toh membicarakan orang juga tidak baik. Kami pun mengiyakan.

Hingga pada suatu hari, aku mengusulkan agar kita meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan pihak terkait. Namun kebanyakan dari teman-temanku menolak. Mereka lebih memlikih tutup telinga, tidak mau dipikirkan dan menjaga jarak dengan masalah itu. Masalahnya memang tidak 100% clear, tapi hal tersebut menutup terjadinya masalah baru. Sebenarnya solusinya sederhana. Terlalu diambil pusinglah yang membuatnya terlihat rumit.

Menghibur diri sendiri akan membuatmu lebih relaks dan lebih menghargai setiap takdir yang diberikan.

Berkaitan dengan ini, kecerdasan intrapersonal dan interpesonal sangat erat kaitannya. Bagaimana kita melihat ke dalam diri dan memandang orang lain butuh skill khusus. Setiap orang harus memiliki dua kecerdasan ini dengan porsi yang seimbang. Karena kalau berat sebelah, bisa semakin kacau.

Sekarang aku paham betul; kenapa orang-orang banyak menuarakan tentang self healing, kenapa buku-buku tentang self improvement banyak peminatnya, kenapa orang-orang terlalu sering merasa depresi hingga merasa hilang harapan dan tak jarang yang memilih mengakhiri hidupnya. Itu semua hanya satu jawabannya: Tidak perlu memperdulikan orang yang tidak memperdulikanmu.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka konten tentang self improvement, aku sebenarnya hanya ingin berbagi cerita-cerita tadi. Orang lain memang hanya ingin pengakuan dari kita, kalau kita sebenarnya menyukai diri sendiri dan menyayangi mereka. Mulai sekarang mungkin kamu bisa mulai berlatih mencintai diri sendiri yang tidak banyak orang lain tahu tentang itu, belajar memaafkan kesalahan dan berterimakasih atas setiap hal yang menyenangkan. Ubah pola pikirmu ke arah yang lebih positif tanpa perlu merendahkan diri. Toh, derajat manusia semuanya sama di mata Allah.

Selamat merayakan dirimu dengan baru di tahun yang baru!!

Share:

The First Sun of August




Tidak terasa tahun 2021 berlalu begitu cepat. Di akhir pekan yang juga merupakan awal bulan ini matahari bersinar sangat terang. Senyum-senyum merekah. Banyak orang yang berharap, seperti awal bulan sebelumnya, semoga bulan ini menjadi lebih baik lagi. Corona segera menghilang tanpa bekas, dan tidak ada lagi berita duka yang datang silih berganti.

Tidak seperti bulan sebelumnya juga, aku sangat bersemangat untuk memposting artikel baru meski aku tidak tahu apa yang harus aku tulis. Minggu depan aku harus kembali bergelud dengan diri sendiri, berjuang menuntut ilmu di salah satu kota di timur Jawa Barat. Mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tidak bisa memposting satu artikel per bulannya.

Berbicara soal bulan Agustus, aku teringat salah satu orang yang lebih dicintai Allah ketimbang dia sendiri mencintainya. Allah lebih menyayanginya dibanding seluruh orang yang mengenalnya. Dan karena itu, ada banyak pertanyaan yang muncul satu per satu.

Apakah di dunia ini ada suatu benda mati atau hidup yang benar-benar milik kita? Adakah di dunia ini yang benar-benar mengatakan kalau barang ini, temuan ini, orang ini, adalah miliknya? Mungkin ada. Dia benar-benar memiliki barang itu seutuhnya. Sepenuhnya. Dia beli barang itu dengan uang hasil jerih payahnya. Tapi kemudian barang itu hilang. Dan dia sudah tidak bisa menemukannya lagi.

Ada orang pulang dengan wajah sumringah dan hati gembira karena baru saja memenangkan undian lotre. Tapi di tengah jalan orang itu bertemu dengan seorang nenek yang sakit-sakitan. Biaya rumah sakitnya setara dengan jumlah uang lotre yang dia punya. Apakah uang itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang mengatakan kalau ini temuannya. Nama hasil ciptaannya itu menggunakan nama belakangnya. Tapi setelah waktu berlalu, dia meninggal. Saat dikuburkan, temuannya diambil alih oleh rekannya. Apa barang ciptaannya itu tetap menjadi miliknya?

Ada orang yang berseru kalau wanita disebelahnya adalah miliknya. Mereka berdua sudah saling mengikat janji suci sehidup semati. Siapapun yang ingin mengambilnya harus melangkahi kuburannya dulu. Tapi wanita miliknya harus terbaring kaku dan pergi mendahuluinya. Apa wanita itu tetap menjadi miliknya?

Lalu, kalau memang sesuatu itu bukan milik kita, kenapa kita harus sedih saat sesuatu itu hilang dari genggaman kita? Bukankah di bawah kita lebih membutuhkannya dari kita? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa sudah memberitahu kalau segala sesuatu akan kembali pada-Nya? Kenapa harus menyayangkannya?

Jawabannya, karena manusia terkadang melewatkan kesempatan yang ada. Kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, kesempatan untuk mengetahui lebih luas, kesempatan untuk menyanyangi orang lebih tulus, dan yang selalu terlewatkan adalah kesempatan untuk beribadah lebih giat.

Dan semoga, di bulan Agustus ini semua kesempatan baik itu dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Apalagi, hari jadi negara ini sudah hampir di depan mata. Tahun ini, negara ini bisa merdeka dari corona!!~
Share:

How I Get A Best Night Rest




Kita sebagai manusia sangat membutuhkan istirahat. Belum lagi setelah seharian bergelut dengan seabrek pekerjaan yang enggak ada habisnya. Istirahat bisa menjadi alasan tepat untuk melepas lelah. Terutama pada malam hari. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan malam untuk manusia.

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qashash: 73)

Sepertinya ayat di atas sudah cukup jelas. Untuk tafsir lebih lengkapnya bisa dicari di sini. Sesuai judul yang tertera, kita akan mencari tahu cara mendapatkan istirahat malam yang baik.

Manusia yang diciptakan berbeda-beda, pasti punya cara tersendiri versi mereka agar bisa istirahat dengan nyaman. Ada yang harus menyalakan lampu saat tidur, ada yang bisa tidur kapan saja asal nyenyak dan lain sebagainya tergantung kenyamanan masing-masing. Meski begitu, kita harus tetap memperhatikan do and don't-nya. Karena selain nyaman, kita juga harus bisa merasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan. Apalagi ini adalah istirahat, tidur malam, yang kurang lebih setengah dari hidup kita dihabiskan untuk ini.

Aku sebenarnya juga termasuk salah satu orang yang bisa tidur bagaimanapun keadaannya asalkan ada barang yang bisa dipeluk. Selain itu, sebelum masuk kamar aku usahakan untuk sikat gigi dan mencuci muka, tangan dan kaki. Juga tidak lupa untuk berwudhu. Karena kita tidak tahu apakah ini tidur sementara atau selamanya.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Setelah urusan di kamar mandi selesai, aku beranjak ke kamar dan membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ.

“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]

Beres semua, tempat tidur pun mempersilahkan kita untuk merebahkan diri di atasnya. Ritualku sebelum tidur adalah work out ringan. Hanya menggerak-gerakan kaki saja. Berikutnya baca doa. Disyariatkan untuk meruqyah diri sebelum tidur seperti membaca surat al-ikhlash, al-falaq, an-nas, dan ayat kursi. Kemudian membaca:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” [HR. Bukhari no. 6312dan Muslim no. 2711].

Setelah itu cobalah untuk menutup mata perlahan. Menghayal boleh, overthingking jangan. Tidak bisa tidur? Tidak masalah selama tidak menggunakan barang elektronik lagi. Ambillah buku yang bisa membuat mata merasa lelah. Kalau tidak bisa juga, ambillah al-quran karena ayat-ayatnya menenangkan.

Ada sedikit tambahan juga dari orangtuaku. Entah kenapa mereka selalu menggunakan heksos ketimbang kipas angin. Kalaupun menggunakan kipas angin, pasti selalu dihadapkan ke dinding. Aku tidak pernah tahu alasan pastinya sebelum akhirnya aku tahu kalau ternyata hal itu dapat menyerap cairan dalam tubuh. Sehingga tubuh akan menurun lalu kekurangan cairan bahkan dehidrasi. Kemungkinan lainnya bisa dilihat langsung di sini.

Malam tidak harus melulu dilampiaskan dengan berpikir tentang hal-hal rumit yang justru membuat kita semakin stress. Malam juga tidak harus melulu dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Malam hari adalah waktu terbaikmu.

Selamat beristirahat!

.
.
.
Referensi:

Share:

A Lone Night

 

Lilin
shout out to the pexels contributor!

Postingan ini hanya berisi suka duka yang aku alami ketika harus sendirian di rumah.

Sendirian di rumah bukanlah hal baru bagiku. Pertama kalinya aku ditinggal sendiri di rumah seingatku waktu kelas 1 SD di bulan Ramadan. Saat itu kedua orangtuaku ingin pergi ke Tip Top untuk berbelanja keperluan rumah tangga yang sudah menjadi rutinitas bulanan keluarga kami. Setelah belanja, biasanya kami juga menghabiskan waktu untuk bersenang-senang menikmati wahana sederhana yang berada di pasar swalayan tersebut. Si bocil ini tidak diperbolehkan untuk ikut. Alasannya sederhana, ibuku tidak mau kalau aku sampai batal puasa karena kelelahan berbelanja di swalayan. Sebagai bocah kecil yang sok kuat dan sok tahu tentu aku enggak terima. Aku merengek dan memaksa ibuku agar boleh ikut. Hasilnya tetap nihil. Aku cuman bisa pasrah karena akhirnya ditinggal juga.

Dan kejadian yang masih segar diingatan adalah ketika masih kelas 6 SD. Ibuku harus dirawat inap di rumah sakit. Karena itu, Ayahku jadi jarang pulang. Karena orangtuaku anti izin-izin club, aku tidak diperbolehkan untuk ikut menginap di rumah sakit agar masih bisa masuk sekolah.

Karena terlalu sering ditinggal sendiri, aku jadi menyukainya. Sendirian berarti tidak ada yang mengganggu. Sendirian juga berarti bebas melakukan apapun yang aku mau.

Tapi 'sendirian' kali ini berbeda. Meski tidak merasa takut, aku tetap merasa tidak nyaman.

Malam itu, sekitar pukul 19.30 WIB. Adikku melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid dan tidak langsung pulang ke rumah. Ayahku sepertinya terjebak kemacetan di jalan. Sementara ibuku juga sedang tidak berada di rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan deras. Disusul suara gemuruh petir dan kilatnya yang bersahut-sahutan.

Saat itu aku sedang asyik membaca. Tiba-tiba lampu mati. Listrik padam di tengah-tengah derasnya hujan dan aku yang dibiarkan sendiri. Aku langsung bangkit dan mencari senter. Selain itu aku juga harus mengingat-ingat di mana letak lilin yang ditaruh begitu saja.

Kepanikanku tidak berhenti sampai di situ. Setelah menemukan lilin yang tinggal setengah dari ukuran aslinya, aku tidak bisa lanjut membaca. Aku takut kalau senternya mati mendadak karena aku tidak tahu kapan terakhir kali senter ini diisi daya. Namun tidak memungkinkan juga untuk main handphone. Masalahnya, sekarang hujan deras dan banyak petir. Selain itu baterainya juga sudah mulai menipis.

Tapi karena kegabutanku yang enggak tahu harus ngapain lebih besar dari pada ketakutanku yang takut handphone-nya tiba-tiba mati, aku nekat menggunakannya lagi. Aku iseng membuat status di aplikasi chat untuk meng-update keadaan aku saat ini. Setidaknya aku tidak sendiri, toh? Dan ternyata reaksi mereka semua bermacam-macam. Ada yang prihatin, menyuruhku untuk tidur, dan ada juga malah menakut-nakuti.

Di saat-saat seperti ini biasanya aku paling tidak bisa tidur. Selain karena belum ngantuk, hawa di rumah sangat panas meskipun di luar sedang hujan. Dan kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak takut kalau ada yang menyolekku dari belakang atau menahan kakiku dari bawah. Sebagai orang yang paling tidak bisa menikmati film horor, situasi seperti ini membuatku tidak pernah berpikir tentang hal-hal mistis. Yang kutakutkan saat itu cuman satu, apa yang harus aku lakukan kalau ponselnya benar-benar mati.

Beruntung, salah satu temanku mengajakku ke rumahnya setidaknya sampai salah satu dari anggota keluargaku pulang. Mati lampu kali ini benar-benar lama. Apalagi hujan tidak kunjung reda. Aku tidak tahu harus apa kalau temanku ini tidak mengajakku karena aku benar-benar bosan di tengah kegelapan malam.

Dan tidak ada yang membuatku menulis kelamnya mati lampu itu selain kegabutanku saat ini. 
Share:

Rasa yang Pernah Ada

Resep

Manusia diciptakan berbeda-beda ras dan suku bangsa agar mereka saling mengenal, bukan menindas. Manusia juga memiliki sifat dan watak yang berbeda agar saling memahami bukan mengintimidasi. Banyaknya perbedaan tersebut membuat dunia ini semakin berwarna. Alih-alih perdamaian, permusuhan lebih sering terjadi karena keberagaman ini. Dari orang-orang kulit putih yang sok suci, orang-orang tamak yang paling susah jinak, sampai perdebatan soal makan bubur yang lebih enak diaduk atau enggak.

Ngomongin cara makan bubur yang diperdebatkan, aku dan saudaraku bisa dibilang punya selera yang sama, sama-sama diaduk. Selain selera makan bubur, kami juga suka pedas, pecinta micin dan makanan gurih lainnya. Bedanya dia biasanya 'lebih gigih' untuk mendapatkannya ketimbang aku yang milih untuk 'apa adanya'. 

Tidak perlu jauh-jauh, kalau membuat mie instan saja, semua bumbu penyedap yang ada di rumah dimasukin satu-satu ke mangkuk mienya, b*n cabe dan irisan cabai rawit juga enggak ketinggalan. Telur rebusnya juga harus pas dan kuahnya enggak boleh kurang. Sementara aku, ya, cuman pakai bumbu yang sudah disediain dari sananya dan sisa irisan cabai rawit yang kadang enggak diabisin sama dia. Belum lagi kalau aku yang harus masakin indomienya. Nyerah duluan sebelum dia sempat menjelaskan harus ada apa aja di dalam mangkuk mienya.

Apalagi, akhir-akhir ini aku sering mencoba masak sendiri untuk menekan anggaran karena suka beli makanan jadi. Karena cuman coba-coba, rasanya pun rada-rada. Dan karena rasanya yang enggak bisa disebut mencapai standar rata-rata (menurut adikku itu) enggak jarang dia marah-marah. Makanannya enggak cocok di lidah dia, kurang asin lah, ngga ada rasanya lah, dan segala macam uneg-uneg ala juri-juri masterchef yang judesnya enggak ada lawan. Padahal menurutku itu sudah cukup asin, asin banget malah. Makanya, enggak jarang kita ribut cuman gara-gara masakannya enggak cocok di lidah masing-masing.

Soal selera yang berbeda tiap orang, aku pribadi belum pernah makan menu yang sama kalau lagi makan di luar bareng orang lain. Kalaupun sama, salah satu dari kita pasti ada yang ngalah atau bingung mau makan apa. Contoh paling sering adalah ketika istirahat. Aku sering banget jajan bareng temen aku yang satu ini. Aku biasanya sering ke kantin buat beli gorengan, bakso, cilok, atau makanan berbumbu lainnya. Sementara temanku belok ke koperasi buat beli wafer, biskuit, atau makanan manis lainnya. Kantin yang sering penuh menjadi alasan lain kenapa dia selalu jajan di koperasi. Pernah juga kami pergi ke kantin bareng tapi ngidam jajanan yang beda. Dia beli jajanan seribuan kalau aku beli jajanan berat seperti seblak. Alhasil, dia harus ikut nungguin biar kami bisa makan bareng.

Kembali ke cerita awal, akhirnya aku tahu perasaan ibuku ketika masakannya yang telah dimasak sepenuh hati ternyata tidak dinikmati. Bukan karena rasanya yang enggak enak, tapi karena menunya yang enggak memikat. Sakit.

Share:

Realita 17 Tahun

Kue


"Ada yang ulang tahun, nih!"

"Cie... udah 17 Tahun, ya!"

"Happy sweet seventeen!"

Bentar-bentar, emang ada apa di umur 17 tahun?

Buat sebagian orang yang merayakan ulang tahun, pasti merasa kurang kalau di umur 17 tahun ini tidak dirayakan dengan spesial. Katanya, di tahun itu adalah masa-masa transisi dari remaja menuju dewasa. Maka, tak jarang juga mereka membuat pesta meriah seperti ulang tahun yang ke 7 tahun. Ada juga yang hanya sekedar acara syukuran dan doa bersama agar remaja tanggung yang bersangkutan diberi kesehatan, rezeki, pasangan, dan jalan hidup yang lancar.

Disini aku tidak sedang membicarakan hukum merayakan ulang tahun yang memang dilarang dalam syariat Islam meski dalam bentuk apapun. Tapi membicarakan si angka 17 tahun.

Perayaan bertambahnya umur yang datang setiap tahunnya selalu jadi momen yang membahagiakan. Mereka bergembira dengan usia mereka yang semakin membesar jumlahnya. Lalu meniup lilin setelah mengaminkan harapannya. Dan lupa terhadap apa yang telah mereka lewati sebelum mencapai fase saat itu. Padahal, dibalik usia yang bertambah ada waktu kehidupan yang sudah berkurang. Artinya, entah kapan waktunya, kamu akan lebih dekat pada kematian.

Tidak bisa dipungkiri, anak kecil yang sudah paham dunia akan ingin cepat-cepat dewasa. Remaja di masanya yang masih labil selalu ingin mendapat perhatian lebih. Namun mereka tidak bisa memutar balik waktu karena menjadi dewasa tidak semenyenangkan imajinasi anak-anak.

Segala sesuatu menyimpan sisi baik dan buruk. Baiknya, di umur 17 tahun ini kamu bisa mengakses hal-hal yang sempat dilarang waktu belum cukup umur. Negara mengesahkan kamu sebagai penduduk yang terdaftar. Mereka juga menerbitkan surat izin buat yang sudah bisa mengemudi. Namun tetap dalam batasan-batasan tertentu. Karena dunia ini masih punya aturan agar bisa berjalan dengan damai.

Menjadi dewasa berarti merelakan hal-hal yang sangat kamu inginkan. Kita dituntut untuk lebih 'matang' disaat masih memerlukan asupan. Akan banyak pengorbanan yang dikerahkan dan air mata yang ditumpahkan. Semuanya hanya untuk memenuhi hasrat orang lain atas kita. Meskipun yang tua belum tentu dewasa, setidaknya dunia ini masih punya generasi setara anak-anak yang memerlukan kasih sayang orang yang lebih besar dari mereka. Dunia juga masih punya orang-orang berusia lanjut yang perlu bantuan di masa-masa mereka yang serba terbatas. Dunia ini masih berjalan.


Menjadi dewasa berarti siap berair mata


Aku yang juga masih 'mentah' diminta untuk tetap berdiri, di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam walau tanpa payung atau mantel. Itulah dunia yang realitanya tidak pernah seindah ekspetasi yang berlebihan, apalagi disamakan dengan imajinasi anak kecil.

Sebagai manusia yang sadar umurnya sedang bertambah, kita seharusnya intropeksi diri. Sudah sejauh mana kita berlari. Sudah sampai mana kita mendaki. 17 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tuntutan semakin besar, beban terus bertambah, dan segalanya akan berubah perlahan-lahan. Kita juga harus bisa mengontrol diri agar terlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang tidak mudah mendapat tekanan yang besar dari luar. Apalagi dipaksa untuk tidak mempertahankan ego sendiri. Meski kita hidup bukan untuk memuaskan makhluk lain, setidaknya kita harus paham kalau kita tetap manusia. Makhluk soisal yang butuh dan dibutuhkan makhluk lainnya.

17 tahun, sweet seventeen atau apalah namanya yang katanya masa-masa semanis susu atau lebih manis dari madu harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan membuat masa-masa indah ini menjadi suram karena patah hati yang kepanjangan, atau membuatmu terlena karena terlalu indah. Jangan sampai masa-masa ini justru membuatmu kecewa dan menyesali semua yang sudah kamu sia-siakan sendiri. Manfaatkan waktu dan jangan lupa untuk selalu bermuhasabah. Semoga hidupmu berkah.

Terimakasih.



Share:

Pelajar 2021


Belajar di Rumah

2021, virus yang memangsa manusia di seluruh dunia ini belum menunjukan tanda-tanda kepunahan. Mungkin kalau dibilang punah, dia belum sepenuhnya punah. Bisa jadi fosilnya masih mencari inang meski sudah tidak viral lagi. Tapi semoga saja itu tidak terjadi.

Dunia yang malang, ditengah kerisuhan ini harusnya ada yang bisa diambil hikmahnya. Quality time bersama keluarga misalnya, karena dengan adanya pandemi ini seluruh kegiatan yang ada di luar rumah harus dihentikan. Atau lingkungan yang semakin hari semakin bersih. Munculnya virus ini juga memunculkan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungannya.

2021, teknologi semakin canggih atau keadaan yang memaksa?

Atau mungkin aku yang ketinggalan zaman :)

Aku iseng menjalajahi website yang menyediakan banyak foto. Waktu itu aku ingin mencari gambar untuk dijadikan pelengkap di postingan blogku yang sebelumnya. Aku mulai mencari "classroom". Namun yang keluar justru orang yang duduk dengan serius di depan perangkat kerasnya. Mungkin orang-orang yang sedang duduk di kelas sudah tidak relate lagi di tahun ini.

Well, tentu ada sisi positif tanpa hal negatif. Dari semua yang negatif, sekolah di rumah menjadi salah satunya. Aku adalah siswa yang menjadi korban keganasan mata pelajaran tersulit. Karena mau bagaimanapun caranya, melihat video pelajaran tidak selalu membuatku paham. Bahkan menuntut penjelasan lagi dan lagi setiap menontonnya. Belum lagi godaan yang selalu datang tanpa mau ditunda untuk melakukannya.

                                 Daring


Ada yang satu server✋?

Jangan bangga dulu, kita ini ketinggalan!!

Kepada kamu kamu yang susah mengejar pelajaran, tarik napas. Yang dalam. Tahan sebentar, lalu buang perlahan lewat mulut, jangan lewat dubur. Ups.

Kita hanya perlu relaks. Buang kata 'tidak bisa' ini jauh-jauh. Sejauh mungkin. Sejauh yang tidak bisa kamu bayangkan akan sejauh apa. Karena kalau masih stuck dengan ini, kapan bisanya?

Selanjutnya, yang biasanya aku lakukan adalah refreshing sejenak. Sejenak ya. Bisa dengan melakukan peregangan, jalan-jalan keliling rumah, atau menonton hal-hal yang lucu. Lalu, kalau mood-nya sudah membaik, aku kembali menjajal satu-satu materi yang belum aku kuasai.

Lalu, aku biasa menelpon satu-satu teman-temanku yang sudah paham. Kalau perlu gurumu langsung. Mereka mungkin bisa lebih membantumu.

Anyway, kita mungkin bisa belajar dimana saja. Belajar di rumah mungkin bisa menjadi pengalaman baru bagi yang sudah sangat jenuh kalau setiap pagi-pagi buta berangkat ke sekolah, lalu pulang menjelang malam. Apapun kendalamu, SEMANGAT! Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran yang tidak akan pernah ada di sekolah manapun, di waktu kapanpun.
Share:

Tujuan Setelah Lulus Sekolah

Tujuan Setelah Lulus Sekolah


Jam pelajaran pertama hari itu sudah dimulai. Sang guru yang biasa kami sapa dengan sebutan ustad sudah tiba di kelas dan langsung menyampaikan materi. Pelajaran hari itu adalah Shorof, cabang dari ilmu bahasa Arab yang cukup penting. Pembelajaran berlangsung tenang dan datar. Namun, tampaknya ada hawa-hawa yang tidak beres.

Atmosfer kelas pagi itu sepertinya tidak sehangat indahnya pagi di luar sana. Sebagian warga kelas mulai suntuk. Apalagi hari ini adalah hari menjelang weekend. Entah apa yang kami lakukan selama seminggu ini hingga membuat hari ini inginnya libur saja. Beberapa ada yang masih memperhatikan sang guru. Sebagian yang lain sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun, tidak sedikit juga yang mulai tumbang.

Menyadari bahwa pelajaran tidak bisa dilanjut, sang guru akhirnya tersenyum dan bertanya tentang hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya.

"Kalian belajar untuk bekerja atau cari uang?" Tanya beliau antusias. Membuat kabut-kabut tak kasat mata yang mengudara di langit-langit kelas mengundurkan dirinya.

Aku juga ikut antusias. Ini adalah sesuatu yang kutunggu-tunggu. Beliau adalah guru favoritku. Diajarkan beliau bukan hanya sekedar memahami materi tetapi juga cara memahami hidup ini. 

Hening sejenak.

Lagi pula opsinya sama saja.

Seseorang menyahut "cari kerja Tad."

Beliau tersenyum dan bertanya lagi "buat apa kalian belajar cuman buat cari kerja?"

Menohok. Kami saling melempar pandangan bingung satu sama lain.

"Biar dapet ijazah Tad (maksudnya legalitas)," jawab seseorang.

"Ijazahnya buat dikasih ke perusahaannya Tad," tambah yang lain.

"Ijazah itu bukan syarat diterima kerja," kata beliau santai.

"Lha ustad, biasanya juga disuruh buat ngasih ijazah," protes yang lain.

 "Iya, tapi ijazah bukan syarat keterima kerja," beliau tetap menyatakan hal itu. Sementara kami tetap keukeuh kalau ijazah adalah syarat untuk lulus seleksi. Lebih tepatnya salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang diajukan perusahaan tempat melamar.

Terjadi debat hanya karena ijazah.

"Terus apa tad?" salah seorang dari kami akhirnya mengalah.

"Syaratnya 'LULUS', baru bisa diterima" jawab beliau.

Gubrak.

"Kalau kalian nggak lulus seleksi, kalian nggak akan diterima kan?" Terang beliau. "Paham?"

"Ya biar lulus harus dikasih ijazah!" Seisi kelas sewot. Heboh.

Kelulusan


 "Belajar buat cari kerja itu, salah!" Beliau menekan kata 'salah'. "Kerja ya tinggal kerja, enggak perlu sekolah. Itu yang salah dari pemikiran orang Indonesia," lanjutnya.

Kelas kembali senyap.

"Makanya, pikiran orang Indonesia enggak pernah maju. Karena pikiran mereka setelah lulus sekolah cuman satu, kerja!" Jelas beliau. "Karena itu, Indonesia dijajah. Kita udah dijajah 300 tahun lho!" Lanjutnya. Beliau kembali mengeluarkan pendapatnya, "dan sekarang, Indonesia lagi dijajah sama China."

"Tapi saya suka dijajah sama orang China," sambungnya.

Kami semua keheranan. "Kenapa ustad?"

"China adalah negara maju, jadi kita bisa ikutan maju," jawabnya.

Kami semua tertawa.

"Orang China, enggak ada yang sekolahnya tinggi-tinggi. Sudah bisa baca, bisa ngitung, mereka langsung kerja di perusahaan bapaknya, terus akhirnya punya perusahaan sendiri," jelasnya.

"Contoh lain, mereka kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Lulus dari sana mereka ngga jadi petani," tuturnya. "mereka belajar. Selesai belajar, mereka beli tanah, terus tanahnya dikerjakan orang," sambungnya lagi.

"Terus siapa yang dipekerjakan? Orang Indonesia!" terangnya.  "Nah, untuk apa kalian sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya cuman jadi pembantu?"

Semuanya diam. Mencerna apa yang beliau bicarakan.

"Masih mau cari kerja?" desaknya, lagi.

"Tapi tad." seseorang menyahut. "Kita 'kan juga butuh uang, kita juga pengen kaya,"

"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau. "Artis yang bunuh diri baru-baru ini, apa yang kurang dalam dirinya? Dia kurang cantik? Engga, dia cantik. Uangnya banyak? Jelas, 'kan dia artis. Pasangan? Dia model dan siapa pun bisa menjadi pasangannya,"
"Orang yang kaya adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup," tutur beliau.
"Lalu, apa yang membuatnya bunuh diri?" tanyanya serius. "Orang yang kaya biasanya takut dengan hartanya

Kami semua termenung. Dunia ini memang tempat segala kepalsuan tercipta. Terlihat di layar kalau dia memang cantik dan bahagia. Tapi siapa yang tahu kalau itu semua justru malah membuatnya terpuruk dan jauh dari kata senang?

Dan kita sebenarnya bukan apa-apa kalau tanpa ilmu.

"Orang yang punya sekolah ini, beliau hanya tamatan SMP. Tapi ilmunya melebihi S3. Hingga yang S2 berguru padanya," ujar beliau.

Beliau kembali mengemukakan opininya, "saya juga sebenarnya tidak setuju dengan orang yang billang 'Belajar membuka jendela dunia'."

Kami tersenyum dan menunggu penjelasannya. "Kenapa tad?"

"Iyalah, buat apa buka jendela kalau cuman ngerasain angin? Mantengin orang bawa mobil sambil berdecak sendiri  'ohh,, dia punya mobil?' ngapain??" sanggah beliau.

Seisi kelas tertawa.

"Kalian buka jendela, lihat dunia, ambil apa yang kalian butuhkan. Itu baru yang namanya belajar," urai beliau.

"Lalu ustad, tujuan kita kuliah apa dong?" celetuk seseorang.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain," jawabnya. "Kalian bodoh dalam mentasrif? Belajar sama saya!" katanya sambil menunjuk dirinya dengan nada bercanda. Membuat kami tersenyum lagi.

"Kalian belajar tuh buat ilmu! Bukan buat cari kerja! Dari ilmu itu, baru kalian bisa melalang buana keliling dunia. Syukur-syukur kalau ilmu itu bisa dibagikan secara gratis," papar beliau menutup obrolan kita hari itu.

"Kalian belajar untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain"

Jam pelajarannya belum selesai. Tapi setidaknya atmosfer kelas telah berubah. Bukan senang, tapi masih penasaran apa dan bagaimana masa depan kita nanti.

Penjelasan sang guru yang begitu jelas, singkat namun padat dan agak sedikit konyol mampu membuat kita terbius. Setidaknya untuk saat ini, mau dibawa kemana ilmu kita?
Share: